PERINGATAN !
Kalau mau membaca tulisan ini, hati anda harus tulus dan berpikiran netral !







Ingat !


Tulisan ini bukan bermakna perbandingan dan
bukan mencari kesalahan !






Fakta adanya 
Hubungan tersembunyi
antara ayat-ayat Al Quran terhadap Injil.

Maka sudah saatnya untuk mengetahui hal tersebut.






Aneh tapi nyata !
Karena di dalam Injil: "Yesus Kristus" tidak pernah mengatakan dengan gamblang bahwa :
"akulah Tuhan".

Dengan memahami ayat-ayat Mutasyaabihaat (samar-samar) di Al Quran  maka menjadi lebih mudah untuk dimengerti  bahwa sosok nabi yang berhubungan dengan Injil (yang tertulis memakai nama “Isa”) bertujuan membuktikan secara tertulis bahwa Yesus Kristus yang terlebih dahulu tertulis di dalam Injil adalah Tuhan!







Tulisan ini adalah "Fakta" yang tidak pernah berubah dan

bukan untuk diperdebatkan !

Kalau merasa berat atas penjelasan diatas.

Tinggalkanlah Blog ini !

http://hubungantersembunyi.blogspot.com 










BBB BBB BBB BBB BBB BBB

BB BBBBBBBBBBBBBBBB B


Tulisan ini memberikan penjelasan bahwa perselisihan pendapat antara umat Islam dan Kristen akibat dari kekeliruan yang bersangkutan saja.
Oleh karena itu dilema tersebut bagaikan benang kusut yang harus dicari ujung dan pangkalnya !


Jadi tulisan ini berisi cuplikan ayat-ayat tertentu
yang terdapat di Al Quran dan Injil.
Walaupun demikian maksud dari tulisan ini bukan berarti
mengada-ada atau menyama-nyamakan antara Al Quran dengan Injil !
Akan tetapi supaya pembaca mengetahui jelas adanya hubungan sejarah dari kedua kitab tersebut yang jarang diketahui.

Sehingga tulisan ini sangat penting untuk dipahami secara pribadi.




Tulisan  ini  berdasarkan  makna  yang  tersirat  
di  ayat  Al Quran  surat.12 YUSUF:111


Q.12 YUSUF : 111 yaitu;
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang
yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu,
dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.


Oleh karena itu isi dari tulisan ini terdiri dari beberapa
ayat-ayat Al Quran dan kitab sebelumnya yaitu  kitab Injil.

Jadi tulisan ini adalah fakta bukanlah dibuat-buat, dan untuk
membuktikan kebenaran dari isi yang tersirat pada ayat tersebut.




Karena pada dasarnya pendapat orang beriman dari berbagai aliran adalah baik,
yaitu: menghendaki supaya semua orang di dunia ini tidak ada yang “kafir”!
Oleh karena itu dengan dilandasi pengaruh dari keyakinannya,
maka segala upaya telah ditempuh oleh sebagian orang-orang beriman untuk melaksanakan hasil pendapatnya.

Tetapi:
Jika pendapat tersebut tidak didukung dengan pengetahuan yang lengkap, ditambah lagi sifat manusia “akulah yang paling benar”, maka orang yang bersangkutan bisa beranggapan orang lain kafir sehingga pendapat tersebut berakibat fatal bagi hubungan sesama manusia di dunia ini.


Q.69:50
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar  menjadi penyesalan
bagi orang-orang kafir (di akhirat).

Jadi:
Siapakah “orang kafir” yang akan menyesali Al Quran di akhirat ?

Jawabannya:
Karena “Allah Maha Adil” : Maka tidaklah mungkin Al Quran
akan disesali oleh orang-orang yang bukan pemegangnya.

Oleh karena itu kalau pembaca Al Quran sudah meyakini
bahwa Allah Maha Adil” tetapi belum memahami siapa yang
di katakan “kafir” di akhirat nanti seperti yang sudah tertulis
dalam ayat Al Quran di Q.69:50, maka segala ayat-ayat yang
bermakna “untuk menghukum orang kafir” sangat riskan bagi
pembacanya bahkan bisa menjadi boomerang bagi yang bersangkutan.

Dengan demikian tidak diherankan karena kekeliruan tersebut, maka ayat Al Quran  yang  bernada perintah: “untuk melenyapkan orang kafir” ditelan mentah-mentah tanpa disadarinya, kemudian terjadilah eksekusi” diri sendiri (bom bunuh diri) yang artinya dirinya sendiri juga ikiut dilenyapkannya .

Itulah salah satu misteri penyebab terjadinya
“Bom bunuh diri” sampai dengan hari ini,
akibat dari ayat yang berbunyi: "bunuhlah orang kafir!"



Bacalah tulisan ini sampai tuntas dan dicermati dengan pikiran “NETRAL”.






Sebagian dari ayat-ayat Al Quran mengandung makna

"Hubungan tersembunyi" terhadap Injil.



Mengapa disebut "kafir" kalau orang mengatakan
"Al Masih Isa putera Maryam" adalah Tuhan ?
Hal itu bertujuan agar pembaca tidak tersesat oleh "nama" tersebut.
Sebab tokoh pembawa Injil yang diceriterakan dalam Al Quran
hanyalah figur "anak manusia" yang suci saja.
.
Karena Allah Maha Tahu bahwa sejak awal Injil beredar bahkan sampai dengan hari ini
"nama asli" dari tokoh utama yang tertulis di dalamnya kurang berkenan bagi hampir
semua orang Yahudi dizaman itu kemudian orang mu'min / Islam sampai sekarang.
.

"Bacaan umum tentang akhirat"
Bacaan ini ringan tetapi sungguh berat bagi mereka yang "tinggi hati".
Bacaan ini memberikan penjelasan bahwa pertentangan antara Al Quran dan Injil dikarenakan kekeliruan dalam pikiran manusia serta pengaruh gangguan ghaib yang jahat !
Bacaan ini memberikan penjelasan bahwa ayat-ayat Al Quran yang bermakna peringatan tentang akhirat akibat menyangkal Tuhanmu "Yang menguasai hari pembalasan"
.


Tulisan ini adalah "Fakta" yang tidak pernah berubah dan

bukan untuk diperdebatkan !


_________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________




Tulisan ini merupakan hal biasa yaitu membahas
hubungan antara ayat-ayat Al Quran terhadap Injil.
Tetapi maknanya supaya pembaca berpikir kembali bahwa
nasib masing-masing pribadi kelak di akhirat merupakan
hasil pilihan semasa hidupnya.

.1113d












Misteri adalah sesuatu yang masih belum diketahui, “suatu saat” misteri itu bisa terungkap!

.
Al Quran surat 38. SHAAD : 88 yaitu; Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi.


Ayat diatas sudah tertulis ribuan tahun yang lalu, sehingga sudah dibaca dari generasi kegenerasi turun temurun.
Oleh karena itu ayat tersebut mengisyaratkan bahwa kebenaran dari isi  Al Quran belum diketahui bagi pembacanya.
Itulah bukti bahwa isi dari surat 38.SHAAD : 88 merupakan sebuah alasan kuat bahwa kitab Al Quran memang isinya harus “dikaji” dengan tujuan untuk mendapatkan kesimpulan yang bermakna positip  dari hasil “pengkaji-an” tersebut, jadi jelas bukan sekedar dilafalkan saja !

Kalau hal itu tidak dicermati dengan baik maka dapat berakibat fatal yaitu hanya "pembenaran diri" yang timbul bagi setiap pembaca Al Quran, karena sifat dasar dari manusia tanpa terkecuali pada umumnya egois yaitu "akulah yang paling benar !"
Akibatnya dapat menyalahkan pendapat para pembaca kitab-kitab terdahulu, bahkan kitab-kitab terdahulupun ikut disangkal / difitnah palsu dengan berbagai macam alasan !

.Tulisan ini hanya memberikan penjelasan akan inti permasalahan yang menimbulkan "perdebatan panjang" dari generasi ke-generasi yaitu masalah antara Al Quran dan Injil !


Oleh karena itu blog ini hanya bertujuan agar pembaca mengerti:
Siapa Yesus Kristus dalam Injil ?
Siapa Isa Al Masih dalam Al Quran ?

Kalau pembaca sudah memahaminya maka tidak akan lagi memperdebatkan antara Al Quran dan Injil.


Walaupun kisah kehidupan Yesus Kristus telah berlalu dan kisahNya hanya tinggal sejarah yang tertulis dalam "kitab Injil". Maka siapakah Yesus Kristus sesungguhNya ?
Dan yang lebih penting lagi kita harus tahu siapa “Dia” / Yesus Kristus sekarang dan nanti !
Sebab di dalam kitab Injil hanya kisah tentang kehidupan Yesus Kristus diwaktu hadir ke dunia sebagai "Anak Manusia utuh tanpa dosa", sehingga sulit untuk memahami siapa “Dia” yang sesungguhNya.

PEMBAHASAN:

Mengapa nama "Yesus Kristus" dalam Qur'an berubah menjadi Isa?
Kalau Isa sama dengan Yesus, mengapa di dalam Al Quran tidak satupun ayat yang menyebut lagi bahwa nabi Isa akan datang kembali kedunia untuk mengumpulkan semua manusia diakhir zaman ?, seperti tertulis di Injil Matius 25:31-32.
Dalam Injil tertulis posisi / status Yesus Kristus sebagai "Anak Manusia" diakhir zaman
mempunyai wewenang akan mengumpulkan semua orang tanpa terkecuali untuk diadili.


Akan tetapi (600 tahun kemudian setelah Injil) hanya kitab Hadits saja yang menegaskan lagi hal tersebut hanya saja memakai nama Isa Almasih (yang akan datang diakhir zaman) , dimana nama tersebut dalam Al Quran dikenal sebagai nabi "pembawa Injil".


Oleh karena sebelum ada Al Quran dimana nama Yesus Kristus sudah dikenal
tertulis di Injil, maka para pembaca Al Quran tidak salah dengan "anggapan"
bahwa nabi pembawa Injil bernama  Isa Al Masih” adalah "Yesus Kristus !"


Dengan demikian bahwa nama "Isa" dalam Al Quran hanyalah merupakan figur dari tokoh utama yang tertulis di Injil, yaitu sosok "Anak Manusia" yang bernama asli Yesus Kristus.

Sedangkan "wewenang diakhir zaman" Al Quran tidak menulis kembali posisi/status dari figur nama tersebut sebagai "Anak Manusia" seperti layaknya tertulis di Injil Matius 25:31-32.
Akan tetapi dengan jelas di dalam Al Quran hal tersebut sudah berubah dengan tujuan menghimbau semua orang mu'min / Islam di seluruh dunia agar jangan lagi beranggapan bahwa Yesus Kristsus adalah "Anak Manusia" melainkan, Katakanlah: "Tuhan kita" akan mengumpulkan kita semua (Q.34:26).


Injil Matius 25:31-32
31; Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaanNya......
32; Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapanNya.........

Setelah 600 tahun kemudian kitab Al Quran menegaskan kembali hal itu, tetapi tidak lagi menyebut sosok “Anak manusia” ataupun namaNya melainkan tertulis dengan
nada menghimbau agar menyebut  status dari wewenangNya saja.

Q,34:26 ; Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua......

Jadi jelas bahwa : “Anak manusia” di Injil  = “Tuhan kita” di Al Quran !


Oleh karena itu kalau kita mengkaji Al Quran dan membaca kitab Hadits disertai membaca “Injil Kristus” dengan teliti dan benar, maka akan didapati keterangan yang lebih jelas tentang sosok nama “Isa” yang  ditegaskan di dalama Al Quran sebagai  seorang nabi pembawa Injil, dan yang dikatakan oleh rasul Muhammad di dalam Hadits bahwa “diakhir zaman Isa seorang  nabi pembawa Injil  akan datang kembali ke dunia”.

Maka jelas secara tersamar dari awalnya Al Quran mendukung / menegakan "kebenaran" Injil yang memang "sudah benar", bahwa "Dia" Yesus Kristus (pembawa berita gembira/Injil) sesungguhnya adalah Tuhan sendiri / "Ruh Allah" yang pernah hidup menjelma dalam wujud sebagai "Anak Manusia" (600 tahun sebelum Al Quran ada / tersirat di Q19:17), dan sekarang telah kembali ke-asalNya Sorga. Oleh karena sejarah telah mencatat hal tersebut, maka sampai hari inipun manusia ada yang percaya adapula yang menyangkal / kafir.
Jadi tidak heran karena dalam sejarah kehidupan di bumi “sosok Tuhan” pernah dilihat oleh manusia maka “sosokTuhan” tersebut diperdebatkan dari generasi ke-generasi, dan oleh karena “sosok Allah” tidak pernah terlihat manusia maka “Allah” tidak akan pernah diperdebatkan !


Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa sejak awal ayat tersebut (Q.34:26) diturunkan merupakan sebuah penegasan tersamar bagi orang mu'min / Islam yang sudah pernah membaca atau mendengarkan berita “Injil Kristus” supaya berpikir bahwa kalau nanti diakhir zaman "Anak Manusia" Yesus Kristus seperti tertulis di Injil jadi datang kembali kedunia ini, maka semua orang mu'min / Islam dan semua orang tanpa terkecuali disaat itu (hari kiamat) harus mengakui  dengan mengatakan bahwa:  "Yesus Kristus itu adalah Tuhan !"
Sebab "Dialah" yang mengumpulkan kita semua !
Jadi apakah saat ini kita sanggup mengatakan “Yesus Tuhan” seperti Allah sarankan di Q.34:26?


Oleh karena itulah tujuan Al Quran diturunkan dizaman itu untuk memberikan penjelasan kembali kepada pembacanya secara tersamar agar mengerti bahwa sosok “Anak manusia” yang tertulis di Injil sesungguhnya adalah “Tuhanmu!”, itulah sebabnya Q.34:26 isinya bermakna sebuah himbauan :  Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua !
(Dengan tujuan untuk memisahkan manusia antara golongan kiri dan kanan /Matius 25:33 & tersirat di Q.90:17-19)
(Hal itu tidak akan bisa dimengerti kalau tidak membaca “Injil Kristus”).

Ket: Itulah sebabnya begitu pentingnya Al Quran diturunkan setelah Injil beredar di jazira arab, sebab tanpa Al Quran semua orang awam yang “berpikiran kritis” akan sulit untuk membuktikan secara tertulis bahwa Yesus Kristus (di Injil) adalah Tuhan!


Karena sampai dengan hari ini belum juga tiba hari kiamat !
Maka semua orang mu'min / Islam sampai hari inipun terserah mau percaya atau tidak (tanpa paksaan) kepada Tuhan Yesus Kristus yang akan datang kembali diakhir zaman.

Akan tetapi bagi mereka yang semasa hidupnya menyangkal sosok Tuhan yang akan “mengumpulkan kita” maka di dalam Al Quran itu sendiri Allah pun memberikan gambaran hukuman ("ayat peringatan")  yang merupakan konsekuensi akibat dari penyangkalan tersebut .
( Hal tersebut tidak akan bisa dimengerti kalau tidak membaca Injil dengan benar >penjabaran dibawah).

Itulah bukti dalam Al Quran segala kesimpulan dari hasil “pengkajian” terserah bagi si-pembacanya tanpa paksaan, oleh karena itu masuk Islam-pun tidak ada paksaan !

Akan tetapi kita harus ingat bahwa orang berIman harus mengimani adanya "hari kiamat !"
Dengan demikian kalau semua orang mu'min / Islam yang sedang mengkaji Al Quran telah membaca atau mendengarkan berita Injil Kristus dan menyimaknya dengan benar sehingga dapat menyadari adanya hubungan ayat Injil dengan ayat tersebut dalam Al Quran yang bermakna himbauan : Q.34:26 (Katakanlah: "Tuhan kita)


Ket: Bahwa sebagian dari ayat-ayat Al Quran yang diawali dengan
suku kata himbauan” pasti secara tersamar sedikitnya makna dari isi ayat tersebut berhubungan / menyinggung tentang Injil Kristus, oleh karena itu ayat tersebut secara tersamar menghimbau pembaca agar memperhatikan makna yang tersirat di dalamnya. Hal inilah yang tidak disadari bagi semua pembaca Al Quran karena tidak memahaminya, apalagi  bagi  yang tidak pernah membaca Injil Kristus dengan tulus.

Contoh beberapa ayat yang diawali dengan  kata-kata himbauna : Q.3:55> “Ingatlah”, Q.23:29> “berdo’alah”,  Q.5:68 - Q.34:26> “Katakanlah” dan lainnya(Penjabaran dibawah)


Maka dapat dipastikan sejak awal Al Quran diturunkan kalau saja semua orang mengkajinya dengan teliti dan disertai membaca Injil, dengan demikian apa yang selalu "diperselisihkan" tentang keTuhanan Yesus Kristus seharusnya sudah selesai !
.
Jadi kalau merujuk kepada kitab Injil maka bisa disimpulkan ayat Q.34:26 bermakna :
"Sudah basi" kalau orang masih beranggapan Yesus Kristus bukan Tuhan !
.
Oleh karena itu sekarang ini keraguan tentang Tuhan Yesus Kristus di Injil tidak perlu timbul kalau kita meyakini Al Quran adalah Firman Allah !
Karena Allah sudah berpesan dengan kalimat; Katakanlah: "Tuhan kita!"
"Tuhan kita" artinya Tuhan milik semua orang yang percaya kepadaNya !

Dengan demikian jelas status Yesus waktu ada di dunia nyata “Dia” 100% manusia, dan setelah “Dia” bangkit dari antara orang mati, (600 tahun kemudian) Al Quran  dalam ayatnya menegaskan kembali bahwa “Anak Manusia” yang tertulis di Injil ternyata 100% Tuhan (katakanlah Tuhan kita / Q34:26).
Jadi pikiran kita “janganlah terpaku” pada status Yesus Kristus dalam gambaran Isa Putera Maryam saja, yang memang disaat dahulu berada di dunia hanya figur  seorang manusia biasa !

Hal diatas tidak akan kita ketahui bahkan sulit sekali kalau kita terlebih dahulu tidak membaca Taurat dan Injil dengan hati yang tulus dan disertai dengan hikmat Allah.

Dengan membaca Injil Kristus maka kita akan lebih mudah dalam hal mengkaji Al Quran untuk mengambil kesimpulan-kesimpulan apa maksud dari ayat-ayat yang ada di dalamnya, dan dengan catatan bukan untuk mencari perbandingan atau kesalahan Injil terhadap Al Quran!
Dan disaat membaca Al Quran pun harus dengan akal yang dilandasi dengan pikiran "netral" serta kembali kepada fitrah diri masing-masing pembaca.
Sedangkan himbauan untuk membaca kitab Taurat dan Injil-pun sudah tertulis di
Al Quran surat 5. AL MAAIDAH:68


Q.5:68
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.


Keterangan :
-Jelas bahwa Kitab itu berbentuk buku yang isinya tulisan, berarti untuk menegakkan ajaran-    ajaran yang ada di dalamnya maka harus dibaca.
Semua "Ahli Kitab saja dihimbau untuk membaca Injil apalagi orang awam!
- Pada kalimat akhir (Q.5:68); karena “Allah Maha Adil” maka tidaklah mungkin Al Quran   membuat  "mereka orang-orang yang bukan pemegangnya" menjadi “durhaka ataupun  kafir”.

Perlu dipahami disini: Ayat tersebut Q.5:68 sejak awal diturunkan dizaman itu tetap berlaku hingga kini, dan maknanya jelas ditujukan untuk kaum Yahudi yang hanya membaca Taurat saja, dan kaum yang lainnya termasuk kita yang hanya membaca Al Quran !, sehingga makna dalam ayat tersebut menghimbau agar membaca Injil jangan dilupakan.

Jadi himbauan tersebut bukan untuk kaum Nasrani / Kristen, sebab mereka orang Kristen sebelum ada Al Quran sampai kini selalu membaca Taurat dan Injil yang disebut "Al Kitab !"  Karena Al Quran untuk umat manusia di dunia maka himbauan di ayat tersebut ditujukan untuk semua orang yang berarti: “Supaya dipandang beragama maka bacalah kitabnya orang Kristen!”


Dengan demikian kita keliru mengatakan orang Kristen “Ahli Kitab”, hal itu tergolong fitnah.

Dan jika ada umat mu’min menjelek-jelekan isi dari AlKitab hal itu sama saja menjelekkan Kitabnya sendiri, sebab ada tertulis di Q.43:4 yaitu; bahwa Al Quran dalam induk AlKitab.



Pada ayat tersebut (Q.5:68) dalam bahasa aslinya memang tidak ada tertulis suku kata "Al Quran", kalau sebagian kitab terjemahan ada tertulis suku kata "Al Quran", hal itu tidak masuk akal karena akan menimbulkan pertanyaan: Al Quran yang mana lagi? Sebab yang kita baca sudah kitab Al Quran  yang membuat pembaca tahu akan anjuran / perintah tersebut untuk membaca "Taurat dan Injil".

Oleh karena itu Al Quran yang sudah diterjemahkan dalam bahasa apapun selalu disertai text aslinya (Arab), dengan tujuan untuk mengklarifikasi segala kebenaran ataupun kesalahan / kekeliruan dari hasil terjemahan, supaya cepat cek ulang terhadap text aslinya !

Contoh ayat pada kitab Al Quran "terbitan/cetakan tertentu" yang diterjemahkan tidak sesuai lagi dengan text aslinya (Arab).


Contoh pada surat 1. AL FAATIHAH:7
Q.1 ayat 7 : (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugrahkan ni' mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi), dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani).


Ayat diatas jelas bahwa suku kata di dalam kurung yaitu; suku kata "Yahudi" "Nasrani" tidak terdapat pada text aslinya.
Hal inilah yang sangat riskan apabila di baca oleh seseorang, sehingga dapat menimbulkan fitnah bahkan bisa mengganggu hubungan sesama manusia yang berbeda keyakinan !

Sedangkan kita tahu bahwa "Yahudi" disebut-sebut dalam Al Quran adalah "Bani Israil", dengan demikian sekalipun pembaca membenarkan kekeliruan pada Q.1:7 tersebut, maka hal itupun menjadikan suatu yang bertentangan dengan Q.2.AL BAQARAH:47.


Q.2 ayat 47, yaitu; Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingat pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.

.
Jadi kalau kita mendapati ayat-ayat dari terbitan kitab Al Quran terjemahan yang isinya sudah bertentangan antara ayat-ayat yang lain, maka hal itupun tidak perlu diherankan, sebab Allah Maha Tahu, sehingga dalam ayat Al Quran yang merupakan perkataan Allah sudah memprediksikan kemungkinan kelak yang terjadi terhadap kekeliruan atau ada unsur kesengajaan yang di lakukan manusia tertentu baik sadar maupun tidak sadar dengan tujuan supaya terjadi pertentangan di dalamnya.

Oleh karena itu surat 4. AN NISAA' ayat 82, memberikan "peringatan" kepada mereka pembaca Al Quran agar berhati-hati kalau mendapati Al Quran yang ayat-ayatnya bertentangan, sebab hal itu dapat membingungkan karena nara sumbernya sudah bukan lagi dari sisi Allah seperti "aslinya!".



Q.4.ayat 82, yaitu; Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.


Makna yang tersirat di dalam ayat Q.4:82,  yaitu ; siapa yang dimaksud “nara sumber” yang ber-ada di “sisis Allah” ? ( baca selanjutnya, penjabaran dibawah).

Sekali lagi diingatkan: Kalimat terakhir pada Q.5:68 supaya pembaca berpikir siapa yang menjadi durhaka dan kafir setelah Al Quran diturunkan?, sebab pembaca sudah tahu bahwa "Allah Maha Adil", jadi tidaklah mungkin orang-orang yang tidak membaca / tidak tahu menahu tentang Al Quran menjadi durhaka dan kafir !
.
Oleh karena itu kalau tidak membaca kitab Taurat dan Injil (Alkitab) maka tidak heran kalau pembaca Al Quran dari generasi kegenerasi mengakibatkan  bertambahnya orang-orang yang melakukan kesalahan/kekeliruan sehingga menghujat Yesus Kristus atau paling tidak menyangkal Yesus Kristus Tuhan.

Ironisnya hal itu terjadi hingga sampai pada hari ini, walaupun Yesus Kristus tidak pernah terlihat oleh semua orang dan tidak pernah berhutang kepada setiap orang, tetapi mengapa hampir sebagian orang mu'min yang membaca Al Quran dengan sengaja dan terbuka telah menghujat Yesus Kristus ?
Dengan demikian orang yang bersangkutan menjadi durhaka dan menyangkal atau menjadi kafir terhadap keberadaan Yesus Kristus yang tertulis di Injil !

Jadi mengapa hujatan hanya kepada nama "Yesus Kristus" saja yang tertulis di Alkitab, walaupun ada nama-nama nabi yang lainnya, seperti nabi kaum Yahudi yaitu "Musa" ?
Jadi ada pengaruh apa dengan "nama tersebut"???
.
Oleh karena itu kalau tidak membaca kitab Injil Kristus maka para pembaca tidak memahami bahwa kisah nabi Isa yang tertulis di dalam Al Quran hanya figure sosok manusia biasa saja tentang Yesus Kristus.

Oleh karena itulah hampir semua para pembaca Qur’an menjadi keliru sehingga terpaku dengan nama "Isa saja !", akibatnya beranggapan total bahwa sosok dengan nama Yesus Kristus di Injil sama dengan Isa Al Masih yang tertulis di Al Quran yaitu hanya seorang manusia biasa saja yang tidak lain hanya seorang nabi !

Dengan demikian orang yang bersangkutan karena sudah terlebih dahulu tertanam dibenaknya bahwa Isa manusia biasa, dan bila kemudian hari yang bersangkutan membaca Injil Kristus maka pikiran orang tersebut bisa beranggapan bahwa kisah Yesus Kristus di dalam Injil seakan menzalimi kisah nabi-nabi yang lainnya telah berdosa.

Walaupun kenyataannya jelas bahwa manusia Yesus Kristus saat berada di dunia hanya "Dia" yang tidak berdosa, karena diciptakan bukan dari "proses peranakan" seperti layaknya manusia biasa yang terjadi dari pembuahan benih manusia yang ada di bumi !


Dengan demikian jelas barang siapa yang menuduh "Dia" hasil dari hubungan manusia maka orang tersebut disebut "kafir kepadaNya" (tersamar di Q.4:156), oleh karena "Dia" / Yesus Kristus tidak ada Bapa duniawi maka tidak heran kalau "Dia" selalu berkata : "BapaKu yang disorga !"

Contoh perkataan yang pernah dikatakan Yesus Kristus pada saat berada di alam zhahir/nyata:


Injil Yohanes 3:13, yaitu; Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Injil Yohanes 6:38, yaitu; Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.

Injil Yohanes 14:31 , Tetapi supaya dunia tahu, bahwa Aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepadaKu, ...


Oleh karena pengakuan dari anak manusia Yesus sendiri bahwa kedatanganNya ke dunia diutus oleh Bapa yang di sorga dan kebangkitanNya dari antara orang mati untuk kembali keasalNya sorga, oleh karena bukti itulah maka "Dia" disebut "anak Allah yang tunggal" (contoh: seorang pemuda dari kota Jakarta datang ke kota Surabaya, maka pemuda tersebut disebut "anak Jakarta", jadi jelas bukan berarti kota Jakarta melahirkan anak tersebut, melainkan anak tersebut datang dari Jakarta !), hanya sebatas bukti itu (masuk logika) maka kita sebagai manusia bisa mengetahui alasan terhadap sebutan status "Dia" / Yesus pada saat datang ke dunia dizaman itu, yaitu; mulai dari tempat asalNya kemudian kehadiranNya di dunia sampai kembali ke-asalNya lagi !

Jadi  oleh karena "Anak Manusia Yesus Kristus" waktu hadir di dunia hanya "Dia" saja satu-satunya manusia (diantara manusia yang sudah ada) yang datang / berasal dari Allah , maka "Dia" disebutnya "Anak Allah yang tunggal !". Jadi kita harus membedakan arti kalimat: Allah mempunyai anak” dengan “anak yang datang / berasal dari Allah”. Dengan demikian jelas Yesus Kristus adalah wujud nyata yang mempunyai / berhubungan dengan unsur  “Kekekalan dan Hidup”.
Sebutan tersebut tidak berlebihan dan tidak melampaui batas terhadap Allah Yang Maha Tahu!

Oleh sebab itu kalau kita perhatikan semua nabi (laki-laki) selalu jelas asal usulnya yaitu dengan menggunakan kata "bin" yang mengacu kepada ayahnya, dengan demikian seharusnya kalau Isa dalam Al Quran (figur Yesus) hanya seorang manusia biasa saja maka seharusnya memakai keterangan "bin" ayahnya. Akan tetapi keterangan tersebut tidak ada, hal itu menunjukan bahwa "Dia" bukan manusia pada umumnya, sebab lain halnya dengan "Adam" walaupun manusia pertama yang diciptakan Allah tanpa bapa duniawi, tetapi Yesus diciptakan "bukan dari tanah !". Oleh karena itu Al Quran menegaskan kembali "dengan gamblang" kisah kehadiran sosok nabi pembawa Injil yaitu Isa putera Maryam seorang laki-laki suci jelmaan dari Ruh Allah sendiri, tersirat di Q.19:17-19.

Jadi jelas "Dia" (Yesus Kristus) bukanlah manusia biasa, seperti pengakuanNya.
Oleh karena itu "Dia" (Yesus Kristus) dalam pesannya mengajarkan kepada manusia agar menyebut bahwa Allah Sang Haliq adalah "Bapa yang ada di sorga".

Ketidak tahuan itulah yang menyebabkan para pembaca Al Quran berpikiran bahwa orang nasrani salah karena menyebut Yesus Kristus "Anak Allah" dan "memper-tuhankan manusia", kekeliruan itulah membuat pikiran mereka pembaca Al Quran beranggapan: kalau "Allah mempunyai anak" berarti Allah mempunyai Istri !, maka dengan demikian para pembaca Al Quran merasa tidak perlu lagi untuk membaca Injil karena beranggapan bisa menjadi sesat !, sehingga membuat pembaca Al Quran selamanya tidak akan tahu alasannya, seperti penjabaran diatas.

Kekeliruan itu bisa dibuktikan yaitu, walaupun pembaca tidak mengakui Yesus Kristus Tuhan, berarti para pembaca Quran berpandangan bahwa Yesus hanya seorang nabi saja seperti layaknya nabi-nabi yang lain,  ironisnya mengapa juga tidak ada satupun para pembaca Al Quran yang menyebut "nabi Yesus ?" (Itulah bukti memang setelah “Dia” bangkit tidak lazim nama “Yesus Kristus” disebut nabi !).

Itulah bukti para pembaca terpaku pada nama samaran (Isa) tersebut sehingga tidak mau mengakui kenyataan sejarah dari kitab terdahulu tentang nama asli yang tertulis di Injil.
Jadi sampai saat ini timbulnya perdebatan tentang status Yesus Kristus disebabkan para pembaca Al Quran memaksakan bahwa Yesus adalah Isa, sedangkan di dalam Al Quran tidak ada satu ayatpun tertulis NAMA asli "Yesus Kristus".

Bahkan di dalam Al Quran pun tidak ada ayat yang menegaskan bahwa nama "Isa" adalah Yesus Kristus atau dengan penekanan kalimat "Isa alias Yesus !".
Hal itu suatu bukti bahwa Al Quran hanya memberikan gambaran : bahwa nabi pembawa Injil adalah anak Maryam yang bernama "Isa" !


Jadi kesimpulannya kalau nabi Isa sekedar disamakan dengan Yesus di Injil hal itu boleh-boleh saja, karena di Al Quran tertulis bahwa Isa dengan Injilnya.
Akan tetapi nama asli "Yesus Kristus" secara hakiki tidak bisa disamakan dengan Isa Almasih, sebab hanya dalam Nama asliNya yaitu "Yesus Kristus" ada kuasa "di alam ruh", yang mana Nama tersebut ditakuti oleh kuasa jahat / syaitan sehingga dibenci oleh syaitan dkk !


Oleh karena "Allah Maha Tahu" bahwa sampai kapanpun nama "Yesus Kristus" yang terlebih dahulu tertulis di Injil akan dibenci orang tanpa ada sebabnya.
Maka dizaman itu Al Quran menggunakan nama samaran tersebut yaitu "Isa Almasih", yang merupakan figur dari sifat kemanusia-an Yesus Kristus yang ada di Injil.

Oleh karena itulah nama tersebut di dalam Al Quran menceriterakan seorang nabi yang hanya sosok ibunya saja yang diketahui secara zhahir, maka hal tersebut dipertegas dengan kalimat : "namanya Isa putera Maryam !"
Hal itu bertujuan untuk menghindari anti pati pembaca terhadap nama asliNya di Injil.

Walaupun maksud dan tujuan tersebut adalah baik, akan tetapi semua tergantung dari orang yang membacanya, sebab kalau orang yang membaca / mengkaji Al Quran tidak teliti dan hati-hati,
maka Al Quran bisa menjadi "bumerang" terhadap Injil, hal itulah yang menyebabkan kedurhakaan para pembaca karena bisa memfitnah / menghujat kitab Injil termasuk tokoh yang ada di kitab suci tersebut ! (tersirat di Q.5:68 kalimat terakhir).


Ket: Dimana nama asli dari seseorang pasti tidak  akan pernah berubah bunyinya walaupun ditulis dalam bahasa apapun!, apalagi orang tersebut sudah meninggalkan dunia nyata / alam zhahir.
Jadi menyangkut nama seseorang tidak dapat diterjemahkan kedalam suatu bahasa !

Oleh karena itu janganlah mengada-ada dengan alibi bahwa nama Yesus Kristus adalah dalam bahasa Ibrani atau Yunani dll, sebab siapapun orangnya apabila dilahirkan dalam sebuah daerah/Negara maka nama asli” orang tersebut  tidak akan  "drastis"  berubah bunyinya sekalipun dia  merantau ke ujung dunia, begitu pula jika orang tersebut kelak ditulis kembali sejarah kehidupannya maka namanya  tidak lazim diganti.
(Kecuali: Untuk suku kata "Al Masih"  bisa berubah karena bukan nama orang tetapi nama "gelar" seperti "Imanuel”).
Contoh: Rasul Muhammad lebih dari 1000 tahun sampai sekarang namanya tidak berubah ! 


Oleh karena Allah Maha Tahu bahwa setelah Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati  kemudian terangkat (kembali) kesorga, maka nama tersebut tidak lazim lagi disebut nabi, dengan demikian Al Quran untuk menjelaskan kembali kisah para nabi dengan kitabnya masing-masing, maka untuk menceritakan sosok nama nabi pembawa Injil saja yang  tidak lagi ditulis dengan menggunakan nama aslinya seperti nama-nama nabi yang lainnya.

Jadi jelas karena bukan nama asli “Yesus”, maka kepada "Nama" yang ber-"Hak" atas WewenangNya tidak akan keliru!, dengan demikian apa yang tertulis di dalam Al Quran tentang ceritera nabi dengan nama Isa Al Masih tidak akan mungkin sama dengan "kisah Yesus Kristus" !
Sehingga kisah nama "nabi Isa" di dalam Al Quran tidak melampaui batas atas wewenang terhadap sosok nama Yesus Kristus seperti kisahNya yang tertulis di Injil !


Oleh karena itulah di dalam Al Quran salah satu ayat tentang kisah penciptaan terhadap sosok dengan nama "Isa" ditegaskan dengan kata "misal".  (tersirat di Q3.ALI'IMRAN :59)



Q.3:59,yaitu: Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.
.
Jadi jelas karena semua orang yang membaca Al Quran tidak pernah mau membaca Injil, dan jika dikemudian hari orang yang bersangkutan membaca Injil dengan tulus maka sesudah itu berarti orang tersebut telah mendapatkan "ilmu pengetahuan" tentang nama tokoh asli yang tertulis di dalamnya adalah "Yesus Kristus".

Dengan demikian orang tersebut akan tahu sehingga harus membenarkan dan bisa membedakan apa yang diketahuinya tentang "kisah Isa" di dalam Al Quran dan apa yang diketahuinya tentang "kisah Yesus" di dalam Injil, jadi yang bersangkutan akan memahami
siapa "Isa" di dalam Al Quran dan siapa "Yesus" di dalam Injil.
Maka pembaca Al Quran pun tidak boleh mendustai kenyataan tersebut, tersirat di Q.3:61



Q.3:61, yaitu: Siapa yang membantahmu tentang kisah 'Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): "Mari kita memanggil anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian mari kita bermubahala kepada Allah dan kita minta supaya la'nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.


Ayat diatas (Q.3:61) menegaskan secara tersamar bahwa yang dimaksud “ilmu” adalah kitab Injil yang telah dibaca, hal itu jelas sebab semua orang mu’min / Islam berpedoman pada kitab Al Quran, dimana sejak lahir bahkan sampai dewasa yang bersangkutan tidak akan mungkin membaca Injil !

Dengan demikian "kisah Isa di Al Quran" sudah lebih dahulu diketahuinya, kemudian apabila yang bersangkutan melaksanakan himbauan membaca Injil (tersirat di Q.5:68) maka yang bersangkutan sesudah itu ("sesudah datang ilmu") menjadi tahu sehingga yakin bahwa kisah Isa di Al Quran hanyalah kisah sekilas dari sosok nabi pembawa Injil yang merupakan figur Yesus Kristus dari sudut pandang manusia biasa saja, bukan dari sudut pandang “Ke’Illahian Yesus Kristus” yang sesungguhnya seperti tertulis secara rinci di dalam kitab Injil !

Jadi tentang ilmu pengetahuan itulah yang tidak boleh didustai bagi orang mu'min yang sudah tahu isi kitab "Injil dengan benar !" dan bagi mu'min yang belum tahu karena tidak membaca Injil lebih baik jangan membantah , oleh karena itu apabila terjadi perbantahan diantara sesama mu'min tentang hal tersebut, maka lebih baik bermubahala yaitu masing-masing pihak saling berdo'a kepada Allah Yang Maha Tahu agar la'nat Allah ditimpakankan kepada orang yang dusta !

Dengan demikian jelas bahwa yang dianjurkan bermubahala adalah sesama mu'min yang diantaranya ada yang pernah membaca "Injil Kristus" sehingga membuat yang bersangkutan sudah mendapatkan "ilmu pengetahuan" tentang tokoh asli pembawa Injil dengan rinci.

Karena semua orang mu'min / Islam di anjurkan membaca Taurat dan Injil, hal itupun baru akan diketahui kalau mereka / mu'min mau membaca / mengkaji / meneliti ayat-ayat Al Quran di dalamnya ! (Q.5:68).

Jadi jelas dalam ayat tersebut (Q.3:61) dari awal diturunkan dizaman itu bukan kaum nasrani yang diajak bermubahala, karena mereka tidak tahu menahu tentang kisah "Isa" sebab mereka nasrani tidak membaca Al Quran, maka apa yang mau dibantah kalau mereka nasrani tidak tahu !, karena dalam kitab Injil yang mereka baca tidak ada himbauan untuk membaca Al Quran.

Contoh salah satu ayat Al Quran yang didustai pembacanya jika mengacu pada kenyataan nama asli yang tertulis di Injil, yaitu Q.19-17-19.

Ingat !
Tulisan ini bukan ditinjau hanya dari satu sisi saja !
Karena dasar dari tulisan ini untuk menjelaskan bahwa
Al Quran membenarkan kitab sebelumnya yaitu kitab Injil
(tersirat di Q.12:111) .


Coba kita teliti kenyataan dari ayat tersebut, walaupun sudah jelas dan nyata di dalam Al Quran (Q19:17-19)  ditegaskan dengan gamblang  bahwa Isa Al Masih sosok nabi pembawa Injil  yang tidak lain menjurus kepada Yesus Kristus adalah “jelmaan” dari  Roh Allah sendiri yang artinya sudah jelas bahwa “Dia” merupakan gambaran Allah yang pernah dilihat / hidup bersama manusia dizamannya, tetapi hampir semua para pembaca Al Quran tetap saja tidak mau mengakui / menyangkal hal itu, dengan demikian pendapat tersebut tanpa sadar bisa berarti meragukan kemampuan "Allah Yang Maha Segalanya" untuk menjelma sebagai apa yang dikehendakiNya.


Ket: 

Jadi kenyataan sampai hari ini perdebatan “Siapa Tuhanmu?” tidak diherankan sebab:  Ada yang percaya dan adapula yang  tidak percaya
bahwa sosok Tuhandalam sejarah kehidupan pernah dilihat oleh manusia,
maka Tuhan selalu menjadi bahan  perdebatan !
Oleh karena sejarah mencatat bahwa sosok Allah tidak pernah terlihat manusia
maka Allah tidak pernah diperdebatkan karena tidak beralasan !

Perdebatan tentang "Tuhan" terjadi  karena yang bersangkutan
 tidak memahami disaat membaca sejarah masing-masing kitab tentang "Sang Haliq",
sehingga sulit membedakan tentang gambaran "Allah Sang Haliq" dari sudut
pandang yang Zhahir atau yang Bathin" ? Yaitu:
gambaran "Sang Haliq" dari sudut pandang "Zhahir" disebut "Tuhan"
sedangkan dari sudut pandang "Bathin" disebut "Allah".
Kalau pembaca sudah memahami makna penjabaran tersebut, maka hal itu bisa dibuktikan karena sudah tersirat di dalam kitab Al Quran.
Oleh karena itu pemahaman tentang  sebutan bagi “Sang Haliq” bisa  merupakan satu kesatuan :Tuhan adalah Allah adalah Tuhan !


Dengan demikian jika menyangkut sosok nabi pembawa Injil yang sesungguhnya  pasti  para pembaca Al Quran mendustai kenyataan dari makna yang hakiki pada ayat tersebut (Q.19:17-19) yang mendukung / menegakkan kebenaran Injil bahwa sosok manusia Yesus Kristus yang pernah hadir dalam sejarah kehidupan manusia adalah gambaran Allah yang sejati, yang ditinjau dari sudut pandang “Zhahir”!

Oleh karena itu kalau dizaman sekarang ada kaum Kristen membantah "tentang Isa" di Al Quran berarti kebodohan yang bersangkutan karena tidak tahu duduk persoalan dasar "tentang siapa Isa dan siapa Yesus !".

Jadi jelas karena di Al Quran dikisahkan nabi pembawa Injil dengan memakai "nama Isa" dan bukan memakai nama Asli seperti tertulis di Injil yaitu "nama Yesus Kristus", dengan demikian nama Isa tersebut adalah samaran, oleh karena itulah jelas semua ayat-ayat tentang nabi Isa bersifat samar-samar atau disebut "Mutasyaabihaat".
Oleh karena itu namaNya yang Maha Agung di dalam Al Quran sesungguhnya tersembunyi.



Kesimpul dengan adanya perubahan nama
Yesus menjadi Isa, maka menjadi :
Dilema dari generasi ke generasi !

Sehingga menjadi suatu alasan mengapa tokoh Injil di  Al Quran harus tertulis dengan memakai nama :Isa Al Masih ?
Sebab  disaat Al Quran diturunkan bahkan sampai hari ini
memang nama : Yesus Kristus
yang terlebih dahulu tertulis di Injil tidak lazim lagi disebut nabi !

Oleh karena itu Al Quran untuk menceritakan kembali sejarah masing-masing nabi dengan kitabnya,  maka tokoh Injil di  Al Quran memang harus memakai  nama samaran yaitu : Isa putera Maryam !”

Disebut “nama samaran” karena  nama asli  seseorang tidak dapat diterjemahkan bahkan tidak akan drastis berubah bunyinya walau ditulis dengan bahasa apapun !

Dengan demikian semua ayat-ayat tentang “nabi Isa” tergolong
samara-samar atau disebut ayat Mutasyaabihaat”, dimana jenis ayat tersebut
jika tidak diteliti dengan mendalam maka bisa menimbulkan fitnah (Q.3:7).

Karena Al Quran diturunkan (600 tahun setelah Injil beredar) dimana cerita tokoh Injil tidak tertulis dengan  nama asli (Yesus), jadi mulai disaat itu status “Yesus Kristus” diperselisihkan  oleh orang yang hanya membaca Al Quran saja tanpa diteliti sambil membaca Injil Kristus (Q.43:63).

Hal itu yang tidak dipahami oleh hampir semua orang tanpa terkecuali.
Akibatnya menjadi sebuah dilema dari generasi ke generasi, sehingga sulit memahami makna tujuan dari  Al Quran yaitu secara tersamar untuk menegakkan kebenaran terhadap kitab sebelumnya / Injil ! (Q.12:111).

Jadi bagi orang yangtinggi hatisulit membuktikan Yesus adalah Tuhan
Sebab di dalam Injilpun Yesus tidak pernah mengatakanakulah Tuhan !

Tetapi mereka yang sudah meneliti Al Quran dan Injil dengan benar dapat menyimpulkan bahwa: Tanpa Al Quran memang sulit untuk membuktikan secara tertulis bahwa Yesus Kristus (dalam Injil) adalah Tuhan!



Jadi kita harus hati-hati dengan ayat Mutasyaabihaat sebab Al Quran surat 3 ALI 'IMRAN:7 sudah memberikan rambu-rambu bahwa setiap pembaca Al Quran yang dalam hatinya condong kepada kesesatan maka mereka akan mengikuti ayat Mutasyaabihaat dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah.

Oleh karena itu "Misteri ayat Mutasyaabihaat" tidak bisa terungkap kalau sekedar dibaca tanpa menggunakan akal yaitu menguasai "Ilmu Pengetahuan" kitab-kitab terdahulu / sebelumnya.
.

Q.3 ALI'IMRAN:7
Dia-lah yang menurunkan Kitab Al Quran kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapaun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.


Contoh ayat "mutasyaabihaat" yang dapat menimbulkan finah jika tidak dikaji atau diselidiki dengan mendalam, yaitu; ayat tentang penyaliban (Q.4:156-157).

Walaupun pembaca AlQuran sudah membaca Injil Kristus maka tetap saja memfitnah Yesus Kristus tidak disalib !

Hal itu disebabkan pembaca tidak menyimak dengan benar Q.4:156-157 sehingga tidak sadar dalam ayat tersebut menunjukan dengan jelas isinya: "karena ucapan mereka" sehingga ceriteranya hanya “bagi mereka saja yang kafir terhadap Isa !

Jadi jelas dalam ayat di Q.4:156-157, ditekankan bahwa suku kata "mereka" menjelaskan adalah orang yang kafir terhadap 'Isa !
Dizaman itu bahkan sampai sekarang, semua orang mu'min apalagi orang Kristen /Nasrani tidak ada yang menuduh Maryam dengan keji (zina), dengan demikian jelas bahwa yang menuduh dengan keji (zina) dizaman itu adalah orang-orang yang terpengaruh Yahudi yang kafir terhadap 'Isa.

Jika kita sudah teliti membacanya dari ayat 156 kemudian masih berlanjut dengan ayat 157, maka jelas tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu ayat  Al Quran menerangkan kembali dengan tegas bahwa: "mereka" tidak yakin yang dibunuh adalah 'Isa (ujung ayat 157),  hal itu disebabkan “mereka” dasarnya / awalnya sudah "kafir kepada Isa / nabi pembawa Injil !" ( yang sudah jelas tertulis diawal ayat 156).

Oleh karena itu dalam ayat 157 sudah ditekankan dengan kesimpulan bahwa:
“padahal ucapan diserupakan dengan Isa” hanya bagi mereka, jadi bukan bagi Allah Yang Maha Tahu !


Coba kita perhatikan ayat-ayat yang menyinggung tentang penyaliban, Q.4:156-157.


Q.4:156 ; Dan karena kekafiran mereka (terhadap 'Isa), dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina), (tanda koma indikasi masih adanya hubungan kuat dengan ayat berikutnya )

Q.4:157 ; dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, 'Isa putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) 'Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu, Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti perasangka belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah 'Isa.



Jadi jelas karena peristiwa penyaliban (kisah nyata kehidupan Yesus Kristus) sudah
terjadi 600 tahun yang lalu, maka isi dari ayat 157sangat masuk akal karena isinya hanya menceritakan pendapat "minoritas mereka yang percaya" dan  "mayoritas mereka yang menyangkal".

Oleh karena itu pembaca harus “hati-hatidalam mengambil kesimpulan terhadap isi ayat 157, karena isi ayat tersebut "bukan menyatakan nabi Isa tidak disalib!"

Kalaupun pembaca sudah mengetahui bahwa "Isa" adalah figur dari "Yesus Kristus" dan kemudian menyatakan pula nabi Isa tidak disalib berarti pembaca ikut terpengaruh isi ayat  tersebut yaitu ucapan orang Yahudi yang kafir terhadap "Isa" seperti yang  tertulis  di dalamnya (Q.4;157), akibatnya pembacapun menjadi ikut-ikutan menyatakan "Yesus Kristus"  tidak disalib walaupun nama Yesus tidak terdapat di Al Quran.
Dengan demikian orang tersebut termasuk orang yang mendustakan salah satu ayat Al Quran, tersirat di Q.69:49

Kalaupun pembaca menyatakan "nabi Isa disalib" hal itupun menjadi serba salah  (karena ayat 157 isinya hanya gambaran pengakuan dari "  Yahudi yang percaya" bukan dari saksi hidup),  sebab Al Quran bukan kisah nyata kehidupan nabi pembawa Injil !

Yang lebih tepat lagi bahwa Allah Maha Tahu jadi kepada nama "yang Hak" yaitu kepada nama  Yesus Kristus yang sesungguhnya kisah penyaliban hanya tertulis di Injil, karena peristiwa tersebut  sudah terjadi sebelum ada Al Quran.

Hal itulah yang membuat semua orang Mu'min sulit untuk mengambil kesimpulan yang pasti tentang "siapa yang disalib", kemudian yang menjadi akar permasalahannya yaitu semua ayat-ayat yang menyinggung nabi pembawa Injil tertulis  bukan memakai  "nama asli" maka bersifat samar-samar yang disebut "mutasyaabihaat" sehingga sangat rawan bisa menimbulkan  "fitnah"  terhadap peristiwa penyaliban  Yesus Kristus  yang telah terjadi sebelum Al Quran diturunkan. (tersirat di Q.3:7).


Oleh karena itu masalah penyaliban menjadi sebuah "dilema dari generasi ke generasi" bagi semua orang yang hanya membaca Al Quran saja tanpa dikaji sambil membaca  Injil Kristus.
Jadi supaya perdebatan tentang penyaliban tidak terjadi lagi, maka kita harus tahu secara hakiki  "siapa Yesus Kristus di Injil?" dan  "siapa Isa Almasih di Al Quran?".

Sebab walaupun kedua nama tersebut untuk satu tokoh yang sama karena masing-masing menyinggung tentang Injil
, tetapi "Kharisma" dari masing-masing nama tersebut berbeda!
Karena penjelasan tentang penyaliban terbagi dalam 2 ayat /156-157 , sehingga sekarang ini  orang yang membaca tidak teliti akan mudah terlena di ayat 157 !
Maka akibatnya menjadi keliru sehingga ikut menyangkal sejarah peristiwa penyaliban Yesus Kristus yang tertulis di Injil, 600 tahun sebelum ada Al Quran!

Ingat !
Disaat ayat tersebut diturunkan (Q4:156-157) hanya rasul Muhammad seorang diri saja yang pertama menerimanya, jadi dalam ayat tersebut tergambar bahwa yang kafir kepada "Isa"   (nabi pembawa Injil) adalah orang-orang Yahudi yang asal usulnya kafir kepada Yesus Kristus, dan juga  yang percaya kepada "Isa" yaitu orang-orang Yahudi yang asal usulnya percaya kepada Yesus Kristus.

Dengan demikian disaat itu belum ada kelompok Islam pemegang syariat karena belum terdapat kitab Hadits, tetapi dizaman itu yang ada kelompok Mu'min yaitu kelompok orang-orang yang  berserah total kepada Allah dan masih  "berpikiran netral" tidak berpihak kepada Nasrani  (percaya kepada Yesus) dan tidak pula berpihak kepada Yahudi yang kafir kepada Yesus.

Oleh karena itu sejak awal dizaman itu ayat Al Quran yang menyinggung masalah penyaliban hanya bertujuan supaya dipahami oleh setiap pribadi orang yang "berpikiran netral" / "orang Mu'min", agar mengambil kesimpulan dari hasil  "pengkajian" yang mana yang benar tentang peristiwa penyaliban dimasa silam.
Karena semua adalah sejarah masa lampau maka Al Quran-pun menjelaskan bahwa sejarah  peristiwa penyaliban masih juga diperselisihkan oleh orang-orangYahudi saja, yaitu antara Yahudi yang percaya  vs Yahudi yang  kafir terhadap Yesus Kristus.

Itulah makna dari isi Al Quran yaitu memberi hak kebebasan memilih bagi setipa orang dari generasi ke generasi, sehingga terserah mau percaya yang mana untuk diyakini.

Oleh karena itu Al Quran disebut “Kitab yang Sempurna”, sebab siapapun juga yang membaca / mengkaji akan mempengaruhi  “ hasil kesimpulan pribadi ”  terhadap penilaian isi  kitab terdahulu / Injil, setelah membandingkan dengan ayat  Al Quran yang diyakininya.                                                                               Sehingga  apapun hasil pilihan pribadinya (untuk percaya ataupun menyangkal akan kebenaran Injil ) menjadi sempurna karena tanpa paksaan.
Jadi tidak heran kalau seseorang setelah  “mengkaji Al Quran”  ada yang menyangkal dan ada pula yang mengakui akan kebenaran isi kitab Injil. 
Akan tetapi dapat dipastikan hampir semua orang setelah membaca Al Quran pasti akan menyangkal bahwa  Yesus Kristus bukan Tuhan, hal itu akibat terpengaruh penjelasan bahwa nabi pembawa Injil adalah hanya manusia biasa saja!
Sehingga pembacanya lupa kalau manusia biasa setelah ajal pasti jasadnya masih ada di bumi !
Dengan demikian sesungguhnya bagi orang yang berpikiran masih netral / orang Mu'min, masalah Isa (nabi pembawa Injil / figur Yesus) telah disalibkan ataupun tidak disalibkan hal itu tidak ada untungnya bagi yang bersangkutan karena tidak membaca  Injil !
Oleh karena itu peristiwa penyaliban Yesus Kristus di Injil mengapa harus diperdebatkan


Di Ingatkan sekali lagi!

Al Quran diturunkan pertama hanya kepada rasul Muhammad agar diberitakan kepada para pengikutnya dengan tujuan supaya tahu duduk persoalan peristiwa penyaliban yang sudah terjadi 600 tahun yang silam.
Bahwa sejak awal dizaman itu sebelum ada Al Quran hanya orang-orang Yahudi saja yang memperselisihkan tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu !
Yaitu keturunan Yahudi yang percaya kepada Yesus mengatakan: "Sesungguhnya kami telah membunuh", sedangkan keturunan Yahudi yang kafir kepada Yesus mereka mengatakan  "diserupai". Itulah makna yang hakiki dari isi Al Quran surat 4:157

Jadi  sampai saat ini kalau masih ada orang memperdebatkan masalah penyaliban setelah membaca Al Quran, maka isi pikiran orang tersebut bisa diterka: Apakah orang tersebut  termasuk mendukung / pro terhadap ucapan Yahudi  " yang percaya terhadapYesus / Isa" atau orang tersebut termasuk mendukung / pro kepada ucapan Yahudi  "yang kafir kepada  Yesus / Isa".

Hal ini yang harus disadari !

Jadi jelas Al Quran tidak bertentangan dengan Injil dalam hal penyaliban yang telah terjadi dimasa lalu.
Dimana kitab Injil merupakan kisah nyata tentang peristiwa penyaliban Yesus Kristus  (yaitu nama asli tokoh yang disalib) dan kitab Al Quran (Q.4:157) isinya menjelaskan bahwa: kisah nyata tentang peristiwa penyaliban terhadap "tokoh asli" nabi pembawa Injil yang sudah  terjadi 600 tahun yang lalu masih diperdebatkan antara "mereka yang percaya dan disangkal oleh mereka yang kafir" terhadap tokoh asli  yang disalib !

Jadi kalau sekarang peristiwa penyaliban Yesus Kristus masih juga disangkal oleh sebagian orang mu'min, penyebabnya adalah hanya pikiran pribadi yang bersangkutan saja, karena sudah di dasari adanya unsur yaitu: antipati atau penolakan bahkan ada rasa kebencian tanpa ada sebabnya terhadap nama asli tokoh yang disalib, yaitu nama: Yesus Kristus.

Sehingga tanpa sadar maupun sadar menjadi ikut-ikutan tidak mau mengakui  bahwa  Yesus Kristus telah disalib !



Harus di pahami! 
Ket:
Suku kata Mereka dalam ayat tersebut (Q.4:157) menggambarkan orang-orang  di zaman itu  adalah (minoritas) keturuna yahudi yang percaya dan ada pula (mayoritas) yang  menyangkal / kafir.
Sedangkan mereka yang percaya adalah mayoritas dari keturunan (saksi hidup) yahudi yang berasal dari Nazaret, sehingga disebut kaum Nasrani”.

Jadi sebutan Nasrani”: untuk kaum yang percaya Yesus “Kristus dijazira arab di zaman itu yang menyangkut  dengan nama daerah "Nazaret".
(Kaum "Nasrani" pertama dikenal sebagai penentang adat istiadat Yahudi dimasa itu)

Mengapa sekarang kaum Nasrani siapaun orangnya di seluruh dunia  disebut Kristen  apapun  kelompoknya?
Sebab mereka adalah orang-orang "pengikut" ajaran Yesus “Kristus sehingga disebut  Kristen apapun kelompoknya.

Hal itupun sudah di jelaskan secara tersamar dalam Al Quran, Q. 3:55  yaitu  pengikut Isa  (nabi pembawa Injil), jadi tidak lain adalah orang-orang yang mengikuti   Yesus hingga hari kiamat.

Jadi sejak ayat tersebut
 (Q.3:55) diturunkan, maka tidak layak lagi kalau sekarang orang  "Kristen" masih disebut "Nasrani", karena mereka bukan keturunan dari "Nazaret". 


Oleh karena itu sebutan "Nasrani" hanya untuk di wilayah jazira arab dizaman itu saja!

Jadi tidak diherankan kalau sampai hari ini hampir semua orang Mu'min / Islam  masih ada yang menyebut kaum Kristen adalah "Nasrani", sebab mereka tidak pernah membaca  Injil  sehingga tidak tahu asal usul dari sebutan suku kata: "Nasrani"!

Oleh karena itu di  Al Quran surat 3:55  pengikut Isa tidak ditulis “Nasrani”, secara tidak langsung menegaskan bahwa: nabi Isa  yang tidak lain adalah Yesus Kristus yaitu untuk semua orang suku bangsa di seluruh dunia yang mau percaya kepadaNya (sampai hari kiamat).

Jadi jelas kalau kita mengatakan: Yesus Kristus untuk orang Kristen saja, hal itu keliru!

Q.3:55
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai 'Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".




Dengan demikian tidak diherankan kalau di dalam Al Quran para pembaca dihimbau untuk membaca Injil ! Supaya tahu duduk persoalan yang sesungguhnya
(tersirat di Q.5:68)
Oleh karena itu terjadinya pertentangan sudut pandang penyaliban akibat dari ketidak telitian dalam mengkaji, karena tujuan akhirnya sama ? : kisah di Injil Lukas 24:51; bahwa Yesus naik ke Sorga! dan cerita di Al Quran; (Q.4:158) Isa diangkat Allah!

Jadi tidak heran pula kalau para pembaca Al Quran yang tidak teliti dan tidak membaca Injil, akan mudah terlena pada saat membaca ayat 157 di surat 4 !, sehingga ikut berpendapat bahwa “nabi pembawa Injil tidak disalib tetapi diserupai”.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa nabi pembawa Injil diangkat Allah supaya tidak disalibkan!
Ironisnya tidak ada satupun ayat dalam Al Quran yang menegaskan bahwa :
Allah mengangkat “Isa” untuk menghindari dari penyaliban !


Walaupun jawaban akhirnya sama bahwa Yesus Kristus kembali ke Allah di Sorga!
Timbul pertanyaan: Untuk apa Yesus Kristus hadir ke dunia kalau hanya kembali lagi?

Disinilah kita harus paham dan teliti dimana Al Quran menekankan bahwa “Isa dengan Injilnya!”, artinya bahwa manusia Isa (figure Yesus) waktu hadir ke dunia untuk memberitakan “kabar gembira” yang disebut “Injil kerajaan Allah kepada semua orang di wilayah itu dan dizaman itu,  kemudian Dia berpesan supaya Injil diberitakan keseluruh dunia bagi semua orang sampai sekarang bahkan hingga akhir zaman tiba, supaya orang yang telah mendengar dan percaya maka orang tersebut akan selamat!

Jadi dari mulai Yesus bangkit yaitu 600 tahun sebelum ada Al Quran sampai sekarang apabila orang telah mendengarkan berita Injil kemudian percaya maka orang tersebut akan selamat karena terhindar dari alam kubur / penyiksaan azab kubur!
Itulah sebabnya Injil Kristus disebut Injil keselamatan.

Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana nasib orang-orang sebelum zaman Yesus ?

Itulah sebabnya Yesus Kristus harus mati di kayu salib sebagai manusia kemudian dikuburkan dan pada hari yang ketiga Dia bangkit dari antara orang mati !

Hal itulah yang tidak disadari oleh orang Mu’min (karena tidak baca Injil) dimana selama Dia berada di alam kubur Dia turun ke “alam maut / azab kubur / penyiksaan” untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang-orang mati yang dahulu pernah hidup di dunia (dizaman Nuh), tetulis di Al Kitab, 1PETRUS 3:18-19.

Itulah bukti Allah Maha Pengasih” kepada umatNya dari dulu hingga kini, bahwa kehadiran Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia yang percaya kepadaNya, di dunia nyata dan manusia yang sudah dahuluan berada di dunia orang mati / alam maut !

Kalaupun anda sudah membaca Al Kitab, dalam ayat tersebut tidak dijelaskan orang-orang tersebut apakah keluar dari “alam penyiksaan” setelah mendengarkan berita Injil.

Kalau kita meng’Imani adanya “azab kubur”  maka kita harus mengakui bahwa Yesus sebagai manusia harus mati  dengan tujuan turun ke alam kubur untuk memberitakan “Injil keselamatan”, maka "disaat itu" mereka yang sedang mengalami azab setelah mendengar tawaran keselamatan dari Yesus dapat dipastikan bahwa orang-orang tersebut akan mengikuti Yesus keluar dari tempat itu, sejak itu mereka tidak ada lagi di alam maut.

Oleh karena itu Al Quran diturunkan setelah Injil untuk membenarkan apa yang tertulis di  1PETRUS 3:18-19  pernah terjadi, yaitu Al Quran  memberikan hasil gambaran bahwa di “alam maut”  sudah kosong dari orang-orang zaman dahulu. Tersirat di Q.38:62.


Q.38:62;  Dan (orang-orang durhaka)  berkata: “Mengapa kami tidak melihat orang-
orang yang dahulu  (di dunia) kami anggap sebagai  orang-orang  yang  jahat  (hina).


Jadi kalau anda tidak membaca Injil dengan benar maka tidak akan tahu dasar alasan mengapa di Q.38:62 tertulis bahwa orang- orang dahulu sudah tidak ada lagi ?
Itulah bukti kebenaran salah satu pengakuanIman rasuli” Kristen: Bahwa Yesus telah turun ke “Alam maut” untuk menyelamatkan orang-orang ‘dizaman Nuh’ yang ditawan.

Jadi Al Quran merupakan penyempurna jawaban bagi yang kurang yakin atas kejadian dahulu.

Dan kalau anda membaca Al Quran dengan tetiti disertai baca Injil dengan didasari hati yang tulus, maka anda akan tahu bahwa Al Quran memberikan kebebasan kepada pembacanya untuk memilih ayat mana yang anda yakini, semua terserah pada pemikiran anda yang membacanya.

Salah satu contoh ayat yang merupakan pelajara yang harus dipilih yang mana yang benar dan yang mana yang salah, yaitu ayat tentang nabi Isa (figur nabi pembawa Injil / Yesus) Q.19:33-34 terhadap ayat di Q.4:156-157. Ayat-ayat tersebut jika asal dibaca tanpa dikaji dengan mendalam, maka ayat-ayat tersebut bisa saling bertentangan! Akan tetapi pembaca supaya memilih apakah percaya kepada ucapan orang kafir (di Q.4:156-157) atau percaya kepada pengakuan yang bersangkutan (pengakuan Isa tersirat di Q.19:33-34).


Yang lebih penting lagi ayat Al Quran yang menyinggung tentang peristiwa penyaliban dimasa silam terhadap “nabi pembawa Injil” yaitu: bahwa ayat (Q.4:156-157) tersebut diturunkan dengan tujuan "memberikan Peringatan" kepada semua pengikut rasul Muhammad (dari pengikut yang pertama sampai dengan hari ini) agar jangan sampai tertipu oleh "karena ucapan mereka" yang kafir terhadap Isa / nabi pembawa Injil /  yang tidak lain adalah kafir terhadap Yesus Kristus !


Yang perlu diketahui: bahwa semua orang yang percaya Yesus Kristus adalah Tuhan karena memandangnya setelah Dia bangkit.
Dengan demikian kalau orang tidak percaya bahwa Yesus Kristus telah mati di kayu salib dan dikuburkan, maka jelas tidak akan mungkin percaya Yesus Kristus telah bangkit dari kuburNya, karena mati saja tidak apalagi dikuburkan kemudian bangkit !

Untuk lebih jelas tentang sudut pandang penyaliban, lihat penjabaran di nara sumber:
http://siapayangdisalib.blogspot.com/   &   http://filmthemessiah.blogspot.com


Kalau anda sudah memahami penjabaran diatas, maka tidaklah mungkin memperdebatkan soal penyaliban. Sebab pemahaman akan makna isi ayat di Q.4:156-157 merupakan “kunci awal percaya atau tidak” terhadap isi dari pada Injil kristus !



Ringkasan / kesimpulan tentang kisah penyaliban di Al Quran.


Jadi sungguh jelas isi Al Quran surat 4 ayat 157 dan 156, dalam ayat tersebut hanya ada dua kubu yaitu yang percaya dan yang kafir, sedangkan pembaca (kaum Mu’min) diluar kubu tersebut sehingga jelas pada posisi netral !

"karena ucapan mereka", jadi mereka dalam ayat tersebut hanya orang-orang Yahudi yang berselisih paham yaitu antara keturunan Yahudi yang percaya dengan Yahudi juga yang tidak percaya / disebut kafir.

Oleh karena itu tergantung pembaca Al Quran untuk memilih salah satu dari ucapan mereka ! Apakah mau ikut ucapan mereka Yahudi yang percaya penyaliban 600 tahun sebelum ada Al Quran  (mereka Yahudi yang percaya penyaliban berkata : "sesungguhnya kami telah membunuh"), atau mau ikut ucapan mereka Yahudi yang tidak percaya (mereka Yahudi yang tidak percaya / kafir terhadap penyaliban masa lalu berkata: "diserupai”).

Dengan demikian terserah pembaca yang menyimak ayat tersebut, sebab dari awalnya sebelum Al Quran diturunkan bahwa yang meributkan tentang peristiwa penyaliban adalah mereka orang-orang keturunan Yahudi saja, jadi untuk apa kita ikut-ikutan mereka!

Kalau kita ikut mengatakan: "tidak disalib" artinya kita ikut dukung Yahudi yang kafir, dan kalau kita mengatakan: "disalib" berarti kita mendukung keturunan saksi hidup  Yahudi yang berasal dari daerah nazaret (tempat awal masa kehidupan Yesus Kristus) yaitu orang-orang yang disebut Nasrani dizaman itu atau sekarang disebut kaum Kristen apapun kelompoknya.

Jadi mulai dizaman itu (600 tahun setelah zaman/era Yesus Kristus) kitab Al Quran merupakan kitab yang hak dari Allah untuk diberikan hak kebebasan kepada umat manusia yang berserah diri kepada Allah (orang Mu’min) yaitu orang-orang yang berpikiran “netral” / tidak berpihak kepada  Yahudi kafir  ataupun kaum Nasrani, untuk memilih mana yang benar diantara keduanya ?

Oleh karena itu sampai dengan hari ini apapun hasil pilihan
pribadi para pembaca Al Quran  akan "sempurna"
karena tanpa paksaan !

Jadi kitab Al Quran adalah kitab yang “sempurna” dalam hal untuk memilih:
Apakah mau mendukung  kubu yang percaya  ataukah mau mendukung  kubu yang  menyangkal, tentang peristiwa penyaliban dimasa lalu ?

Ingat sekarang terserah anda setelah membaca Al Quran mau mengikuti yang mana?




Jadi kesimpulan penyaliban dari sudut pandang  masing-masing  Al Quran dan Injil:
"Salah besar" kalau orang mengatakan nabi Isa disalib !
"Salah yang lebih besar" kalau orang mengatakan Yesus Kristus tidak disalib !

Maka orang bijak yang sudah memahami Al Quran dan Injil berkata:
Bukan nabi Isa yang disalib, tetapi Yesus Kristus !



Ket: Kalaupun diantara kita ada yang berpendapat Isa bukan Yesus
tetapi kita  tetap mengatakan Yesus tidak pernah disalib,
berarti kita tidak mempunyai pendirian atau disebut bimbang,
karena kita memaksakan sesuatu yang “sudah kita anggap lain”.


Oleh karena itu janganlah mengartikan mentah-mentah segala ayat-ayat Al Quran yang menyangkut tentang "nama Isa", sebab ayat tersebut tergolong “Mutasyabihat”, apalagi kalimat yang berbunyi: "kafirlah orang yang mengatakan Al Masih Isa putera Maryam adalah Tuhan!"

Dimana kalimat tersebut bertujuan supaya pembaca Al Quran jangan tersesat karena belum memahami kepada "Nama siapa ?" yang berhak atas sebutan tersebut (Tuhan), karena menyangkut dengan wewenag ke-Illahian !

Dengan demikian ayat "Mutasyaabihaat" di dalam Al Quran bertujuan untuk dikaji secara mendalam serta dengan tersamar mengarahkan orang-orang mu'min yaitu orang-orang yang berpikiran "netral" belum terpengaruh paham Yahudi maupun Nasrani dizaman itu supaya lebih tahu tentang siapa tokoh di dalam Injil yang sesungguhnya.

Kalau pembaca Al Quran tidak mau membuka pikiran dan hatinya, maka sampai kapanpun akan sulit untuk menemukan jawaban siapa sebenarnya Tuhan itu!
Hal ini tidak diherankan karena hampir semua orang Mu,min sudah tersegel dengan pengertian apa adanya yaitu kalimat Tidak ada Tuhan selain Allah”. (penjabaran di hal berikut)

Contoh ayat di Al Quran surat 7 AL A’RAAF : 206 yang bermakna supaya manusia harus tahu bahwa ada Tuhan yang punya pasukan malaikat dan dimana malaikat-malaikatNya menyembah dan bersujud kepada Allah. (Jadi Siapa Tuhan dan Siapa Allah? Hal ini yang sulit dipahami jika tidak mau membuka hati dan pikiran, sehingga menolak Tuhan yang hakiki, sebab Allah adalah Sang Haliq Yang Maha Diatas Segala Maha tidak akan terjangkau oleh pikiran manusia sepintar apapun.)


Q.7:206 ; Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan  menyembah  Allah  dan  mereka  mentasbihkan-Nya  dan  hanya  kepada-Nya-lah mereka bersujud.


Jadi makna ayat di atas: Siapa Tuhan yang disertai malaikat ? dan siapa Allah yang disembah ?



Satu hal yang tidak diperhatikan oleh hampir semua orang.


Disaat Yesus Kristus diatas palang salib maka Ia berseru:

Eli, Eli, lama sabakhtani ?”
Artinya: AllahKu, AllahKu,  mengapa  Engkau  meninggalkan  Aku?

Seruan tersebut bukan sekedar asal seruan tetapi mengandung makna “isyarat” yang harus dipahami. Bahwa saksi hidup pada peristiwa penyaliban dizaman itu, bahkan kitapun yang membaca kisahNya sekarang agar berpikir dengan kesimpulan: disaat Yesus Kristus disalib ragaNya tetap berada di tiang salib sedangkan yang ditinggal kan oleh Allah adalah “RohNya”.

Jadi jelas bahwa Yesus sebelum disalibkan, sewaktu masih hidup sebagai manusia”  bahwa  Roh Allah/ RohulKudus telah bersemayam di dalam diriNya!
Oleh karena itu apapun perkataan yang keluar dari mulut Yesus Kristus adalah suara Allah.

Contoh: Sampai hari ini apabila seorang manusia kerasukan “roh syaitan” maka segala perkataan yang keluar dari mulut orang tersebut adalah suara syaitan / kalimat yang keluar dari orang kerasukan “roh syaitan” adalah kemauan syaitan.

Dengan demikian jelas  pada saat  Yesus Kristus  hidup di dunia sebagai manusia karenaRoh Allahmendominasi diriNya, sehingga segalakalimat”  / “sabda yang diucapkan dalam khotbahNya adalah Suara Allah / kalimat-kalimat Allah!”.

Oleh karena itu seruanNya merupakan “Isyarat” bahwa diriNya adalah:
Manusia Illahi / Ilaahin naas(tersamar di Q.114:3)
Hal itulah yang harus dipahami oleh semua manusia di bumi !

Jadi tidak heran kalau Kitab Injil disebut Firman Allah”.

Sebab isinya adalah kumpulan sabda Yesus Kristus, karena "Dia" merupakan corong suara Allah, jadi yang dicatat oleh para murid-muridNya adalah kalimat  yang keluar dari mulut Yesus Kristus padasaat Dia masih berada di bumi sebagai manusia.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa semua orang kristen yang sering membaca Injil dan menghayatinya maka orang tersebut tergolong “Kaya Akan FIRman”.

Oleh karena itu Al Quran menegaskan kembali secara tersamar, siapa sesungguhnya manusia Yesus Kristus itu !
Tersirat di dalam Al Quran (Q.4:171),  bahwa Isa  adalah :
kalimat-Nya dan roh daripada-Nya”.

Maka Al Quran menyimpulkan bahwa Isa (figur Yesus) diwaktu
sebagai manusia dengan sebutan   "nabi pembawa Injil", karena segala perkataan yang keluar dari mulutnya mengandung kabar baik (yang disebut "Injil").

Jadi jangan salah sangka yaitu: Bukannya kitab Injil yang dibawa-bawa !



Ironisnya sampai pada hari ini hampir semua pembaca Al Quran beriman kepada ayat-ayat mutasyaabihaat tanpa diselidiki lebih mendalam sehingga hal itu bisa memfitnah nama Yesus Kristus walaupun nama tersebut tidak terdapat dalam Al Quran.
Hal itupun tidak diherankan karena memang sudah merupakan pilihan yang sesuai dengan isi hatinya, tersirat di Q.3 ALI'IMRAN : 7 . Disinilah kita semua harus tahu duduk persoalan yang menyangkut  masing-masing dari kedua "Nama" tokoh tersebut yaitu:
Siapa nama Isa dalam Al Quran ? dan siapa nama Yesus Kristus dalam Injil ?
Kalau kita tidak memahami hal tersebut maka merupakan sebuah dilemma yang tanpa disadari bagi semua orang di dunia, sehingga sampai kapanpun akan menimbulkan perdebatan panjang tanpa akhir antara Al Quran dan Injil !

Contoh: Makna dari ayat-ayat tentang "Isa" di dalam Al Quran yang "bertujuan mengarahkan" pembacanya supaya cari tahu siapa tokoh pembawa Injil yang sesungguhnya ?


Quran surat 31. LUQMAN:34
Sesungguhnya Allah hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat;........

Quran surat 43 AZ ZUKHRUF: 61
Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.



Jadi makna dari ayat Q.43:61 bertujuan mengarahkan agar pembaca mencari tahu akan nara sumber "tentang pengetahuan hari kiamat" yang sudah pernah diberikan oleh nabi Isa saat hidup di dunia / alam nyata.
Sebab tidaklah mungkin pengetahuan tersebut ada di dalam Al Quran !
Karena Al Quran itu "bukan sabda Isa !"

Oleh karena ayat di dalam Al Quran telah memberi "isarat" bahwa Isa dengan Injilnya, maka mau tidak mau pembaca harus membaca "Injil Kristus" sebab kenyataannya memang tidak pernah ada "Injil Isa" di dunia ini !


Jadi jelas kalau semua orang mu'min / Islam tidak mau membaca Injil Kristus karena termakan isu bahwa Injil yang sekarang sudah palsu atau dengan berbagai macam alasan tanpa bukti yang sah, maka sampai kapanpun tidak akan tahu pengetahuan tentang hari kiamat itu, serta tidak akan tahu siapa tokoh "ASLI" sesungguhnya pembawa Injil / berita gembira !

Itulah tujuan Al Quran yaitu secara tersamar "mengarahkan" umat mu'min dizaman itu supaya membaca Injil Kristus, ironisnya hal itu yang tidak disadari sampai saat ini !
Akan tetapi kalau orang sudah membaca Injil dengan benar dan mengkaji Al Quran dengan teliti, maka orang tersebut akan tahu lebih jelas tentang siapa-siapa saja yang akan kena azab Allah nanti dihari itu (kiamat) ! (Penjabaran dibawah).
Oleh karena itu melalui penjabaran ini bertujuan supaya pembaca akan tahu siapa yang disebut "Kafir" pada hari itu (kiamat), sehingga pembaca yang sudah mengerti, kelak tidak termasuk golongan orang-orang yang merugi !

.
Catatan :
Kalau disimak hubungan ayat tersebut Q.31:34 dan Q.43:61 menyimpulkan bahwa Isa berada disisi Allah.

Dengan demikian kalau Isa adalah figur Yesus dan jika dikaji antara Al Quran dan Injil maka kenyataannya bahwa hubungan antara Q.31:34 dan Q.43:61 secara tersamar mendukung kebenaran yang terlebih dahulu sudah diyakini para kaum Kristen sampai saat ini.
Yaitu salah satu kalimat "pengakuan Iman rasuli" setiap orang Ktisten yang berbunyi: ....aku percaya.........kepada Yesus Kristus...... naik ke surga duduk disebelah / disisi kanan Allah ......

Karena orang Nasrani / Kristen sudah terlebih dahulu meyakini Yesus Kristus berada disisi Allah, kemudian Al Quran memperkuat lagi apa yang diyakini oleh mereka, hanya caranya dengan memberikan gambaran bahwa tokoh pembawa Injil itu (Isa) tahu tentang hari kiamat karena "Dia" berada disisi Allah !

Itulah sebabnya kalau ada orang yang meninggal dunia,  maka kita selalu memohon semoga amal  ibadahnya diterima disisi Allah, (mengapa harus disisi?), hal itu tidak lain diterima oleh “Dia” Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang umatNya.
Mengapa kita tidak mengatakan semoga diterima oleh Allah? Hal itu supaya berpikir!
Jadi kalau kita menyangkal “Dia” yang berada disisi Allah, akibatnya tersirat di Q.25:23

Jadi tidak heran kalau kaum nasrani / Kristen meyakini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang berada disamping Allah !

Hal itupun Al Quran menegaskan kembali bahwa yang boleh disembah oleh siapa pun hanya Tuhan yang berada disamping Allah saja !, tersirat di Q.26:213
Bahkan pembaca Al Quran pun di uji sampai sejauh mana pengenalannya kepada Tuhan tersebut yang berada disamping Allah ?, tersirat Q.27:64


Q.26:213, yaitu; Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di'azab.

Q.27:64, yaitu; . ............Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?.................... . .

Dari kedua makna ayat tersebut secara tersamar bertujuan menegaskan serta memicu nalar pembaca bahwa: Disamping Allah ada sosok Tuhan yang resmi, yang harus diketahui oleh pembaca supaya jangan salah menyembah tuhan yang lain !

Jadi Al Quran kalau diteliti dengan akal sehat dan dilandasi ilmu pengetahuan ALKITAB (Taurat, Zabur, Injil) maka kita akan tahu bahwa banyak didapati ayat-ayat yang mendukung akan kebenaran injil. Dimana ayat-ayat tersebut yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya termasuk "mutasyaabihaat / samar-samar", sehingga Al Quran hanya dengan secara tersamar saja mendukung akan kebenaran tersebut.

Kalau tidak membaca "ALKITAB" maka hal itu merupakan "misteriquran" selamanya bagi pembaca, sebab pembaca tidak akan mengerti alasan dasar dari hubungan ayat-ayat tersebut dan ditambah lagi bahwa jenis ayat-ayat tersebut letaknya tidak berurutan / tidak teratur.

Oleh karena itu sekali lagi diingatkan bahwa untuk mengetahui "misteri" dari ayat-ayat tersebut diharuskan dengan akal yaitu menguasai "Ilmu pengetahuan" tentang kitab-kitab terdahulunya (ALKITAB).

Jadi tidak heran kalau Kitab Al Quran harus "dikaji" bukan sekedar asal dibaca saja.
Dengan demikian ayat "Mutasyaabihaat" dalam Al Quran merupakan "kebenaran tersembunyi" bagi orang bebal dan orang yang tinggi hati !

Disinilah yang harus di mengerti oleh kita semua, bahwa prinsip dasar untuk memahami segala perkara yang ada di dalam Al Quran berbeda dengan yang ada di dalam Injil.

Kalau untuk memahami perkara yang ada di dalam Al Quran dibutuhkan "akal", oleh karena itu hanya orang pintar / pandai "berakal sehat" dapat memahami dengan benar.
Akan tetapi segala perkara yang ada di dalam Injil tersembunyi bagi orang-orang pandai (bersifat tinggi hati), maka mereka tidak akan bisa atau sangat sulit untuk memahami perkara yang ada di dalamnya!
Oleh karena itu membaca Injil harus dengan hikmat Allah / bukan mengandalkan pikiran kita manusia semata.
.
Sekedar bacaan lihat nara sumber di alamat tersembunyi : http://kebenarantersembunyi.blogspot.com/
.
Oleh karena ayat Al Quran sudah memberikan isarat bahwa "Isa dengan Injilnya" maka pembaca bisa menggunakan "akal" untuk mencari Injil Kristus guna mencari tahu apa saja yang disabdakan Yesus Kristus tentang hari kiamat, dan dengan catatan membacanya secara  sembunyi-sembunyi ditempat yang aman supaya jangan dimarahi syaitan (yang mempengaruhi manusia!) (Pembahasan selanjutnya: Syaitan pasti mengganggu dan mencegah orang agar tidak mengenal Tuhannya)

Kalau pembaca Al Quran sudah membaca Injil Kristus maka pembaca akan tahu siapakah yang disebut "Aku" dalam kalimat di surat 43:61, yaitu kalimat yang berbunyi; "ikutilah Aku. "Inilah jalan yang lurus".
Kalimat tersebut merupakan cerminan dari sabda Yesus Kristus diwaktu hidup sebagai Manusia diantara orang-orang dizaman itu, "Dia" berkata di Injil Yohanes 14: 6


Injil Yohanes 14:6
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.


Jadi jelas "Aku" yang tertulis di dalam Quran surat 43:61 mencerminkan sosok utuh dari Yesus Kristus yang ada di Injil, karena Isa gambaran tokoh / figur dari Yesus Kristus.

Oleh karena itulah segala ayat yang bermakna agar pembaca berjihad "di jalan" Allah, hal itu tidak lain agar pembaca melaksanakan anjuran apa yang pernah nabi Isa ajarkan. Dengan demikian pembaca harus mencari tahu ajaran-ajaran yang telah diberikan Isa selama "Dia" berada di dunia ! Dengan kata lain ajaran nabi pembawa Injil (kabar gembira), tersirat di Q.5:35.


Q.5:35, Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.


Ket: Mengapa dalam ayat Injil Yesus mengatakan: ......."kepada Bapa"?
Penegasan tersamar ada dalam Quran. (pembahasan singkat di atas)

Itulah salah satu tujuan ayat Al Quran kepada orang-orang mu'min yang berpikiran "netral" dizaman itu yang belum terpengaruh paham Yahudi maupun Nasrani.
Supaya dengan mempelajari Al Quran (berikut petunjuknya/ baca Injil), maka pembaca yang bingung menjadi tahu mengapa kaum Yahudi (yang kafir terhadap Yesus) menolak kaum Nasrani, dengan beranggapan bisa-bisanya orang nasrani percaya kepada " Yesus Kristus adalah Tuhan" ?

Akan tetapi kenyataannya akan ada kendala juga yang timbul bagi orang awam apalagi mereka yang membaca Injil Kristus hanya untuk perbandingan atau mencari kesalahan, yaitu mereka akan sulit untuk memahami bahwa tokoh Anak Manusia Yesus Kristus itu adalah Tuhan !

Hal itu disebabkan apa yang tertulis di dalam Injilpun adalah "hanya kisah" kehidupan Yesus Kristus sebagai manusia biasa saja tetapi Suci total, yang telah berjanji tentang Hak / wewenangNya akan kuasa keIllahian terhadap Bumi berikut "roh jiwa manusia" yang hidup di dalamnya.

Disinilah harus disimak baik-baik bagi pembaca Injil, bahwa setelah Yesus Kristus bangkit dan menampakan diriNya secara utuh, serta "Dia" berpesan akan janji-janji pribadiNya yang  menyangkut dengan kuasa keIllahian, maka jelas sejak saat itu mulai-lah orang percaya bahwa Dia adalah Tuhan.

Akan tetapi setelah 600 tahun kemudian masih banyak orang yang berselisih paham akan ke-Tuhanan Yesus sebagai "Juru selamat".

Bahkan bertambah banyak kaum yang tetap membangkang tentang hal itu, jadi tidak heran kalau Q.34:26 secara tersamar menghimbau para kaum "Mu'min" / kaum yang masih berpikiran netral dan berserah diri kepada Allah (tetapi belum mengenal siapa Tuhanmu), dengan kesimpulan bahwa sekarang ini kita harus menyebut Yesus Kristus yang tertulis di Injil bukan lagi manusia biasa akan tetapi, "Katakanlah; "Tuhan kita".

Oleh karena itu kalau kita sudah membaca Injil dengan benar dan meneliti ayat-ayat Al Quran yang membenarkan kitab Injil seperti sudah ditegaskan di Q.12:111, maka kita akan mendapatkan jawaban tertulis untuk sebuah pertanyaan yang sering kali timbul yaitu: Sejak kapan Yesus Kristus diangkat menjadi Tuhan?
Jawabannya yaitu: Sejak Al Quran diturunkan !

Sebab Al Quran surat 34:26  maknanya "melegalisasikan kembali" dengan menegaskan bahwa yang mengumpulkan kita dihari kiamat ternyata adalah Anak Manusia Yesus Kristus (yang  tertulis di Injil Matius 25:31-32 dan tersamar di dalam Al Quran  dengan “nama Isa”)  yang sekarang gelalarNya  harus dikatakan / disebut Tuhan kita Itulah salah satu kebenaran berita Al Quran yang sekarang kamu sudah mengetahuinya ! (tersirat di Q.38:88).

.
Hal itu supaya semua orang tahu sebab di dalam Injil  tidak ada pengakuan yang tegas dari Yesus yang menyatakan diriNya Tuhan !
Karena pada saat Yesus hidup di dunia "sebagai manusia" maka tidaklah mungkin "Dia" berkata dengan terus terang "Akulah Tuhan !”

Pernyataan tentang keTuhanan Yesus Kristus bukan saja hanya bisa dilihat dari segala mujizat yang dilakukanNya saat hidup sebagai manusia akan tetapi yang lebih utama adalah janji yang berhubungan dengan wewenang diriNya terhadap keselamatan Dunia dan Akhirat, yang dimaksud keselamatan Akhirat yaitu menyangkut keberadaan dari setiap bathin / roh jiwa setelah lepas dari raga orang yang pernah hidup di dalam dunia ini.

Supaya keberadaan jiwa dari yang bersangkutan di akhirat nanti berada pada tempat yang layak yaitu "bukan di api neraka yang kekal" akan tetapi selamat dari pada api penyiksaan.

Janji tentang hal itu sudah diucapkan pada saat Yesus Kristus hidup sebagai Anak Manusia dan tertulis di Injil Yohanes 14 : 3.


Injil Yohanes 14 : 2-3, yaitu; Dirumah BapaKu banyak tempat tinggal. ........ . Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada.


Karena janji tentang hal itu menyangkut kuasa keIllahian, maka "Dialah" Yesus Kristus adalah Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan yang mempunyai kuasa untuk membawa banyak semua roh jiwa orang-orang yang percaya kepadaNya, sehingga "Dia" adalah "bahtera keselamatan."

Oleh karena itu tidak heran kalau Al Quran menjelaskan kepada pembacanya bahwa hanya Tuhan saja yang memberikan tempat yang layak di akhirat.
Hal itu tersirat di surat 23. AL MU'MINUUN : 29.


Q.23:29 ;
Dan berdo'alah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat."


Kalau semua orang mu'min meyakini Al Quran adalah firman Allah / perkataan Allah, maka para pembaca harus sadar bahwa Allah sendiri menyarankan semua pembacanya agar berdo'a meminta kepada Tuhanmu yang mempunyai wewenang atas tempat yang diberkati.

Dengan demikian ber-do’a berbeda dengan shalat, karena shalat merupakan ketaatan ritual  alam zhahir, tetapi ber-do’a  adalah ritual alam bathin untuk berhubungan dengan Tuhanmu, karena dalam ritual shalat ada juga do'a, jadi makna tujuan shalat supaya manusia di-ingatkan / untuk ber-do,a, yaitu minta kepada Tuhanmu seperti yang Allah anjurkan dalam ayat Q.23:29.

Jadi ayat di Q.23:29 merupakan permohonan supaya terhindar dari “siksa kubur”, ironisnya kita semua orang Mu’min meng’imani hal itu , padahal bukan itu yang Allah kehendaki (Q.23:29).
Oleh karena itu semua orang Kristen tidak meng’imani adanya “siksa kubur” karena mereka percaya akan janji Tuhan Yesus Kristus pada saat hidup di bumi sebagai manusia.

Jadi janji yang berhubungan dengan wewenang keIllahi-an yang merupakan "Hak" dari seorang Yesus Kristus diucapkan sewaktu "Dia" masih di alam nyata / Zhahir dan diucapkanNya juga setelah "Dia" bangkit dari antara orang mati dan hidup kembali, pesan tersebut disampaikan disaat penampakan diriNya secara total yaitu keadaan zhahir dan bathin tercatat di dalam Injil Matius 28:18, Kitab Wahyu 22:13 dan Matius 28:20.

Kemudian ucapanNya tersebut dipertegas lagi di dalam ayat-ayat Al Quran:
surat 3. ALI 'IMRAN:45 dan surat 57.AL HADIID:3-4.


PesanNya di Injil Matius 28:18 (keadaanNya zhahir)
......KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.


Setelah 600 tahun kemudian Al Quran menegaskan kembali hal tersebut !
.

Al Quran surat 3. ALI 'IMRAN:45
......... , namanya Al Masih 'Isa putera Maryam seorang terkemuka di dunia dan akhirat ........



PesanNya di Kitab Wahyu 22:13 ( keadaanNya bathin)
Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir."



.PesanNya di Injil Matius 28:20 (keadaanNya zhahir)
........, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Setelah 600 tahun kemudian Al Quran menegaskan kembali



Al Quran surat 57.AL HADIID: 3-4
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin;  dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
.
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam massa: ...... .
.......... . Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.




Jadi jelas inisial Dia yang tertulis di Q.57:3-4, menunjukan figur dari Yesus Kristus”.
Dengan demikian kalau anda mengakui bahwa nabi Isa dalam Al Quran adalah figur dari Yesus Kristus dan “Dia”yang akan datang kembali diakhir zaman sebagai hakim yang adil.
Maka anda harus percaya bahwa "Dialah Yesus Kristus" adalah "Tuhan kita".


Sebab sudah jelas bahwa Yesus sendiri telah berkata bahwa Allah telah memberikan kuasa atas Sorga dan bumi kepadaNya, sehingga Al Quran pun menegaskan kembali di Q.3:45 bahwa sososk nabi pembawa Injil dengan nama Isa adalah seorang saja yang terkemuka di dunia dan akhirat, dengan demikian secara tersamar Al Quran memberikan penerangan supaya manusia sadar jangan melampaui batas wewenang atas dunia dan akhirat yang telah Allah berikan kepada seorang yang tidak lain adalah Yesus Kristus. ( Hal itu tidak akan diketahui kalau tidak pernah membaca "ALKITAB" )

Jika kita sebagai umat mu'min / Islam telah membaca Injil dan meyakini bahwa Al Quran adalah wahyu Allah, sehingga dengan logika jelas Allah sendiri yang mengatakan di Q.57:3 , dengan tujuan menerangkan untuk menegaskan kembali bahwa "Dia" adalah sosok Yesus Kristus yang pernah bersabda tentang pengakuan jati diriNya yang tertulis di Alkitab / kitab Wahyu : "Akulah Yang Awal dan Yang Akhir”.

Jadi itulah salah satu "misteri" dalam Al Quran, dimana surat 57. Al HADIID ayat 3-4 yang letaknya tepat di tengah-tengah urutan surat Al Quran yang jumlahnya 114 surat,  sehingga surat tersebut merupakan "penengah" terhadap apa-apa yang selalu “diperselisihkan” oleh semua orang bahkan oleh penafsir Al Quran tentang "siapa Tuhan itu !"

Kesimpulan: Untuk membuktikan secara tertulis  Yesus adalah Tuhanmaka harus dengan dukungan kitab Al Quran, sebab Yesus tidak pernah berkata “Akulah Tuhan”.

Oleh karena itu semua orang yang mengkaji Al Quran harus berpikir bahwa suku kata "Tuhan" adalah untuk sebutan status / jabatan atas wewenang ke-Illahian dari pada "Dia" yang tertulis di dalamnya, dan begitu pula suku kata “Allah” untuk sebutan bagi “Sang Haliq”.
Jadi kalau kita meyakini Al Quran adalah wahyu Allah / perkataan Allah, maka jelas suku kata "Dia" yang selalu disebut-sebut oleh Allah sendiri di dalam Al Quran, hal itu suatu petunjuk kepada pembaca bahwa "Dia" adalah sosok seorang yang pernah dikenal dalam sejarah kehidupan manusia di bumi ! tersirat di Q.19:65


Q.19:65, Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?


Ayat diatas jelas jika disimak dengan baik maka maknanya menghimbau para pembaca yang belum tahu harus mencari tahu tentang sosok seorang yang sama dengan "Dia" yang patut disembah seperti layaknya kamu menyembah Tuhan !".
(jawabannya tidak lain: Seorang Anak Manusia Yesus Kristus yang pernah melawat Bumi / KisahNya di Injil).

Jadi ayat tersebut (Q.19:65) dalam Al Quran merupakan umpan balik untuk cross chek bagi mereka yg sudah membaca atau mendengar berita Injil tapi masih ragu akan ke-Tuhanan Yesus, agar berpikir kembali untuk meyakinkan bahwa "Dia" Yesus Kristus adalah Tuhan !


Ket: Oleh karena itu sekarang ini yang harus diperhatikan : Kalau kita mau membahas / mengkaji ayat-ayat Al Quran tentang sosok nabi pembawa Injil, maka kita harus teliti: Apakah ditinjau dari sudut pandang  Zhahir ataukah dari sudut pandang Bathin :

Kalau kita perhatikan sosok nabi pembawa Injil dalam kitab Al Quran  dari sudut
pandang “Zhahir” maka jelas memakai inisial nama Isa yang tertulis di dalamnya.

Akan tetapi  kalau kita perhatikan sosok nabi pembawa Injil dalam kitab Al Quran dari sudut pandang “Bathin” maka hampir semua tersamar dengan memakai inisial “Dia” yang tertulis di dalamnya, dimana inisial “Dia” adalah sosok yang statusNya disebut “Tuhan”.

Hal itu tidak lain mengacu untuk gambaran dari sosok dengan  nama “Yesus” sesungguhnya yang terdapat dalam kitab Injil, sebab jelas bahwa Yesus Kristus  selama hidupNya sebagai manusia pernah berkata satu kali dengan terang-terangan, yaitu ucapanNya tertulis di Injil Yohanes.8:24, yaitu:
 ; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu,

( Hal ini tidak akan bisa dipahami kalau  meneliti Al Quran tidak membaca Injil dengan benar )

Oleh karena itu semua ayat-ayat Al Quran yang mengandung kata dengan memakai inisial “Dia” ataupun “Tuhan” selalu bermakna KeIllahian yang berhubungan dengan masalah “Bathin” / “Iman” yaitu maknanya  menyinggung tentang kehidupan kelak  setiap manusia di alam akhirat.

Jadi jelas bahwa surat. 57 Al HADIID :3-4
sebagai dasar untuk memahami suku kata yang berhubungan tentang inisial:
sebutan Dia danTuhan, yang tertulis hampir disemua ayat-ayat Al Quran.


Kalau anda sudah membaca atau mendengar berita Injil tentang Yesus Kristus, kemudian membaca Al Quran 19:65 serta menyangkal akan kebenaran bahwa Dia dalam ayat tersebut bukan sosok dari gambaran / figur Yesus Kristus, berarti anda sendiri tanpa sadar telah mendustai ayat Al Quran 34:26 yang menegaskan hal tersebut !

-Jadi tidak heran kalau sampai saat ini hampir semua para pembaca Al Quran masih menyangkal "Tuhan Yesus Kristus", hal itu berarti mereka tidak mempelajari dengan modal / bekal "ilmu pengetahuan" terkait yaitu tentang kitab-kitab terdahulu, untuk mendukung pengkajian terhadap kitab Al Quran dengan sebenar-benarnya, hal itu tersirat di Q.69:48.


Q.69:48, Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.


Bagi mereka yang tidak benar-benar mempelajari Al Quran sehingga tanpa sadar ayat Al Quranpun didustainya seperti satu contoh di ayat 34:26 yang bertujuan "Mulia" supaya pembaca tahu siapa yang disebut "Tuhan kita".
Kejadian pendustaan tersebut tidak diherankan sebab sudah tersirat di Q.69:49.


Q.69:49, Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).


Jadi bisa dipastikan hanya mereka para pembaca Al Quran yang mendustai ayat-ayat tertentu (kamu: si'pembaca surat), karena ayat-ayat tersebut setelah diselidiki mendalam dengan membaca kitab terdahulu, ternyata ujung-ujungnya menuju kepada Yesus Kristus yang tertulis di Injil yang disebut "Tuhan kita", oleh karena sudah ada rasa antipati terhadap nama tersebut, maka mereka dengan sadar atau tanpa sadar telah menyangkalNya sehingga kafir terhadap Tuhannya sendiri !


Jadi akar permasalahan yang membuat pembaca mengingkari / mendustai ayat tertentu.
Yaitu karena ujung-ujungnya jenis ayat-ayat tersebut menyangkut / menyinggung figur wewenang dari Nama Yesus Kristus yang dibencinya walaupun tanpa sebab !


Kebencian nama tersebut terjadi tanpa disadari oleh hampir semua pembaca, dan hal itu bisa dibuktikan bahwa dizaman sekarang semua orang mengetahui nama-nama nabi hanya dari tulisan yang ada di dalam kitab-kitab yang sudah ada ribuan tahun yang lalu, Jadi mengapa hanya nama Yesus Kristus saja yang kurang berkenan ?
Apalagi nama tersebut disebut berikut posisi / status /jabatanNya : "Tuhan Yesus Kristus !"
.
Jadi apabila ada orang atau mungkin anda sendiri ada rasa anti pati terhadap nama "Yesus Kristus" bahkan membenci "kaum Kristen" (sebutan untuk para pengikut "Kristus" apapun kelompoknya) hal itu tidak membuat mereka geram, akan tetapi mereka kaum kristen semakin yakin terhadap "Kristus"dikarenakan anda membenci mereka.
Itulah sebabnya jika ada kaum Kristen dizolimi, mereka pada umumnya diam saja !

Contoh kenyataan dalam kehidupan ini, apabila ada rumah ibadah umat Kristen di rusak atau di "bom" oleh kelompok orang-orang tertentu, maka hal itu tidak diherankan sebab ujung-ujungnya pasti akibat kebencian terhadap nama "Yesus Kristus". Jadi kalau di selidiki dengan mendalam maka "misteri bom bunuh diri" yang terjadi terhadap rumah ibadah kaum Kristen, hal itu berhubungan erat dengan kekuatan jahat dari "dunia lain / alam ruh" yang mempengaruhi  kehidupan rohani setiap pribadi pelakunya sehingga beranggapan keliru yang mengakibatkan timbul niat buruk untuk merugikan diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itubom bunuh diritersebut merupakan sebuah misteri yang berhubungan dengan  misteri akan sebuah nama” yang dibenci tanpa alasan, dan hal itu nyata.
Sebab apa yang pernah dikatakan Yesus Kristus di Injil sejak dahulu adalah benar !
Tersirat di : Injil Yohanes 15:18 & 25.


Injil Yohanes 15:18 & 25.
ayat 15; .......... "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu.

Ayat 25; ....... Mereka membenci Aku tanpa alasan.



Sekalipun kalau ada umat mumin / Islam membenci orang Kristen / Nasrani, hal itu disebabkan kecerobohan pada saat membaca Al Quran, sehingga pembaca Al Quran tidak menyadari bahwa kaum beriman / mu'min hanya mendapati persahabatan dari orang- orang "Nasrani"
 ( sebutan sekarang Kristen), tersirat di :
surat 5. AL MAA IDAH : 82.



Q.5:82, yaitu; Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang- orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib,(juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.


Oleh karena itu jika ada orang-orang mu'min / Islam yang semasa hidupnya membenci Yesus Kristus bahkan menyangkalNya akibat dari salah / keliru dalam menafsirkan ayat Al Quran, maka mereka akan sadar setelah di akhirat nanti sehingga mereka akan menyesali Al Quran yang diyakini itu, sebab diwaktu masih hidup di dunia mereka tidak mau mempelajari arti dari makna ayat-ayat yang ada di dalamnya tetapi hanya melafalkan saja, sehingga tidak sadar akan tujuan "Mulia" Al Quran yang sesungghunya yaitu memperkenalkan siapa Tuhanmu yang tersamar dalam ayat-ayat Mutasyaabihaat.
Penyesalan tersebut pasti terjadi karena hal itu sudah tersirat di Q.69:50.


Q.69:48
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran  bagi orang-orang yang bertakwa.



69:49
Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).
Q.69:50
Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat).
Q.69:52
Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu Yang Maha Besar.


Kesimpulan dari ketiga ayat tersebut jelas seperti penjabaran diatas, yaitu membuktikan bahwa ayat-ayat Mutasyabihat yang bertujuan supaya pembaca cari tahu mengenai tokoh pembawa Injil sesungguhnya adalah Tuhan sendiri yang menjelma dalam rupa manusia, karena "Dia" berwujud manusia pasti memiliki nama yaitu: Yesus Kristus. (Oleh karena itu Q.69:52, bukan nama Allah tetapi nama Tuhan).
.
Akan tetapi semua pembaca Al Quran tidak mau percaya hal itu karena sudah terjebak dalam ayat-ayat "Mutasyabihat". Sehingga para pembaca nanti diakhirat baru menyadari bahwa mereka diwaktu hidup di dunia termasuk orang-orang yang kafir terhadap Tuhannya sendiri, yang ternyata bahwa "Dia" Yesus Kristus adalah Tuan diatas segala tuan atas manusia di bumi  dengan nama lain yaitu Raja diatas segala raja sehingga "Dia" disebut "Raja Manusia" dan di dalam nama "Dia" ada kuasa untuk menghardik kuasa jahat / syaitan yang selalu menggangu manusia, hal itu tersirat di dalam ayat Al Quran surat terakhir AN NAAS (MANUSIA) dengan sebutan:"Malikin naas". ( "Raja manusia" )

Jadi jelas bahwa yang disebut kafir dalam ayat Q.69:50 adalah orang yang diwaktu masih hidup di dunia kafir terhadap Tuhan yang berHak membangkitkannya, yang tidak lain  kafir atau menyangkal bahwa Tuhan adalah “Yesus Kristus”, dan kenyataannya sampai hari ini hampir semua orang mu’min / Islam memang kafir terhadap “Tuhan Yesus”.

Kalau anda tidak memahami penjabaran diatas maka selamanya anda akan keliru (dalam menafsirkan “kafir”) kepada siapa sesungguhnya julukan “kafir” ditujukan ?



Kalau pembaca berpendapat bahwa yang menyesali Al Quran nanti bukan
orang mu'min /  Islam, berarti pembaca “mendustakan” ayat-ayat Al Quran yang
menyatakan bahwa “Allah Maha Adil !”
Sebab bagaimana mungkin orang-orang bukan pemegangnya yang tidak tahu menahu bahkan tidak pernah menyentuh Al Quran bisa menyesalinya ???
Jadi jelas hanya pemegangnya saja yang akan menyesali Al Quran!

Oleh karena itu selama masih hidup di dunia kita harus mempelajari Al Quran dengan disertai membaca Injil Kristus, kalau hal itu tidak dilakukan maka kita akan memfitnah orang lain kafir, sedangkan kita baru sadar setelah diakhirat ternyata kitalah yang disebut kafir, sebab hanya kitab Al Quran saja yang kita imani (pemegangnya) sehingga akan menyesalinya,
Hal itu sudah tersirat di Q.69:50.

Jika seseorang membaca Al Quran tanpa diteliti dengan hati-hati, sehingga tidak tahu siapa yang dikatakan “kafir” kemudian menelan mentah-mentah ayat-ayat yang bermakna perintah: “untuk melenyapkan orang kafir”, maka tanpa disadari ayat tersebut akan menjadi boomerang bagi yang bersangkutan, oleh karena itu kekeliruan tersebut merupakan salah satu akar permasalahan yang mendorong terjadinya peristiwa "bom bunuh diri" oleh yang bersangkutan.
Hal itupun terjadi karena yang bersangkutan tergiur imbalan janji akan masuk ke Sorga


Karena manusia lahir akan mati dengan harapan ke sorga,
jadi sekarang kita tinggal memilih :
Janji ke Sorga dengan perintah: menyakiti orang lain berikut membunuh diri sendiri !
Ataukah janji ke Sorga dengan perintah;  mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri!

Jadi semua terserah setiap pribadi, sebab hidup ini pilihan bagi setiap individu manusia.
Oleh karena itu apapun pilihannya merupakan Hak Asasi Manusia,
yaitu: tanpa paksaan !



Sekarang timbul pertanyaan: Bagaimana keadaan diakhirat nanti apabila orang mu'min / yang mengaku Islam selama hidupnya tidak pernah membaca Al Quran, apakah mereka menyesali Al Quran ?
Jawabnya: Kenyataannya sampai pada hari ini hampir semua orang mu'min selama hidupnya di dunia tidak pernah membaca Al Quran, dan walaupun mereka pernah mendengar nama Yesus Kristus melalui " berita gembira / Injil" tetap saja mereka tidak mau percaya bahkan menyangkal "Tuhan kita" yang tidak lain adalah "Yesus Kristus", yang akan mengumpulkan semua orang di hari pembalasan / sesuai dengan Q.34:26.

Hal itu disebabkan mereka selama hidup di dunia hanya mendengarkan dari para Pemimpin / Ulama / Imamnya yang mengajarkan mereka bahwa "orang Kristen sesat !"

Oleh karena itu mereka nanti di akhirat tidak akan menyesali Al Quran karena mereka tidak tahu menahu tentang isinya.

Dengan demikian mereka kelak di hari pembalasan nanti hanya menyesali para Pemimpin / Ulama / para Imam-imam mereka saja, sebab para Imam / pemimpin / ulama mu'min / Islam tidak memberikan keterangan tentang kebenaran yang hakiki, (yaitu; Isa Al Masih dalam Al Quran adalah "kisah manusia yang tidak berdosa" yang dikenal sebagai figur manusia pembawa Injil, sedangkan Yesus Kristus yang tertulis di Injil sebenarnya adalah "Tuhan kita").

Kekecewaan umat terhadap pemimpinnya sudah tersirat di surat. 33 AL AHZAB :67.


Q.33:67
Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta'ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).


Jelas ayat diatas tertulis di dalam Al Quran yang merupakan kitab yang diyakini oleh semua orang mu'min / Islam. Dalam ayat tersebut tergambar jelas mereka (umat mu'min / Islam) mengeluh kepada Tuhan yang ber "Hak" mengadilinya.
Mungkin sewaktu masih hidup di dunia mereka pernah mendengar dari orang Kristen bahwa yang berjanji akan "mengumpulkannya / menghakimi" adalah Tuhan Yesus. Akan tetapi mereka tetap menyangkal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat dikarenakan menta'ati ajaran dari para pemimpinnya.

Jadi kesimpulannya: bahwa kita / mereka umat mu'min / Islam yang tidak pernah membaca Al Quran / tidak tahu menahu tentang isi Al Quran, maka kita / mereka kelak bukan menyesali Al Quran akan tetapi akan menyesali para pembesar dan pemimpin yang kita / mereka ta'ati.
Oleh karena itu ayat tersebut (Q.33:67) "merupakan peringatan" bagi kita semua pembaca Al Quran terutama para pemimpin dan pembesar mu'min / Islam yang tidak memberikan keterangan yang benar tentang hal itu.

Coba kita pikirkan apa yang disesatkan oleh para pemimpin kita mu'min / Islam ?
Sedangkan hingga sampai saat ini tidak ada satupun para pemimpin mu'min / Islam yang mengajarkan bahwa Yesus Kristus yang tertulis di Injil adalah Tuhan !

Akan tetapi kenyataannya kebalikan, yaitu ajaran-ajaran yang mereka (ulama) berikan kepada umat mu'min / Islam menyangkal Tuhan Yesus Kristus, dan secara langsung maupun tidak, melarang umatnya untuk membaca Injil dengan berbagai alasan.
Jadi karena ajaran pemimpin / ulama maka hampir semua umat mu'min / Islam berpendapat bahwa umat Kristen "sesat" karena mempertuhankan manusia..


Oleh karena itu kalau sekarang ini anda telah membaca penjabaran diatas, dan kalau anda merasa sebagai seorang imam dalam keluarga bahkan Imam atas ribuan atau jutaan umat mu'min / Islam, maka kelak mereka itu menjadi tanggung jawab anda !



Sebab sudah tertulis di Q.33:67 bahwa semua umat mu'min / Islam disaat pengadilan nanti akan kena azab, hal itu disebabkan karena anda sebagai pemimpin / panutan yang dita'ati ternyata telah menyesatkan mereka yaitu menyangkal Tuhan Yesus Kristus yang kelak "berHak" mengadili kita semua.

Jadi tidak heran kalau umat mu'min / Islam di akhirat nanti akan kena azab (satu kali lipat) karena disesatkan oleh anda sebagai pemimpinnya, sehingga mereka akan mengutuk dan menuntut anda supaya di azab dua kali lipat dari mereka, tertulis di Q33:68


Q.33:68
Ya Tuhan kami, berilah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukkan yang besar".


Apakah anda sebagai Ulama siap atas tuntutan para umat kepada "Tuhan kita" ?

Jadi agar tidak terjadi bertambahnya kedurhakaan dan kekafiran terhadap "Tuhannya" (Q.5:68), maka anda sebagai Ulama / Pemimpin umat mu'min / Islam adalah sebagai kunci awal pembuka "misteri kebenaran" yang  kenyataannya jelas
merupakan  Hubungan tersembunyi antara Al Quran dan Injil, yang  selama ini tidak di hiraukan !

Karena sebagian besar umat mu'min / Islam tidak membaca bahkan tidak tahu menahu tentang Al Quran apalagi kitab Injil yang memang anda larang untuk dibaca dengan berbagai macam alasan walaupun tanpa bukti yang sah !.

Ket: Sedangkan Q.5:68 menghimbau untuk membaca Taurat dan Injil.
Jika mengacu pada isi ayat tersebut (Q.5:68) dan kalau kita menuduh Injil yang sekarang adalah palsu sehingga tidak mau dibaca !, maka timbul sebuah pertanyaan: Sampai kapan semua orang mu'min / Islam bisa menjalankan himbauan Allah dalam ayat tersebut untuk membaca Injil agar dipandang beragama ?


Bahkan bisa diartikan secara luas bahwa semua orang tanpa terkecuali (Islam / Kristen) adalah sia-sia kalau Injil yang ada "Palsu !", jadi dengan kata lain semua manusia di dunia tanpa terkecuali adalah munafik karena tidak dipandang beragama sedikitpun !
Oleh karena itu pendapat: “katanya Injil sekarang palsu” adalah suatu kekeliruan !
Sebab tulisan inipun berdasarkanAl Quran dan Injil yang sekarang beredar !


Karena seperti sudah ditegaskan dalam Q.33:67 bahwa mereka hanya menta'ati anda sebagai pemimpinnya.
Oleh karena itu mulai saat ini kalau anda merasa sebagai Imam besar ataupun kecil
anda harus bertanggung jawab memberikan penjelasan tentang :
"siapa Isa dalam Al Quran" dan "siapa Yesus Kristus sesungguhNya di dalam Injil".


Hal itu supaya mereka para umat mu'min / Islam memahami duduk persoalan yang tersamar sehingga tidak terkecoh karena masalah tersebut !


Kalau semua umat mu'min / Islam tidak terkecoh lagi tentang hal itu maka mereka semua akan menyadari : bahwa memang tidak boleh mengatakan Isa adalah Tuhan, sebab yang "ber hak"atas sebutan tersebut adalah "nama  Yesus Kristus” yang tertulis di Injil Kristus.


Hal itu sesuai dengan anjuran tersamar tersirat di Q.34:26 : Katakan-lah "Tuhan kita".
.
Sekalipun anda sebagai pemimpin mu'min / Islam tidak mau mengakui penjabaran diatas, hal itu tidak masalah sebab kita tahu bahwa masuk Islam tidak ada paksaan begitu pula menyimpulkan ayat-ayat Al Quran tidak ada paksaan bagi setiap pribadi yang bersangkutan.
Karena semua itu tanggung jawab masing-masing pribadi setelah meninggalkan dunia ini.

Jadi kalau anda mengajarkan yang salah kepada banyak orang maka anda harus bertanggung jawab lebih berat lagi !.
Kita harus ingat tujuan semua umat mu'min / Islam sejak kecil harus diajarkan mengkaji, supaya setelah mereka dewasa dapat menyimpulkan sendiri ayat-ayat yang "dikaji."

Oleh karena itu mulai saat ini kalau anda sebagai Imam besar ataupun kecil maka anda harus menguasai Ilmu pengetahuan terkait yaitu tentang kitab-kitab terdahulu.

Jadi mulai saat ini carilah "Injil Kristus" dan bacalah dengan pikiran tenang dan bukan untuk mencari perbandingan apalagi mencari kesalahan !.

Kalau kita sebagai pemimpim umat mu'min / Islam tidak membaca Injil dengan benar, maka di-ibaratkan kita sebagai orang tua yang "buta penglihatan" harus menuntun anak atau cucu kita yang masih balita ! Maka Apa jadinya ?
.

Contoh ilustrasi dalam kehidupan nyata kita:
Kalau kita seorang kakek yang buta penglihatan kemudian kita harus menuntun cucu-cucu kita untuk melintasi sebuah jalan maka kita sebagai pemimpin /penuntun pasti berada pada posisinya terdepan dalam barisan tersebut.
Kemudian dalam perjalanan kita menghadapi sebuah lubang yang kita tidak bisa lihat (karena buta) akan tetapi cucu-cucu kita yang masih balita melihat lubang tersebut, sekalipun mereka masih kanak-kanak tapi mereka punya naluri akan bahaya! Kemudian salah satu cucu yang melihat bahaya tersebut protes terhadap sikakek yang buta itu, kenyataannya dalam protes tersebut tidak ditanggapi bahkan sikakek marah, karena sikakek merasa dirinya benar sebagai orang tua yang harus dihormati.
Jadi apa yang terjadi kemudian ?; mau tidak mau karena keangkuhan sikakek semua harus ikut masuk terpelosok ke lubang tersebut, akan tetapi diantara cucu-cucunya pasti ada yang cerdik dan “pandai” sehingga menolak dan membangkang kemauan sikakek yang buta agar terhindar dari bahaya itu, maka cucu tersebut keluar dari barisan yang dipimpin kakeknya demi "keselamatan pribadinya".



Itulah sebuah ilustrasi yang menggambarkan kehidupan nyata antara umat mu’min terhadap pemimpinnya / Ulama mereka dalam hal mengkaji tafsir Al Quran.

Dimana para umat harus menta'ati para pemimpin / Ulama mereka, sehingga umat mu'min sulit bahkan dilarang untuk menentukan pengertian ayat-ayat secara pribadi, karena mereka didoktrin bahwa Al Quran merupakan otoritas dan posisi tertinggi dari kitab yang lainnya.

Hal itulah yang tidak disadari oleh kita, sebab segala keputusan yang diambil oleh seseorang maka kelak akan menjadi tanggung jawab pribadi yang bersangkutan saja, akan tetapi apabila keputusan tersebut akibat dipengaruhi oleh orang lain, maka orang yang mempengaruhi akan ikut bertanggung jawab atas pribadinya dan pribadi orang yang dipengaruhinya, (jadi tidak heran di dalam Q.33:68, ada tertulis "dua kali lipat").
.

Oleh karena Allah Maha Tahu maka Q.33:67 -68 merupakan "peringatan" bagi semua orang yang tidak teliti disaat mengkaji / mempelajari Al Quran kemudian mengajarkannya kembali kepada orang lain.
Sehingga orang tersebut harus bertanggung jawab atas pengajarannya !

.
Jadi mulai saat ini kalau ada seorang mu’min membaca kitab Injil dan menjadi Kristen karena kemauan pribadinya hal itu tidak dapat dipersalahkan. Maka sebagai pemimpin / Imam yang berjiwa besar serta mengerti makna "peringatan" dalam Al Quran dan menyimak ilustrasi tersebut diatas maka anda tidak boleh menghalangi niat mereka itu.

Perlu diketahui juga bahwa seorang mu'min sangat sulit sekali bisa percaya kepada Tuhan Yesus Kristus "sebagai jalan yang lurus" kalau bukan kemauannya sendiri dengan didasari kepasrahannya kepada Allah supaya dikehendakiNya !
Hal itu sudah tersirat di Q.76:3, Q.81:28-29.
.

Q.76:3, Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.
.
Q.81:28, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.

Q.81:29, Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.


Jadi makna dari ayat-ayat tersebut menjelaskan semua orang mu'min / Islam masih belum menempuh jalan yang dimaksud yaitu "jalan yang lurus itu !".
Sebab dalam Al Quran pada ayat tersebut Q.81:29 Allah sudah menegaskan bahwa; siapapun juga yang mau menempuh jalan yang lurus pasti tidak bisa, hal itu juga sudah ditegaskan di Q.24:46 bahwa hanya kehendak Allah menuntun manusia kepada jalan tersebut.



Q.24:46 yaitu: Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.


Kalau anda pembaca Al Quran sudah membaca "Injil Kristus" maka anda akan tahu bahwa ayat tersebut Q.76:3 - Q.81:28-29 dan Q.24:46 sebenarnya penegasan secara tersamar bahwa Yesus Kristus yang tertulis di Injil itulah yang disebut "jalan yang lurus" dan tidak sembarangan orang dapat menempuh jalan itu kecuali dikehendaki Allah Tuhan semesta alam.
Sebab hal itu jelas pernah disabdakan oleh Yesus sendiri diwaktu hidup sebagai manusia yang dicatat oleh muridNya (yang bernama Yohanes), hal itu tertulis di:


Injil Yohanes 14: 6, yaitu;
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.


Dimana “jalan kebenaran dan hidup” yang dikatakan Yesus adalah penjelasan bahwa “Dia” Yesus merupakan gambaran sarana jembatan menuju kepada Allah Sang Haliq, oleh karena itu tidak sembarangan orang dapat percaya kepadaNya / Yesus. seperti  sudah dikatakanNya di:
Injil Yohanes 6:65.


Injil Yohanes 6:65 yaitu;
Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepadaKu, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya."



Injil Yohanes 15:16 yaitu;
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu, ………..


Sedangkan 600 tahun kemudian Al Quran memberikan gambaran kembali tentang hal itu, supaya pembaca tanggap siapa nabi pembawa Injil itu !, tersirat di Q.43:61 dan Q.81:29


Quran surat 43 AZ ZUKHRUF: 61
Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberi pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.



Q.81:29, Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.


Jadi makna Injil Yohanes 14:6 tersirat di Al Quran surat 43:61, dan
makna Injil Yohanes 6:65 tersirat di Al Quran surat 81:29.



Ket: Kalau pembaca memahami makna hubungan antara ayat Injil dan Al Quran seperti penjabaran diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kalau ada berita / isu tentang terjadinya kristenisasi hal itu tidak mungkin !
Sebab bukan karena kemampuan atau usaha manusia  yang membuat setiap orang bisa percaya Yesus Kristus / “jalan yang lurus” ! Akan tetapi  karena dikehendaki / dipilih Allah, Tuhan semesta alam.
Hal itulah yang harus dipahami!


Ironisnya kalau merujuk pada ayat-ayat tersebut berarti sampai pada hari ini hampir semua orang mu'min / Islam keliru karena sudah merasa pada jalan yang lurus !
Kekeliruan tersebut pasti, karena Allah sudah mengatakannya bahwa semua orang mu'min / Islam tidak dapat menghendaki jalan itu ! (Q.81;29 .... kamu tidak dapat menghendaki).
Kekeliruan tersebut bisa dikoreksi yaitu; kalau memang kita sudah berada pada posisi jalan yang lurus, mengapa harus diulang-ulang membaca isi dari Q.1:6 agar diberikan jalan tersebut?


Jawabnya: Supaya pembaca sadar bahwa kalimat "jalan yang lurus" itu merupakan "sandi" yang harus dipecahkan bagi orang mu'min pembaca Al Quran !


Maka kalau bukan kemauan anda sendiri yang didasari hati yang tulus untuk mengetahui makna yang hakiki dari "jalan yang lurus itu", kelak anda akan menjadi orang-orang yang merugi, sebab Al Quran sudah menjelaskan dengan tersamar tentang hal itu (jalan yang lurus).
Jadi kalau anda yang sudah merasa benar harus bertanya dalam diri masing-masing;
“Jalan yang lurus” seperti apa yang saya tidak dapat kehendaki ?

Oleh karena itu semua ayat Al Quran yang bermakna “peringatan” berikut konsekuensinya, bertujuan supaya pembaca mengerti makna yang hakiki dari jalan yang lurus itu!

Hal itulah supaya semua orang yang meneliti Al Quran dan disertai membaca Injil akan tahu bahwa "Yesus Kristus'lah jalan yang lurus itu !", yaitu jalan menuju kepada Allah Sang Haliq.
Jadi tidak heran pengertian hakiki kalimat “membela jalan Allah” banyak yang tidak memahaminya.

Dengan demikian kalau anda sudah mengerti tentang kalimat "jalan lurus" yang hakiki dalam Al Quran, maka sekali lagi diingatkan bahwa harus kemauan anda sendiri untuk datang ke jalan itu yang tidak lain datang untuk percaya kepada Yesus Kristus !


Oleh karena itu Yesus Kristus sudah mengatakan, tertulis di Injil Yohanes 6:37, yaitu;
............ dan barang siapa yang datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.



Jadi jelas karena jalan yang lurus itu adalah Yesus Kristus” maka makna yang tersirat di Al Quran surat 81:29 membuktikan bahwa setiap orang tidak akan bisa percaya kepada Yesus Kristus kecuali dikehendaki Allah.
Dengan demikian Q.81:29 merupakan penegasan dari sabda Yesus, di Injil Yohanes 6:65.

Jadi Al Quran diturunkan setelah Injil dengan tujuan untuk memperingati mereka yang masih membangkang terhadap Yesus Kristus yang merupakan jalan satu-satunya menuju kepada Allah, sebab sebelum ada Injil, Allah sudah berFirman dalam kitab Taurat yaitu:
"Ada jalan yang disangka lurus tetapi "ujungnya menuju maut !"
Dengan demikian semua orang harus hati-hati dalam memilih jalan untuk kembali kepadaNya.

Kalau tulisan dalam blog ini dibantah dengan segala macam alasan/ argumen, hal itu tidak heran. Sebab ayat-ayat tertentu dalam Al Quran yang diyakini saja kalau isinya mendukung kebenaran Injil walaupun secara tersamar kerap kali dibantah bahkan didustai oleh para pembacanya, apalagi tulisan ini !

Kalaupun ada pembaca Al Quran yang tidak mau mengakui bahwa nabi Isa adalah gambaran/figur dari Yesus Kristus, sehingga mereka berpendapat yang akan datang nanti diakhir zaman bukan Yesus tetapi nabi Isa, hal itu sah saja !

Sebab pendapat tersebut boleh saja karena mempunyai arti tentang "yang Hak", dengan demikian jikalau nanti nabi Isa datang diakhir zaman maka nabi Isa "tidak akan berhak" mengadili umat Nasrani sebab umat nasrani secara hakiki adalah pengikut Yesus “Kristus", oleh karena itu mereka disebut umat "Kristen" (apapun kelompoknya).

Sekali lagi diingatkan: Itulah sebabnya kita harus tahu duduk persoalan yang mendasar yaitu;
Siapa NAMA Yesus Kristus di dalam Injil ? dan siapa NAMA Isa Al Masih dalam Al Quran?

Oleh karena itu jelas Allah Yang Maha Tahu tidak akan keliru menulis ayat-ayatNya kepada NAMA siapa yang berHAK diberikan atas wewenagNYA .
Karena arti dari "bunyi" sebuah NAMA dalam Alam "ruh / ghoib" sangat penting !!!
.
Ingat ! Tidak ada satu dalih-pun dalam dunia ini yang bisa merubah Aqidah, kecuali "Dia-lah" Yang Awal dan Yang Akhir.

Dari penjabaran diatas jelas bahwa Al Quran bertujuan memberikan penjelasan tersamar kepada orang-orang "Mu'min" dizaman itu diwilayah Al Quran pertama diturunkan agar mengenal siapa sesungguhnya Tuhanmu itu.
Oleh karena itu di dalam Al Quran jarang bahkan tidak pernah dijumpai suku kata yang berbunyi : "Allahmu !"


Jadi kalau orang mengkaji Al Quran tidak disertai dengan membaca Injil dan hanya sekedar tahu bahwa Isa sama dengan Yesus, maka hal itu akan bisa berakibat fatal !


Sebab apabila orang yang bersangkutan menelan mentah-mentah arti bunyi dari kalimat : "Kafirlah orang yang mengatakan Isa adalah Tuhan", maka orang tersebut bisa berpendapat keliru sehingga akan menyamakan bahwa orang Kristen adalah sesat !

Akan tetapi jika orang tersebut mengerti arti bunyi dari sebuah "nama",maka jelas bahwa kaum Nasrani / Kristen tidak ada yang menyebut "Tuhan Isa !" tetapi kaum Kristen menyebutnya : "Tuhan Yesus Kristus!"

Oleh karena itu juga orang tersebut (pembaca Al Quran) yang tidak mengerti akan keliru menafsirkan surat 109. AL KAAFIRUUN, sehingga isi dari ayat-ayat yang ada di dalamnya seakan ditujukan kepada kaum nasrani !

Ironisnya sampai pada hari ini hampir semua pembaca Al Quran berpendapat keliru dalam penerapan ayat-ayat tersebut, sedangkan ayat-ayat di surat tersebut Q.109:1-6 dari awal ditujukan untuk kaum Quraisy yang sudah sejak dahulu dari zaman leluhur mereka (sebelum ada Al Quran) telah menyembah Tuhannya yang memiliki rumah itu, tersirat di Q.106:1-4.
.
Dalam ayat Al Quran selalu ditegaskan berulang-ulang bahwa "Allah Maha Tahu".
Jadi tidak heran dizaman itu Al Quran diturunkan hanya untuk diwilayah kaum yang telah membangkan terhadap berita gembira/kabar baik atau disebut Injil.
Hal itu jelas sudah tersirat di surat 19. MARYAM : 97


Q.19:97
Maka sesungguhnya telah kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Quran itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.


Dalam ayat tersebut / Q19:97 , tersirat bahwa kabar gembira tersebut sudah lebih dahulu ada sebelum Al Quran ada, dan dalam ayat tersebut ditegaskan memang sudah ada orang-orang yang menolak kabar gembira tersebut, sehingga orang-orang tersebut disebut kaum yang membangkang.
Jadi jelas sebelum ada Al Quran memang sudah ada kaum yang menolak Injil.

Keterangan:
Injil artinya: "kabar gembira" atau "kabar baik".
Kitab Injil artinya: Kitab yang berisi "kabar gembira / kabar baik"

Jadi jelas Al Quran dengan ayat-ayat tentang nabi yang bernama Isa, dengan tujuan menceriterakan kembali secara tersamar akan sosok / tokoh pembawa Injil, oleh karena membahas sosok/tokoh tersebut maka semua ayat-ayat Al Quran tentang nabi "Isa" mencerminkan adanya hubungan dengan kitab Injil, yaitu kitab yang berisi tentang kabar gembira/baik.

Oleh karena itu  Al Quran sejak awal ada yaitu untuk kaum "Mu'min" yang berserah diri kepada Allah dan masih berpikiran "netral" (yaitu tidak berpihak kepada Yahudi maupun Nasrani) agar dipelajari supaya mengetahui siapa sesungguhnya "Tuhanmu / Tuhanku / Tuhannya / Tuhan kami / Tuhan kita."
Hanya saja di dalam Al Quran tidak menyebut "nama" yang sesungguhnya dari Tuhan yang pernah hadir dalam rupa manusia, yaitu "Yesus Kristus," seperti contoh di


surat AL INSAAN : 25, yaitu; Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang.


Ket: Makna dari sebuah "nama" adalah sesuatu sebutan untuk yang bersifat zhahir yang pernah dikenal / dilihat manusia atau dapat dibuktikan dengan akal manusia dan fungsi nama untuk membedakan dan menyapa / memanggil sosok yang bisa me-respon.


Oleh karena itu begitu pentingnya membaca kitab terdahulu "Taurat" dan "Injil" sebagai nara sumbernya (tersirat Q.43:4 bahwa Al Quran terkandung dalam “Al Kitab”) dan Al Quran sebagai petunjuk serta umpan balik bagi pembacanya yang sudah menguasai "ilmu pengetahuan" terkait yaitu kitab sebelumnya/Taurat, Injil (Al Kitab).
Dengan demikian para pembaca menjadi tahu bahwa Al Quran suatu kitab yang membuat / membangkitkan / memancing pikiran para pembacanya agar berpikir kritis supaya tahu tentang misteri Allah di dalamnya.

.
Akan tetapi bagi pembaca yang tidak membaca Injil dan kitab Wahyu kemudian meng-kaji / mempelajari Al Quran saja, maka akan berakibat fatal yaitu akan mempersalahkan kitab-kitab terdahulu bahkan akan membantah tentang Allah yang seharusnya sudah diketahui oleh para pembaca Al Quran yang sudah membaca semua kitab-kitab terdahulu / sebelumnya.

Yaitu sebuah "misteri" yang disebut dalam namaNya adalah: "Yesus Kristus" Yang mempunyai sifat "Maha Pengasih dan Penyayang."

Gambaran akibat yang fatal tersebut sudah tertulis di : surat 22 AL HAJJ : 8


surat 22 AL HAJJ : 8, yaitu; Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya..


Dalam ayat tersebut jelas kitab Wahyu harus dibaca oleh semua orang karena merupakan "kunci!", sebab dalam kitab tersebut isinya sabda Yesus setelah di alam ruh, dengan memberikan wahyu kepada Yohanes, dimana sabdaNya yaitu : "Akulah Yang Awal dan Yang Akhir" dan Al Quran menegaskan kembali sabda tersebut di surat AL HADIID : Dialah Yang Awal dan Yang Akhir.... .(seperti penjabaran diatas)
.
Dimana kitab Wahyu adalah kitab tersendiri yang terdapat dalam susunan "ALKITAB."

Keterangan: ALKITAB terdiri dari :
- Kitab Taurat atau disebut "Perjanjian Lama",
- Kitab Zabur atau disebut "Mazmur",
- Kitab Injil atau disebut "Perjanjian Baru",
- kitab "kisah para rasul" dan terakhir –Kitab Wahyu”.
.


Sekedar untuk diketahui !

Mengapa AlKitab kususnya di Indonesia terbitan mulai tahun 1974 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya?

Sejak tahun 1974 memang AlKitab yang dipakai umat Kristen di Indonesia
mengalami perubahan tata bahasa, hal itu dikarenakan ditahun 1972  adanya
penyempurnaan “ejaan lama Bahasa Indonesia”  menjadi ejaan baru.
( contoh: untuk awalan kata - “Dj” menjadi “J”, “TJ” menjadi “C”, “J” menjadi “Y” )

Dengan adanya penyempurnaan “ejaan” tersebut maka sejak tahun 1974 AlKitab (ejaan baru) yang sudah dicetak ulang  diberikan cuma-cuma kepada umat Kristen tanpa menarik kembali AlKitab lama dari pemiliknya.

Perubahan / revisi tersebut memang terjadi dalam hal tata bahasa dan
“istilah sebutan” saja, dimana AlKitab bahasa Indonesia dengan “ejaan lama”
terdapat beberapa istilah / ucapan dalam bahasa “Arab”,
sedangkan edisi / cetakan baru sudah bahasa Indonesia.

Beberapa contoh istilah dalam AlKitab bahasa Indonesia  ejaan lama baru :

Allah-Taala   ( sekarang tertulis: “Allah Yang Mahatinggi / di Kejadian 14:18 )
KITAB  ZABUR jaitu segala Mazmur   (sekarang tertulis hanya: “ MAZMUR )
Kitab jang bernama ALCHATIB   ( sekarang tertulis hanya: “PENGKHOTBAH )
roh  si Dadjal   ( sekarang tertulis “roh anti Kristus )
Alif dan Ya   ( di kitab Wahyu 22:13 sekarang tertulis “Alfa dan Omega )

Dengan adanya perubahan tersebut maka menimbulkan dampak isue bahwa Injil-pun telah di-ubah-ubah !

Hal itupun tidak diherankan karena bahasa aslinya bahasa "Ibrani", jadi lumrah saja  jika suatu kitab diterjemahkan kedalam bahasa setiap negara seperti layaknya Al Quran diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Adapun tujuan dari revisi terjemahan yaitu agar lebih mudah dipahami bagi pembaca sesuai perubahan zaman, karena AlKitab dengan ejaan lama tata bahasanya agak kaku sehingga agak sulit dipahami.

Walaupun demikian semua isi ayat-ayat AlKitab dengan ejaan baru
tidak ada yang berubah maknanya terhadap AlKitab cetakan lama
(edisi terdahulu tahun 1960-an)!

Contoh perbedaan tata bahasa AlKitab cetakan
tahun 1962 dengan cetakan tahun 1974 sampai sekarang :

Cetakan tahun 1962 (ejaan lama), Judul:  “KITAB ZABUR jaitu segala Mazmur” pasal 1 ayat 1-2 yaitu;
 Ayat 1. Berbahagialah  orang  jang  tiada  berdjalan  dalam  bitjara  orang  fasik  atau  berdiri  pada  djalan  orang  berdosa, atau  duduk  dalam  perhimpunan  orang  pengolok;
Ayat 2. Melainkan  jang  suka  akan  hukum  Tuhan  dan  jang  memikirkan  hukum  itu  baik  siang, baik  malam;

Cetakan tahun 1974 sampai sekarang (ejaan baru), judul:  MAZMUR pasal 1 ayat 1-2 yaitu;
Ayat 1. Berbahagialah  orang  yang  tidak  berjalan  menurut  nasihat  orang  fasik, yang  tidak  berdiri di jalan  orang berdosa, dan  tidak  duduk  dalam  kumpulan  pencemooh,
Ayat 2. Tetapi  yang  kesukaannya  ialah  Taurat  TUHAN, dan  yang  merenungkan  Taurat  itu  siang  dan  malam.

Itulah perbedaan tata bahasa antara AlKitab ejaan lama (tahun <1972) dan AlKitab ejaan baru (sekarang)




Pembahasan Ayat-ayat Al Quran membuktikan bahwa :
"Allah Maha Tahu !"
.
Karena Allah maha Tahu maka ayat-ayat Al Quran yang tidak akan pernah berubah hingga kini bertujuan memberi peringatan bahkan ancaman bagi mereka yang tetap membangkang terhadap berita gembira yaitu "Injil keselamatan."

Oleh karena itu kalimat "Allah Maha Tahu" banyak tertulis dalam Al Quran, hal itu supaya pembaca sadar bahwa ayat-ayat yang bermakna peringatan ditujukan kepada semua orang yang  tetap menyangkal bahwa Yesus Kristus adalah "Tuhanmu" yang telah membawa berita gembira tentang ke-Rajaan Allah, yaitu tentang anugrah keselamatan bagi setiap manusia yang merasa berdosa !

Karena Allah Maha Suci, jadi tidak ada kompromi dengan dosa sekecil apapun, dan karena semua manusia  telah berdosa jadi secara mutlak harus ada perantara menuju kepada Allah. Perantara tersebut haruslah manusia juga yang mutlak "suci total", tersamar di Q.53:38.


Q.53:38 ; bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,……..


Isi ayat diatas sederhana, jika dibaca seadanya semua orang pasti sudah tahu !
Akan tetapi ayat tersebut (Q53:38) merupakan pelajaran / tekateki, dimana tekateki tersebut hanya bisa dijawab bagi mereka yang sudah membaca kitab-kitab terdahulu / sebelumnya dan menyimak dengan benar tata bahasa yang ada dalam ayat tersebut (Q.53:38).
Oleh karena itu kalau anda sudah membaca Injil Kristus dan kemudian meneliti Al Quran ayat Q.53:38, maka anda akan tahu bahwa ayat tersebut bertujuan untuk memancing pikiran pembaca yang kritis yaitu dengan kesimpulan: Bagaimana jika ada seorang yang suci dalam dunia ini? Sebab dalam dunia ini semua anak Adam berdosa !


Dengan demikian anda akan tahu bahwa maksud Allah dengan mudahnya menciptakan "Isa" (figur Yesus Kristus) seperti menciptakan nabi adam tanpa bapak duniawi, agar terwujud seorang laki-laki yang suci dengan tujuan yaitu akan memikul dosa orang lain.
Jadi harus diingat: Bahwa Isa /figur Yesus satu-satunya manusia bukan turunan adam
Maka penciptaan Isa (figur Yesus) merupakan penciptaan kedua yang sangat penting dan harus di perhatikan oleh pembaca Al Quran seperti sudah di ingatkan di Q.56;62.

Q.56:62:  Dan sesungguhnya  kamu  telah  mengetahui  penciptaan  yang pertama,  maka mengapakah  kamu  tidak  mengambil  pelajaran  untuk  penciptaan  yang  kedua?

Oleh karena itu 600 tahun kemudian setelah Injil, maka Al Quran menegaskan lagi (di Q.53:38) supaya semua orang tahu alasanya “Yesus Kristus di Injil disebut juruselamat”.
Itulah jawabannya bahwa Yesus Kristus “dapat memikul dosa”  setiap orang yang mau percaya kepadaNya, supaya tidak menyesal di hari kiamat. Semua terserah anda !

Contoh: Bagaimana anda disebut dapat mengampuni orang yang bersalah  kalau  yang bersangkutan tidak mau datang untuk minta ampun ! Jadi bagaimana Yesus Kristus dapat mengampuni orang kalau orang tersebut jangankan datang percaya saja tidak mau!


Jadi ayat tersebut Q.53:38 sebagai kunci dasar pemahaman bagi semua orang untuk mendapatkan jawaban bahwa: Seorang Yesus Kristus adalah penebus dosa manusia yang percaya kepadaNya"  (Jadi begitu pentingnya himbauan dalam Q5:68 supaya membaca Injil!)
Itulah sebabnya Al Quran menekankan  “sosok nabi pembawa Injil adalah orang Suci !”.

Contoh ayat Al Quran yang membuktikan "Allah Maha Tahu!" bahwa setiap pembaca Al Quran tidak akan mungkin mau membaca Injil, bahkan yang sudah membacapun tetap tidak mau percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhanmu, artinya sama saja mereka dengan sengaja tidak menghiraukan apa yang pernah dikatakan Tuhan Yesus yang tercatat di dalam "Injil ."
Oleh karena itu beberapa ayat Al Quran menggambarkan keadaan diakhirat nanti, bahwa konsekuensi yang harus diterima bagi para pembaca Al Quran yang tetap berkeras hati tidak mau mengakui Yesus Kristus yang tertulis di Injil adalah "Tuhanmu" yang akan menghukum siapa saja yang menyangkalNya !

Contoh : surat.19 MARYAM :71
Dan tidak ada seorangpun daripadamu, malainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.

Ayat diatas jelas ditujukan kepada pembaca Al Quran ("daripadamu"), dimana makna dari ayat tersebut sebuah vonis (suatu kemestian) yang sudah ditetapkan oleh Tuhan kita.
Walaupun demikian bunyi ayat tersebut, hal itu supaya setiap orang mu'min / Islam sadar!
Ironisnya tidak ada satupun ayat Al Quran yang menyuruh pembaca ke neraka !
Jadi mengapa dalam ayat tersebut (Q.19:71) ditegaskan bahwa dengan sengaja neraka "didatangi" oleh orang mu'min / Islam ? /dari padamu” artinya ditujukan kepada kita yang membaca surat

Oleh karena itu kalau anda hanya membaca Al Quran dan tidak membaca Injil dengan hati tulus, maka anda tidak akan dapat memahami makna penting yang menyangkut keselamatan jiwa anda dari hukuman neraka di akhirat, karena anda tidak akan bisa keluar dari lingkaran ayat-ayat Al Quran yang pasti bagi anda penuh dengan misteri !


Hal itupun sudah disinggung oleh rasul Muhammad yang tercatat dalam Hadits Shahih Bukhari 1577 pada kalimat terakhir yaitu: ................Tiadalah tinggal dalam Neraka kecuali orang yang dipenjarakan Qur'an dan mesti kekal di dalamnya.


Jadi pemahaman tersebut tidak akan anda tahu kalau anda tidak membaca Injil dengan benar.


Sebab di dalam Injil Markus 16 :16, Tuhan Yesus pernah bersabda ;
Siapa yang percaya dan dibabtis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.


Jadi ayat Al Quran 19:71 yang bermakna ancaman membuktikan :"Allah Maha Tahu !"
Bahwa sampai pada hari ini hampir semua umat mu'min / Islam dengan sengaja menolak membaca "Injil Kristus", dengan demikian dengan sengaja menantang konsekuesi (hukuman) apa yang pernah disabdakan Tuhan Yesus di Injil Markus 16:16.


Oleh karena itu tidak heran kalau dalam ayat Q.19:71 menegaskan dengan sengaja orang mu'min / Islam mendatangi konsekuensi tersebut yaitu hukuman "neraka."


Jadi tidak diherankan kalau ada orang-orang yang mengatakan bahwa orang Nasrani/Kristen disebut “Ahli Neraka” hal itu benar !
Sebab: Apabila seseorang disebut “Ahli BOM” berarti orang tersebut sangat tahu bahwa “BOM” itu membahayakan, sehingga orang tersebut sangat mahir untuk menjinakkannya, dan dengan pasti seorang "ahli BOM" tidak akan mau tinggal selamanya di dalam gudang BOM.
Begitupula kalau orang Nasrani / Kristen disebut “Ahli Neraka” mereka sadar bahwa neraka kekekalan yang menyakitkan, sehingga dengan pasti mereka tidak akan mau tinggal di dalam neraka, oleh karena itu orang Kristen sudah tahu dan percaya kepada siapa  “juruselamatnya!”.

Jadi tidak diherankan kalau Allah menurunkan Al Quran dengan beberapa surat supaya ditujukan kepada pembacanya, salah satu surat yaitu surat 19 Maryam ayat 71;  yang memberikan gambaran pasti di akhirat nanti kepada orang-orang yang " bukan Ahli neraka!".


Contoh lagi ayat Al Quran yang membuktikan (secara samar) "Allah Maha Tahu !", bahwa :
Nanti semua orang mu'min setelah berada di alam kubur baru mengakui Tuhan Yesus serta mengakui juga kebenaran yang pernah dikatakan oleh rasul Paulus (selain Muhammad) tentang yang punya kuasa pada hari berbangkit, yang disangkalnya waktu masih hidup di dunia !


Contoh surat 36. YAA SIIN : 51-52

Judul: Keadaan semua orang-orang mu'min di hari kiamat.

51 : Dan ditiuplah sangkakala , maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.
.
52 : Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).


Ayat diatas (Q.36:51-52) selalu dibacakan apabila ada kerabat / famili yang meninggal dunia, hal itu bertujuan agar para hadirin yang masih hidup di alam zhahir supaya sadar !
Apakah anda siap keadaannya nanti akan celaka diakhirat ("Aduhai celakalah kami").

Mengapa dalam ayat tersebut menggambarkan bahwa di hari kiamat nanti semua keadaan orang mu'min akan celaka karena tidak ada yang membangkitkan dari kuburnya ?


Dalam surat tersebut ayat 52 menimbulkan dua pertanyaan:
Tuhan siapa yang pernah berjanji ?
Rasul siapa lagi selain rasul Muhammad yang membenarkan tentang hari berbangkit ?


Dalam ayat tersebut (Q.36:51-52) tersirat bahwa orang-orang mu'min baru mengakui memang ada Tuhan Yang Maha Pemurah pernah berjanji membangkitkan semua orang yang percaya kepadaNya ("Inilah janji Tuhan"), dan mengakui bahwa ada rasul yang lain selain rasul Muhammad ("benarlah Rasul-rasulNya") yang membenarkan tentang hal itu, akan tetapi pengakuan tersebut sia-sia karena sudah terlambat ! (pengakuannya sudah di alam kubur).
Jadi mulai sekarang kita harus tahu dan sadar bahwa ayat tersebut sesungguhnya ancaman bagi siapa saja yang kafir terhadap Tuhan yang telah berjanji tentang hal tersebut !


Oleh karena itu dalam ayat tersebut (Q.36:51-52) ditekankan dengan suku kata "mereka", yang jelas mereka itu adalah orang-orang yang diwaktu hidup di dunia tidak mau mengakui bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah "Tuhan kita !”


Sekarang timbul pertanyaan apakah kita mau seperti "mereka" kelak ?



Jadi surat 36. YAA SIIN ayat 51-52  merupakan salah satu contoh "peringatan"
untuk orang-orang mu'min yang masih "berpikiran netral" supaya terjaga sehingga berpikir kembali untuk mencari tahu siapa yang dimaksud Tuhan yang telah berjanji, dan siapa yang dimaksud rasul yang lain lagi yang kita tidak ketahui selama ini ?, seperti yang dikatakan Allah dalam ayat tersebut ?


Pengakuan tersebut menggambarkan bahwa diwaktu mereka masih hidup di dunia mungkin pernah membaca atau mendengar berita Injil, memang hanya Yesus Kristus saja yang pernah berjanji akan membangkitkan orang yang percaya kepadaNya (tertulis di Injil Yohanes 6:37-39) dan mereka sudah mendengar bahwa ada rasul lain selain Muhammad yaitu rasul Paulus yang sudah terlebih dahulu membenarkan tentang hari berbangkit (tertulis di Tesalonika 4:16).


Yohanes 6:37 yaitu; Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.



Yohanes 6:38 yaitu; Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakKu, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mungutus Aku.

.

Yohanes 6:39 yaitu; Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikanNya kepadaKu jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.

1 Tesalonika : 16, yaitu ;
Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;


Kesimpulan dari ayat-ayat tersebut diatas jelas bahwa hanya Allah yang menghendaki orang datang kepada Yesus Kristus, jadi barang siapa yang masih hidup di dunia dan mau datang (percaya) kepada Yesus, maka orang tersebut tidak akan dibuang tetapi dibangkitkan untuk "dikumpulkan" dengan tujuan menghadapi "pengadilan akhir" agar mendapatkan kesempatan hak keadilan dari Allah atas amal perbuatannya.

Oleh karena itu Q.34:26 menegaskan bahwa disaat itu / hari kiamat semua harus mengakui,
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua....... .
Jadi jelas barang siapa yang diwaktu hidupnya menyangkal Tuhan Yesus , maka di hari kiamat orang tersebut akan mengakui dirinya celaka ("Aduhai celakalah kami") karena tidak ikut dikumpulkan sebab tidak "dibangkitkan" dari kuburnya, tergambar di Q.36:52.

Kalau anda sudah menyimak semua penjabaran diatas maka anda harus mengakui bukti kebenaran Al Quran yang mendukung kebenaran Injil Kristus, yaitu dengan cara menyajikan ayat-ayat tentang peringatan yang berakibat buruk dikemudian hari bagi siapa saja yang  menyangkal wewenang dari Tuhan Yesus Kristus di akhir zaman terhadap semua orang tanpa terkecuali termasuk anda dan saya juga bila ikut menyangkalNya.

Kesimpulannya jelas bahwa di hari kiamat Yesus Kristus akan membangkitkan semua orang yang percaya kepadaNya dari "tempat tidur" (kubur) untuk dikumpulkan semua, kemudian semua orang yang percaya tersebut akan dibawa untuk menghadapi pengadilan Allah supaya mendapatkan pahala sesuai amal perbuatannya dari Allah Yang Maha Adil.


Sedangkan orang-orang yang “kafir” kepada Yesus Kristus akan tetap tinggal di alam bawah/siksa kubur dimana mereka keadaannya "celaka" walaupun tiba hari berbangkit.
Dengan demikian jelas karena Isa adalah figur Yesus, maka Al Quran pun menegaskan secara tersamar tentang hal itu : bahwa semua orang pengikut Isa tidak akan berada di alam bawah (siksa kubur) tetapi ditinggikan sampai hari kiamat, tersamar di Q.3:55.

Kesimpulan dalam Q.3:55 jelas tidak tertulis dengan sebutan “orang-orang Nasrani” tetapi tertulis dengan sebutan  “pengikut Isa hal itu menegaskan bahwa “Isa” (figure Yesus) bukan hanya untuk orang Nasrani/Kristen saja tetapi untuk semua orang yang percaya kepadanya.



Itulah sebabnya kalau kita hanya membaca Al Quran dan tidak membaca Injil dengan benar, maka tidak akan mungkin tahu makna dari ayat Q.36:51-52, apalagi untuk percaya bahwa Yesus Kristus itu Tuhan!

Oleh karena itu ayat di Q36:52 merupakan gambaran kelak bagi mereka yang tidak mau tahu apa yang pernah dipesankan Yesus Kristus di : Injil Yohanes 14: 6.


Injil Yohanes 14: 6, yaitu;
Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.


Jadi kalau anda sudah mengerti penjabaran diatas maka anda akan tahu bahwa semua ayat Al Quran tentang hari berbangkit dengan tersamar memberikan gambaran supaya semua orang mu'min berpikir : Bahwa pada saat hari kiamatlah seorang baru bisa dinyatakan "kafir" kalau orang tersebut selagi masih hidup di dunia "menyangkal Tuhan" yang akan membangkitkannya !


Ket: Orang disebut kafir kepada Tuhannya yaitu orang yang menyangkal / menolak 
setelah diberi tahu.  Kalau sejak lahir selama hidupnya orang tersebut tidak pernah tahu / mendengar tentang siapa Tuhanmu, maka orang tersebut tidak bisa dibilang kafir kepada Tuhannya,  sebab  apa yang mau disangkal kalau tidak  tahu karena belum pernah  mendengar “berita" tentang siapa Tuhanmu yang akan membangkitkanmu !


Kalau anda tidak membenarkan Al Quran tentang hal tersebut, maka segala amal perbuatan anda akan sia-sia pada hari kiamat, karena siapa yang menyangkal Tuhan Yesus Kristus tidak akan "dibangkitkan" olehNya.


Sehingga orang tersebut tidak akan sampai ke hadapan Allah untuk menghadapi pengadilan akhir, oleh karena itu orang tersebut (apapun agamanya) tidak ada pengharapan lagi untuk mendapatkan haknya atas keadilan dari "Allah Yang Maha Adil" yaitu “Pahala” sesuai  pertimbangan amal ibadah yang telah diperbuat semasa hidup di dunia.
Dengan demikian apapun amal / ibadah yang telah diperbuat akan sia-sia !
Itulah sebabnya semua orang beriman harus percaya hari berbangkit, karena Allah Maha Adil bahwa semua orang apapun agamanya  (tersirat di Q.5:69) akan mendapatkan pahala dikemudian hari, tetapi harus di ingat siapa yang telah diberi kuasa  membangkitkan semua orang untuk dikumpulkan?



Hal itu sudah tersirat di surat.25 AL FURQAAN :23, yaitu;
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.


Jadi ayat tersebut menggambarkan keadaan orang mumin di hari kiamat,  diwaktu hidup di dunia tidak mau mengakui  ayat-ayat Al Quran yang mendukung kebenaran Injil, sehingga menyangkal Yesus Kristus sebagai “Tuhan dan juru selamatnya”.

Oleh karena itu yang perlu diketahui oleh pembacanya bahwa sejak awal dizaman itu Al Quran hanyalah pelajaran dan peringatan bagi semua orang yang berserah diri kepada Allah tetapi belum percaya kepada Yesus Kristus yang sudah dikenal 600 tahun sebelum ada Al Quran.

Maka melalui Al Quran-lah yang memberikan peringatan serta ancaman-ancaman yang sebenarnya ditujukan kepada orang yang tetap menyangkal Tuhannya walaupun sudah mendengar berita Injil.
Jadi semua terserah anda mau percaya Tuhan Yesus atau tidak yang tertulis di Injil.
.

Oleh karena itu kesimpulannya: bahwa gambaran akan "Sorga" yaitu suatu konsekuensi yang diterima bagi orang yang selagi hidup di dunia percaya kepada Tuhannya (yang berkuasa membangkitkan) disertai perbuatan baik / menjauhi dari kejahatan !

Sedangkan gambaran akan "Neraka" yaitu konsekuensi yang diterima bagi orang yang selagi hidup di dunia menyangkal Tuhannya (yang berkuasa membangkitkan) walaupun sudah melakukan amal kebaikan, dan bagi mereka yang sudah percaya tetapi tidak bertaubat dari dosa!


Akan tetapi kalau anda tetap tidak percaya sosok Tuhan yang telah berjanji !, maka segala "konsekuensinya" sudah jelas dan nyata di dalam ayat-ayat Al Quran itu sendiri.

Ironisnya sampai pada hari ini semua umat mu'min tidak menghiraukan peringatan-peringatan dalam ayat-ayat Al Quran yang sesungguhnya merupakan konsekuensi buruk akibat menyangkal Tuhan Yesus.

Hal itu tidak perlu diherankan karena dari generasi kegenerasi semuanya sudah tertanam dalam benak pikiran bahwa Injil "katanya palsu" walaupun tanpa ada bukti yang "sah" , bahkan para pemimpin / ulama melarang umatnya membaca kitab Injil sehingga mereka umat mu'min enggan membacanya.


Karena tidak membaca “Injil Kristus maka semua umat mu'min / Islam tidak akan tahu makna ancaman-ancaman bagi dirinya yang ada dalam ayat-ayat Al Quran .

Oleh karena ketidak tahuannya maka semua umat Mu’min / Islam
selama hidupnya tidak akan pernah takut ataupun resah terhadap ayat-ayat tersebut.

Sebab sifat manusia kalau tidak tahu atau "tidak merasa bersalah" maka manusia tersebut tidak akan pernah takut terhadap "ancaman apapun !".


Jadi mengapa Al Quran hanya menjelaskan keadaan orang mu'min saja yang menyedihkan pada hari kiamat (Q.36:52)?
Dan mengapa tidak ada penjelasan tentang keadaan yang “menyedihkan” bagi orang-orang diluar mu'min pada hari kiamat?


Jawabannya:

Karena Allah Maha Adil dimana kitab-kitab lain yang sudah ada sebelum zaman “Yesus Kristus” tidak ada pemberitahuan tentang Tuhan yang berkuasa diakhir zaman untuk membangkitkan para pembacanya, oleh karena mereka belum tahu tentang Tuhan tersebut, maka isi dari semua kitab suci sebelum Injil tidak ada peringatan akibat dari penyangkalannya terhadap Tuhan.

 Sedangkan  kitab Al Quran diturunkan setelah Injil sehingga isinya menyinggung tentang
nabi pembawa Injil / “berita gembira” yang tidak lain menyinggung tentang
Tuhan Yesus Kristus (yang berkuasa pada hari berbangkit).
Karena Al Quran diturunkan untuk orang-orang Mu’min  di jazirah arab maka tidak heran isinya hanya gambaran dari keadaan di akhirat yang menyedihkan bagi orang Mu’min saja yang diakibatkan dari menyangkalnya terhadap Tuhan tersebut.

Jadi semua ayat-ayat Al Quran yang bermakna peringatan tentang akhirat mencerminkan bahwa Allah mengasihi orang-orang Mu’min (pembaca Al Quran) supaya semasa hidupnya jangan menyangkal Tuhan tersebut agar tidak tertinggal di alam “siksa kubur”
pada saat hari berbangkit tiba!
Sebab kalau kita meyakini bahwa Allah itu Esa maka pada hakekatnya  tidaklah mungkin Al Quran diturunkan  mempunyai cara yang berbeda terhadap keselamatan manusia di akhirat.

Hal tersebut tidak akan anda ketahui kalau tidak membaca Injil Kristus dengan benar !


Jadi setelah anda membaca penjabaran diatas, maka bisa disimpulkan bahwa kitab Al Quran sifatnya hanya menyarankan bagi pembacanya jika nanti disaat hari kiamat agar semua orang di Dunia mengatakan bahwa Yesus Kristus bukan lagi “Anak Manusia” melainkan posisi / status "Dia adalah Tuhan". (tersamar di Q.34:26)

Kalaupun anda sekarang masih hidup di Dunia tidak mau mengakui Yesus Kristus adalah "Tuhan Yang Maha Pemurah" hal itu tidak masalah !
Tetapi Al Quran sudah “menggambarkan akan penyesalan” anda nanti dihari kiamat karena menyangkal Tuhan Yang Maha Pemurah tersebut ! (tersirat di Q.36:52).
Oleh karena itu kalau kita sudah memahami bahwa “Isa anak Maryam” yang tertulis di dalam Al Quran adalah figure dari “Yesus Kristus” yang tertulis di Injil, maka kita harus berpikir kembali jika masih menyangkal Yesus Kristus “anak Maria” adalah “Tuhan kita”.
Sebab hanya Tuhan ‘lah yang sanggup / ber’Hak datang kembali / turun ke Dunia ini di hari pembalasan untuk mengadili kita semua, kemudian menjadi imam diantara manusia !
Jadi bagai manakah keadaan anda dan saya jika sekarang menyangkal  bahkan menghujat Yesus Kristus  “anak Maria” yang akan datang di hari pembalasan nanti ??



Oleh karena itulah Rasul Muhammad sudah memberikan “isarat” yaitu hanya menyebutnya “anak Maryam” tanpa nama “Isa”, di Hadits Sahih Bukhari no: 1504.

Hadits Sahih Bukhari no: 1504.
Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: ”Bagaimanakah   keadaan mu  apabila anak Maryam  turun  kepadamu dan menjadi imam di anrtara kamu”.

Ket: Jelas sabda rasul kalau menyinggung kuasa keIllahian dari tokoh nabi pembawa Injil yang menyangkut “iman keselamatan” setiap pribadi manusia di akhir zaman terhadap tokoh tersebut, maka perkataannya tidak pernah memakai kata / nama Isa!
Tujuannya supaya pendengar dizaman itu dan pembaca hadits sekarang ingat siapa “anak Maryam” yang terlebih dahulu tertulis di Injil?
Hal itu jelas sebab di Al Quran saja yang kita yakini merupakan Firman Allah tidak pernah menyebut nama Isa yang akan datang diakhir zaman tetapi menyarankan pembaca dengan kalimat "Katakanlah: Tuhan kita yang akan mengumpulkan kita semua, (tersirat di Q.34:25).
Itulah sebabnya bahwa Hadits merupakan perincian dan / atau tafsir dari Al Quran. Hadits berlandaskan Al Quran. Karena Hadits disusun setelah nabi wafat, maka dalam menilai kebenaran pemberitaan Hadits, Al Quran dipakai sebagai batu ujian.
Jadi semua kembali kepada diri anda masing-masing, oleh karena itu segala peringatan yang ada di Al Quran membuktikan bahwa tanggung jawab manusia kelak akan dihadapi oleh yang bersangkutan hanya seorang diri saja !
Sebab tidak ada satupun ayat Al Quran yang menyebutkan bahwa nabi atau rasul dapat menolong manusia dari azab Allah !

Itulah sebabnya Yesus Kristus disebut “Tuhan juru selamat” (yang sesungguhnya tersamar dengan nama “Isa” dalam Al Quran) yang berHak” pada hari kiamat nanti menyelamatkan manusia (yang percaya kepadaNya) dari azab Allah dengan cara membangkitkan manusia tersebut supaya jangan tertinggal di alam siksa kubur yang kekal dan Dia tidak menghiraukan orang yang durhaka karena menghujat ataupun kafir kepadaNya (tersirat di Q.36:52).

Oleh karena rasul Muhammad tahu siapa “anak Maryam” yang sesungguhnya, maka rasulpun melarang para pengikutnya memuji dirinya berlebihan seperti kaum Nasrani / Kristen memuji (memuliakan) “anak Maryam”, sebab beliau tahu akibatnya kalau dirinya dipuji secara berlebihan maka anak Maryam yang sesungguhnya” yang tidak lain bernama “Yesus Kristus” (yang telah diberi kuasa atas Sorga dan Bumi) pasti akan dilupakan oleh para pengikutnya dan hal ini sudah terjadi sampai saat iniTersirat di:

Hadits Sahih Bukhari no: 1503.
Dari Umar r.a., katanya: Saya mendengar Nabi s.a.w. bersabda: “Janganlah kamu memuji (memuliakan) saya berlebihan sebagai orang Nasrani memuji (memuliakan) anak Maryam. Saya hanya hamba Allah. Maka katakanlah “Hamba Allah dan RasulNya





Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan Al Quran diturunkan dengan ayat-ayat yang
bermakna ancaman, yaitu ditujukan bagi mereka yang sudah mendengarkan
berita Injil (kabar gembira) tetapi tetap “membangkang / menyangkal” terhadap Yesus Kristus yang telah diberi kuasa akan membangkitkannya !
Seperti tesamar di Q.19:97.




Apa sebabnya hampir semua pembaca Al Quran akhirnya
menyangkal Yesus Kristus adalah "Tuhan"?


Sebab hampir semua umat mu'min / Islam semasa hidupnya meremehkan Al Quran yang penuh tantangan baik ghaib dan logika.

Hal itu sudah diakui Rasul Muhammad sebagai orang pertama yang menerima Al Quran, tersirat di Q.25:29-30 & Q.72:4.


Q. 25. AL FURQAAN : 29
Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran sesudah Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.



Q. 25. AL FURQAAN : 30
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran ini sesuatu yang tidak diacuhkan".
.
Q. 72. AL JIN ( JIN ) : 4
Dan bawasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.


Kesimpulan inti dari penjabaran diatas:
Semua orang telah mengenal Allah sebelum rasul Muhammad datang.
Akan tetapi Al Quran diturunkan kepada rasul Muhammad agar disiarkan kepada orang-orang mu'min / berserah diri kepada Allah, supaya dipelajari dengan cara dikaji berdasarkan petunjuk yang ada di dalamnya terutama himbauan untuk membaca kitab sebelumnya dengan tujuan mengenal siapa sesungguhnya yang disebut-sebut oleh Allah sendiri dalam ayat-ayat Al Quran : Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kita, Tuhan kami !

Oleh karena itu kalau anda mengkaji Al Quran tidak hati-hati terhadap kekuatan / gangguan syaitan maka akan menjadi fatal, sebab syaitan yang terkutuk selalu berusaha dari Al Quran bisa menyesatkan anda seperti pengakuan rasul Muhammad di Q.25:29, dengan demikian wajib sebelum membaca Al Quran minta perlindungan kepada Allah / tersirat di Q.16:98.


Akan tetapi barang siapa yang mengkaji Al Quran dengan teliti dan hati-hati maka mereka akan tahu bahwa yang boleh disembah hanya ada satu Tuhan yang resmi yaitu yang ada di samping Allah saja, tersamar di Q.26:213 & Q.27:64.


Q.26:213 yaitu: Maka janganlah kamu menyeru (menyembah) tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang di’azab.


Oleh karena itulah jin / syaitan mengakui bahwa Al Quran mena'jubkan, sehingga jin / syaitan membuat suatu pernyataan yang maknanya akan menghalangi / mengganggu setiap orang yang sedang mengkaji Al Quran (tersirat di Q.72:2), agar orang yang bersangkutan sulit untuk memahami makna dari ayat-ayat yang bertujuan mengungkap tentang misteri akan Tuhan yang hakiki, sehingga orang tersebut tidak menghiraukan ayat-ayat tersebut !

Jadi pada dasarnya syaitan tidak menyukai orang yang sedang mengkaji Al Quran karena bisa mengenal / tahu sehingga orang tersebut akan beriman / bersekutu dengan Tuhannya.
.
Akan tetapi Allah sendiri di dalam Ayat Al Quran memberikan penerangan agar pembaca tahu bahwa syaitan itu tidak ada kuasanya untuk mengganggu siapa saja yang sudah percaya dan bertawakkal kepada Tuhannya, tersirat di Q.16:99.


Q.16:99, Sesungguhnya syaitan tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.



Oleh karena itu Al Quran  (Q.16:98) merupakan rambu-rambu peringatan kepada siapa saja yang belum percaya kepada Tuhannya, yaitu; kalau mau membaca Al Quran harus'lah meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan yang terkutuk.

.

Q.16:98, Fa-idzaa qara'tal-qur-aana fasta'idz billaahi minasy-syaithaanir-rajiim
.
Q.16:98, Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.


Ironisnya sampai dengan hari ini setiap orang mu'min / Islam kapanpun dan dimanapun berada apabila mau membaca / mengkaji Al Quran dengan pasti mengucapkan permohonan kepada Allah supaya jangan diganggu syaitan yang jahat.

Ucapan tersebut selalu dilakukan karena semua orang mu'min / Islam masih dalam taraf pengkajian sehingga belum mengerti makna hubungan dari Q.16 ayat 98 terhadap ayat 99, yang sesungguhnya ayat-ayat tersebut bertujuan memicu pikiran pembaca agar mencari tahu: "Siapa Tuhannya itu ?" yang dikatakan Allah dalam ayat tersebut / Q16:99 ?


Maka dengan ucapan permohonan tersebut membuktikan bahwa semua orang mu'min / Islam belum percaya kepada Tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan yang di dalam namaNya ada kuasa dialam alam ruh sehingga ditakuti oleh  syaitan terkutuk /Q.16:99.


Oleh karena itu Q.16:99 bermakna: Supaya orang Mu’min tahu siapa Tuhanmu!
Karena belum tahu jadi tidak heran semua orang Mu’min belum percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas segala makhluk yang  kasat mata maupun yang tidak terlihat kasat mata.

Disinilah yang harus kita sadari bahwa sesungguhnya jin / syaitan-lah yang mempengaruhi manusia agar manusia yang sedang mengkaji Al Quran menjauh dari Injil ! Jadi kalau sampai pada hari ini kitab Injil dilarang bagi pembaca Al Quran dengan berbagai macam alasan, hal itu membuktikan seakan Injil sangat ditakuti !

Sedangkan Q.5:68 menghimbau pembaca Al Quran untuk membaca Injil, ayat tersebut merupakan  perintah tersamar dengan tujuan supaya pembaca tahu siapa yang selalu disebut oleh Allah sendiri dalam Al Quran: yaitu yang dijuluki "Tuhanmu !"

Sebab jika orang yang berhati tulus mengkaji Al Quran disertai membaca Injil, maka rahasia atau misteri dari suku kata "Tuhanmu, Tuhannya, Tuhan kita, Tuhan kami" yang tertulis dalam Al Quran akan terungkap sehingga manusia yang bersangkutan akan tahu bahwa "Tuhannya itu" adalah Yesus Kristus yang tertulis di dalam Injil, dan yang selalu dikatakan Allah, mayoritas tertulis dalam ayat-ayat Al Quran dengan sebutan "Dia" !

Seperti contoh: Ayat Kursi (Q.2:255), surat AL IKHLASH :1-4, dll.
Walaupun demikian tidak semua "suku kata Dia" mengacu  figur dari Tuhan Yesus!

Oleh karena bagi pembaca Al Quran yang juga membaca Injil  akan ada peluang bisa mengetahui tentang rahasia-rahasia "jalan yang lurus" yang merupakan "misteri Tuhan kita", maka hal itulah yang ditakuti Jin / syaitan ! tersirat di surat AL JIN (JIN) :2


Jadi Jin/ syaitan berusaha mempengaruhi pikiran pembaca Al Quran supaya tetap menolak Injil, agar tidak mengenal Yesus Kristus yang sesungguhnya !


Kalau anda sudah membaca penjabaran diatas seharusnya tahu bahwa Tuhan kita yang disapa dengan Nama Yesus Kristus yang diwaktu hidup sebagai manusia, ternyata sekarang dan selamanya "Dia" mempunyai kekuasan tertinggi atas "dunia alam nyata dan akhirat alam ruh" serta semua makhluk termasuk syaitan, tersirat di surat AL JIN (JIN) :3.


Surat AL JIN (JIN) :3, dan bawasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak.


Jelas ayat tersebut merupakan pernyatan dari Jin / syaitan.
Dimana semua umat Mu'min / Islam tahu bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Suci !
Jadi mengapa dalam ayat tersebut Jin / syaitan harus menyinggung sosok akan Tuhan Yang Maha Tinggi tentang Istri dan anaknya ???

Jawabnya: Makna dari kalimat dalam ayat tersebut jika dikaji mendalam dan didukung kitab Injil, maka jelas ayat tersebut adalah "sebuah sandi" supaya pembaca yang sudah membaca Injil berpikir kembali untuk mendapatkan kejelasan yang lebih pasti berdasarkan bukti tertulis, bahwa memang benar Tuhan Yesus Kristus pada saat hidup di bumi sosokNya sebagai Anak Manusia dan sekarang telah kembali ke asalNya Surga, sejarah menulis bahwa Dia selama sebagai manusia tidak beristri dan tidak (pula) beranak !

Dan jika dikaji dengan teliti ayat berikutnya yaitu ayat 4 surat AL JIN (JIN).


AL JIN(JIN) : 4, Dan bawasanya: orang yang kurang akal daripada kami selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah.


Maka pembaca akan tahu bahwa ayat 4 tersebut merupakan "isarat" supaya manusia menggunakan "akal !", yaitu tidak lain carilah kitab Injil agar dapat mengungkap misteri sosok "Tuhan yang tidak beristri dan tidak beranak ", yang disinggung di ayat sebelumnya!

Jadi tujuan membaca Injil bagi orang yang mengkaji Al Quran supaya mengetahui duduk persoalan dasar : siapa nama "Isa" dalam Al Quran dan siapa nama "Yesus" dalam Injil ?, agar orang yang bersangkutan tidak terkecoh, sehingga perkataan yang keluar dari mulut orang tersebut tidak melampaui batas terhadap Allah Yang Maha Tahu !

Dengan demikian orang yang sudah tahu, tidak akan mungkin perkataan dari mulutnya berani menghujat "Tuhan Yesus Kristus" yang pernah diutus kedalam dunia dalam rupa manusia disertai penuh dengan kuasa ke-Illahian maka "Dia" disebut "Manusia Illahi", yang tertulis dalam sejarah sehingga pasti "Dia"sudah dikenal oleh manusia, oleh karena itu hanya "Dia" saja yang patut "disembah oleh manusia" yang di dalam namaNya ada kuasa untuk menghardik kekuatan syaitan / ghoib jahat yang selalu menganggu manusia, hal itu tersirat dengan tersamar dan singkat di dalam ayat Al Quran surat terakhir 114. AN NAAS (MANUSIA) dengan sebutan:  "Ilaahin naas !" (manusia Ilaahi) / ( Sembahan manusia ).

Oleh karena itu ditegaskan di dalam Al Quran bahwa nabi dengan nama “Isa” adalah “Kalimat Allah Roh Allah”, artinya semua kalimat yang keluar dari mulut nabi pembawa Injil adalah “perkataan Allah” sebab Roh Allah yang mendominasi selama hidupnya.

Itulah kebenaran makna dari sebagian ayat-ayat Al Quran yang telah dijabarkan agar para pembaca yang meyakini Al Quran adalah Firman / perkataan Allah supaya sadar bahwa yang selalu disebut-sebut Tuhanmu dalam Al Quran adalah Yesus Kristus yang mempunyai kuasa atas dunia dan akhirat (terlulis di Injil Matius 28:18 dan tersamar di Al Quran surat.3:45).

Jadi apakah anda siap dengan konsekuensi hukuman yang Allah katakan dalam ayat-ayat Al Quran jika anda tetap berkeras menyangkal Yesus Kristus yang kisahNya tertulis di Injil "sebagai Anak Manusia" ?, yang ternyata nanti disaat tiba hari kiamat semua orang harus juga menyebutNya : "Tuhan kita !"

Kalaupun anda masih ragu, hal itu tidak masalah karena masih ada hari esok untuk berpikir, yaitu anda harus mempertimbangkan dan mencerna dengan teliti apa yang pernah dikatakan oleh rasul Muhammad yang tertulis di dalam Hadits Shahih Bukhari 1577 pada kalimat terakhir,


yaitu: ................Tiadalah tinggal dalam Neraka kecuali orang yang dipenjarakan Qur'an dan mesti kekal di dalamnya.


.Sekarang timbul pertanyaan apa maksud rasul Muhammad mengatakan seperti itu ?
Jawabnya: Bahwa ucapan rasul Muhammad tersebut merupakan sebuah "peringatan" agar pembaca Al Quran harus hati-hati akan misteri "ayat Mutasyabihat" yang terkandung di dalamnya, sebab Al Quran bisa membuat pembacanya hanya memahami "sosok Isa nabi pembawa Injil adalah manusia biasa saja", sehingga pembaca Al Quran selama hidupnya akan sulit mengakui Yesus Kristus di Injil adalah Tuhan yang berHak membangkitkan semua orang!

Dengan demikian yang bersangkutan nanti sampai tiba hari berbangkit akan tetap tinggal di alam siksa kubur sampai akhirnya hukuman neraka yang kekal !

Oleh karena itu ucapan rasul tersebut sudah memprediksikan efek yang terjadi dari setiap orang yang selama hidupnya hanya membaca Al Quran saja tanpa mau mambaca Injil, maka orang tersebut selama hidup di dunia pikirannya hanya terpaku pada pemahaman ayat-ayat "tentang kisah nabi Isa" yang tergolong "mutasyaabihaat" yang ditelan mentah-mentah sehingga menyangkal bahkan menghujat Yesus Kristus yang tertulis di Injil adalah "Tuhannya semua orang / Tuhan kita !".

Oleh karena itu selama hidup di dunia pikiran orang tersebut bagaikan "terpenjarakan Al Quran" sehingga tidak mau membaca Injil, yang berakibat kelak akan "tinggal di neraka" yang kekal (terisat di Q.36:52), sebab dikarenakan penyangkalannya maka orang tersebut pada saat tiba hari kiamat tidak ikut dibangkitkan oleh Tuhan Yesus Kristus yang pernah berjanji tentang hal itu !
Itulah yang dimaksud ada pengharapan bagi siapa saja yang percaya Tuhan Yesus !


Jadi yang harus dipahami: Kedua nama yaitu, Yesus Kristus dan Isa Almasih menyinggung soal Injil dan diyakini oleh masing-masing kelompok Kristen dan Islam yang kelak akan datang kembali ke dunia di akhir zaman / untuk  mengumpulkan umat manusia karena sebagai Hakim.
Tetapi perlu di ingat Al Quran 34:26 dengan netral tidak menyinggung nama Isa maupun Yesus yang akan datang kembali / untuk mengumpulkan semua orang (termasuk pembaca Al Quran) melainkan dengan tegas menghimbau pembacanya agar menyebutnya: Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua. Jadi jelas gambaran dari kedua nama tersebut berstatus Tuhan.


Jadi sangat disayangkan kalau sampai hari ini ayat-ayat tertentu di dalam Al Quran yang secara tersamar menjelaskan kebenaran Injil pasti disanggah dengan berbagai argumen yang dikemukakan, yang bertujuan untuk menyangkal Tuhan Yesus Kristus !


Itulah sebabnya mengapa Injil Kristus harus diberitakan kepada semua orang  di Dunia?

Jawabnya : supaya semua orang mempunyai pengharapan akan janji yang pernah diucapkan oleh Tuhan Yesus Kristus diwaktu “Dia” masih hidup sebagai Anak Manusia!


Oleh karena itu kalau anda belum memahami "peringatan" yang di berikan rasul Muhammad kepada umatnya, maka sampai kapanpun anda akan tetap terpaku dengan nama "Isa" yang tertulis di Al Quran, maka hal itu merupakan awal timbulnya rasa anti pati terhadap tokoh "asli" yang tertulis di Injil, dan akhirnya sampai disitu saja pengetahuan anda, sehingga anda tidak akan tahu siapa sebenarnya Yesus Kristus itu sekarang ini dan nanti !"

Dan sekalipun anda membaca Injil maka andapun hanya mendapati kisah Anak Manusia Yesus Kristus yang tertulis di dalamnya, tetapi setelah disimak dengan hikmat maka kita akan tahu bahwa setelah "Dia" bangkit kembali ke asalNya Sorga beberapa ribu tahun yang lalu dengan meninggalkan janji-janjiNya maka kita harus sadar, bahwa "Dia" sekarang ini adalah Tuhan dan ditambah lagi penegasan akan wewenang "Dia" dalam Al Quran surat.34:26 bahwa nanti dihari kiamat semua orang siapapun juga harus mengatakan "Tuhan kita!", karena "Dia" yang mengumpulkan kita semua.
Jadi jelas sekarang dan nanti sama saja bahwa Yesus Kristus adalah "Tuhan kita !".

Dengan demikian selama kita masih bisa melihat dan mendengar dalam dunia ini maka kita harus sadar akan hal tersebut, karena sebentar lagi, hari ini, besok ataupun lusa bisa merupakan hari terakhir bagi siapa saja.
Oleh karena itu sebelum ajal menjemput pelajarilah Al Quran dengan sebenar-benarnya !


Sebab gambaran akan "Sorga dan Neraka" bukanlah sekedar hadiah ataupun hukuman bagi manusia, akan tetapi merupakan konsekuensi hasil dari pilihan yang bersangkutan selagi masih hidup di dunia !


Memang sifat kita sebagai manusia sulit untuk percaya kalau belum membuktikannya.
Oleh karena itu segala prediksi tentang "akhirat" di dalam Al Quran yang sebenarnya mendukung kebenaran kitab Injil sangat sulit untuk mempercayainya !

Dari semua penjabaran diatas bahwa kitab Al Quran sarat dengan peringatan-peringatan yang ditujukan bagi pembacanya, oleh karena itu Kitab Al Quran merupakan gambaran pedoman perjalanan hidup “seorang manusia” yang berujung bagaimana keadaan yang bersangkutan diakhir ajalnya, jadi tidak heran kalau Al Quran harus dikaji bagi setiap pribadi semua orang Mu’min untuk mengambil kesimpulan demi keselamatan pribadinya di akhirat nanti.
Oleh karena itu makna ayat-ayat Al Quran lebih menjurus ke pribadi para pembacanya.
Sedangkan “Al Kitab” merupakan gambaran perjalanan hidup umat manusia”.



Perlu diperhatikan; walaupun anda mengkaji Al Quran dan membaca Injil Kristus tetapi hanya untuk  mencari perbedaan maka jelas hasil kesimpulannya akan bertentangan, jadi kajilah Al Quran dengan mencari persamaan dalam hal yang mendasar yaitu makna hubungan yang tersembunyi antara Al Quran dan  Injil, yang tidak lain tentang satu tokoh yang menyinggung soal Injil tetapi dengan dua nama yang berbeda  ( yaitu nama Isa dan Yesus).

Sebab kalau kita meyakini bahwa Allah itu Esa maka pada hakekatnya  tidaklah mungkin Al Quran diturunkan  mempunyai cara yang berbeda terhadap keselamatan manusia di akhirat.

Contoh ayat yang  sangat popular dikalangan umat Mu’min/ Islam yaitu  Q.2:120 sehingga umat Mu,min/Islam beranggapan sejak dahulu kaum Yahudi dan Nasrani mereka berhati dengki.


Q.2:120 ; Orang-orang  Yahudi  dan  Nasrani  tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama merekaKatakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk  (yang sebenarnya)”Dan  sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu,  maka  Allah  tidak  lagi  menjadi  pelindung  dan  penolong  bagimu.


Ayat tersebut di Al Quran jika dikaji seadanya tanpa  mendalami kitab  sebelumnya maka para pembaca akan menelan mentah-mentah arti yang nyata dalam ayat tersebut,   oleh karena para pembaca terpengaruh isi dari ayat tersebut maka yang bersangkutan bisa  berpendapat  orang-orang Yahudi dan Nasrani/Kristen berhati dengki !

Pendapat tersebut bagi setiap orang Mu’min / Islam tidak dapat dipersalahkan karena apapun kesimpulan / keputusannya selagi masih hidup di dunia   “berpedoman tanpa paksaan”.

Oleh karena itu ayat diatas  kalau ditelan mentah-mentah oleh umat yang membacanya maka dapat membuahkan anti pati terhadap gambaran akan  kaum Yahudi dan Nasrani / Kristen  sampai sekarang.                     

Dengan demikian sampai kiamat-pun kalau ayat tersebut tidak dipahami dengan bijak maka menjadi sangat sulit bagi umat Mu’min / Islam dari generasi ke-generasi (turun temurun)  untuk lebih dekat / percaya terhadap kaum Yahudi dan Nasrani/Kristen.


Coba kita selidiki ayat di Q.2:120 makna dari setiap kalimatnya:


1-      Orang Yahudi dan Nasrani mereka tidak akan senang kepada kamu jika kamu tidak mengikuti agama mereka

Kalimat tersebut bisa menimbulkan kesimpulan bahwa mereka Yahudi dan nasrani berhati dengki, tetapi perlu diingat dizaman itu di jazirah arab memang hanya ada mayoritas keturunan kaum Yahudi yang kafir terhadap Isa (figure Yesus) dan yang percaya / Nasrani, disaat itu  mereka saling memberitakan Iman kepercayaannya masing-masing, dimana hampir semua  sifat manusia  kalau kemauannya tidak diikuti maka hati yang bersangkutan pada umumnya tidak akan senang !


2-      Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk  (yang sebenarnya)”.

Kalimat diatas adalah menegaskan bahwa Al Quran’lah  sebagai petunjuk. Dimana arti dari petunjuk,  yaitu harus dibaca / dipelajari supaya tahu yang sebenarnya “arah yang dituju”.

3-      Dan  sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu maka  Allah  tidak  lagi  menjadi  pelindung  dan  penolong  bagimu.

Kalimat diatas kita harus teliti  bahwa suku kata “mereka” tersebut pasti salah satu diantara Yahudi dan Nasrani jadi tidak akan mungkin kedua-duanya diikuti, oleh karana itu dapat dipastikan mereka (yang diikuti) dalam ayat tersebut mengacu pada kaum Nasrani sebab tertulis “setelah pengetahuan datang kepadamu”  yaitu membaca Injil  maka pembaca Al Quran yang juga membaca Injil akan mendapatkan kesamaan di dalam kedua kitab tersebut, yaitu mengenai satu tokoh yang telah diberi kuasa terhadap Sorga dan Bumi, sehingga segala keselamatan terhadap manusia di akhirat sudah diserahkan kepada seorang sosok nabi pembawa Injil yaitu Isa (gambaran dari Yesus Kristus) dengan demikian jelas bahwa Allah dalam ayat tersebut  tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu!
Oleh karena itu kalau kita tidak mau membaca Injil dengan benar maka kita tidak akan tahu mengapa dalam kalimat di ayat tersebut menekankan dengan kata “tidak lagi menjadi …..?”

Jadi  jika kita setelah membaca ayat tersebut kemudian menduga kalau orang mengikuti kaum nasrani maka Allah akan marah tidak lagi menolongmu, berarti pemahaman kita sangat keliru.

Sebab berulang-ulang dikatakan dalam Al Quran bahwa Allah Maha Bijaksana dan kitapun mengakui bahwa “Allah Maha Bijaksana” dengan demikian tidak akan mungkin Allah Yang Maha Bijaksana serta Maha Pengasih dan Pemurah akan kejam tidak mau menolong umatNya.

Karena makna dalam ayat Q.2:120  hanya ringkas adanya, sehingga bagi yang tidak membaca Injil dengan benar akan keliru karena makna yang sesungguhnya akan sulit dipahami.


Oleh karena itu pemahaman dalam ayat Q.2:120  jika ditinjau dengan bijak tentang   hubungan Al Quran dengan Injil maka maknanya akan jelas dengan kesimpulan yaitu;  Jika kamu sudah mendapat petunjuk melalui Al Quran  di Q.5:68 supaya membaca Injil, maka kamu akan mengikuti mereka yaitu  kaum Nasrani, berarti mengikuti mereka atas kemauan sendiri karena setelah pengetahuan datang  kepadamu dari kitab Injil bahwa Yesus Kristus telah diberikan oleh Allah “segala kuasa Sorga dan Bumi” dan kamu akan lebih yakin bahwa Al Quran surat 3:45 menegaskan kembali hal tersebut,  dimana sosok nabi pembawa Injil yaitu Isa Putera Maryam hanya seorang saja yang terkemuka dunia dan akhirat, dengan demikian kamu akan sadar  bahwa sejak itulah (600 tahun sebelum Al Quran diturunkan)  Yesus Kristus mulai  menjadi penolongmu. Maka 600 tahun kemudian Al Quran mengingatkan kembali bahwa Allah tidak lagi menjadi  pelindung dan penolong bagimu karena segala kuasa termasuk keselamatan jiwa’mu (manusia) di akhirat sudah “di tangan Yesus Kristus”, oleh karena itu Dia disebut Juru Selamat manusia.

Itulah penjabaran panjang lebar yang ditinjau dari “hubungan tersembunyi” antara Al Quran dan Injil, jadi tidak heran kalau ada orang mengatakan bahwa: “Al Quran ringkasan dari Injil”.




Jadi kesimpulan dari Q.2:120 jika ditinjau dari hubungan antara Al Quran dan Injil:

Kalimat 1: Sifat manusia kalau tidak tercapai akan kecewa / “tidak akan senang”.

Kalimat 2: “Petunjuk” dari Allah adalah Al Quran, dimana salah satu ayatnya (Q.5:68) himbauan untuk membaca Injil.

Kalimat 3: Kalau  “mengikuti” salah satu dari mereka yaitu kaum nasrani atas kesadaran pribadinya dikarenakan sudah mendapatkan  “pengetahuan” dari kitab Injil bahwa  Allah tidak lagi menjadi penolong karena segala kuasa atas keselamatan semua manusia yang ada di bumi menuju ke akhirat sudah diberikan kepada Yesus Kristus (Isa di Al Quran).



Itulah salah satu ayat Mutasyabihaat (Q.2:120), dimana golongan ayat Mutasyabihaat jika diyakini  tanpa dipelajari terlebih dahulu secara mendalam maka yang bersangkutan akan menggunakan ayat tersebut untuk menimbulkan fitnah, ironisnya hal itu sudah ditegaskan di Q.3:7.

Penjabaran diatas berdasarkan pemahaman bahwa “Al Quran menegakkan kebenaran  yang berarti: kebenaran terdahulu (yang sudah ada) ditegakkan kembali, jadi harus diingat  Al Quran bukan menegakkan kesalahan !!!

Oleh karena itu tulisan dalam blog ini merupakan fakta adanya “hubungan tersembunyi” antara ayat-ayat tertentu di dalam Al Quran terhadap sebagian dari ayat-ayat yang terdapat di dalam kitab sebelumnya yaitu kitab Injil.
Dimana ayat-ayat tersebut bertujuan membenarkan kitab sebelumnya dan hal itu sudah ditegaskan dalam Al Quran surat 12 YUSUF:111.


Q.12 YUSUF : 111 yaitu; Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.


Sekalipun pembaca blog ini tidak mau mengakui adanya faktahubungan tersembunyiyang bertujuan membenarkan kitab sebelumnya (Injil), berarti pembaca telah mendustakan ayat-ayat di dalam Al Quran yang mengandung makna tersebut.

Hal itupun tidak diherankan sebab “Allah Yang Maha Tahusehingga sudah memprediksikan akan isi hati dan pikiran pembaca Al Quran yang menyangkal hal itu dikemudian hari (tersirat: Q.69:49). 


Q.69:49
Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya).


Oleh karena itu ayat diatas menimbulkan pertanyaan: Ayat apa dalam Al Quran yang didustakan?




Apa sebabnya hampir semua orang mu’min / Islam tanpa membaca
Al Quran tetap menyangkal Yesus Kristus adalah Tuhan ?
.

Pada umumnya hampir semua orang mumin / Islam jarang yang membaca Al Quran bahkan ada yang sama sekali tidak membacanya, sedangkan yang sudah membacapun enggan membaca AlKitab walaupun sudah dihimbau di Q.5:68, dengan demikian kurang memahami sejarah terdahulu.

Sedangkan mereka yang tidak membaca Al Quran tetap menyangkal Yesus Kristus adalah Tuhan”.

Penyangkalan tersebut akibat menelan mentah-mentah kalimat: Tidak ada Tuhan selain Allah !”
Oleh karena itu kalimat tersebut menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi untuk menyangkal mentah-mentah tentang status  KeTuhan-an Yesus Kristus !
.
Akan tetapi kalimat tersebut hanyalah penegasan bahwa "Tuhan itu adalah Allah sendiri !".
Hal itu dapat dimengerti jika disimak dengan sangat teliti mulai dari awal isi kitab Taurat kemudian Injil, dan sampai pada kitab Al Quran di surat AL IKHLASH !
.
Jika kita sudah menyimak isi dari Taurat dan Injil maka bisa disimpulkan bahwa pada mulanya manusia mengenal Sang Haliq dengan sebutan Allah.
Dimana Allah yang telah menciptakan dan memelihara alam semesta dan makhlukNya yang dikenal sebagai Sang Pencipta dengan sebutan “ TUHAN Allah”.
Oleh karena itu sejak saat itu manusia mengenal bahwa Sang Maha Kuasa adalah TUHAN Allah.
.
Akan tetapi setelah Yesus Kristus hadir di dunia sebagai jelmaan manusia dari Ruh Allah sendiri!
Diwaktu "Dia" hadir di dalam dunia nyata (alam zhahir),“Dia” telah bersabda akan "Janji-janjiNya" yang menyangkut dengan "Hak" dari wewenang Ke'IllahianNya.

Karena “Dia” berwujud manusia maka kehadiran dan kematianNyapun harus mengalami proses layaknya sebagai manusia, hal itu semua sudah dinubuatkan dalam kitab Taurat termasuk harus mati di kayu salib sebagai manusia dan bangkit dari antara orang mati !
Kemudian "Dia" terangkat di awan untuk kembali ke asalNya Sorga dan disaksikan oleh saksi hidup yaitu murid-muridNya, maka di wilayah itu semua orang mulai saat itu percaya bahwa Yesus Kristus yang pernah hadir di dunia sebagai anak manusia adalah Tuhan !
Jadi mulai saat itu  Injil / “kabar gembira” harus diberitakan ke seluruh dunia supaya semua orang mendengar sehingga mengenal Tuhannya.
.
Oleh karena itu semua orang yang percaya Tuhan Yesus mempunyai kesimpulan:
Bahwa Allah Sang Haliq yang sejak dahulu tidak pernah dilihat oleh kasat mata manusia, maka sejak saat itulah "manusia berdosa" yang mempunyai keterbatasan dapat mengenal secara nyata akan "gambaran Allah Yang Maha Pengasih" melalui sosok  Tuhan Yesus Kristus yang pernah hadir ke dunia dalam rupa manusia !

Maka mereka yang sudah percaya mempunyai kalimat yang berbunyi:
Tidak ada Allah selain Tuhan!” (kalimat tersebut bukan berarti menyangkal keberadaan Allah Sang Haliq), hal itu sampai saat ini diyakini sehingga ada sebuah lagu / nyanyian kaum Kristen yang berjudul seperti kalimat tersebut.

Ironisnya setelah 600 tahun kebangkitan Yesus kembali keasalNya Sorga, masih banyak orang yang telah mendengar berita gembira / Injil yaitu berita telah hadirnya “Juru selamat manusia” ke dunia, tetapi  mereka tetap saja tidak percaya bahwa Dia Yesus Kristus adalah Tuhan !

Oleh karena itu sejak awal Al Quran ada diwilayah itu, hanyalah sebagai bahan "pelajaran" supaya semua orang yang masih berpikiran "netral" dan berserah diri kepada Allah mengetahui siapa Tuhanmu itu, dan sebagai "peringatan" bagi orang yang tetap "membangkang" terhadap Tuhanmu yang akan membangkitkan kamu di hari kiamat !
.
Dengan demikian sampai pada hari ini kalau diselidiki secara mendalam maka kalimat yang diyakini oleh semua orang mu’min / Islam yang berbunyi: Tidak ada Tuhan selain Allah sesungguhnya bertujuan menegakkan / mendukung makna dari kalimat yang sudah diyakini oleh kaum terdahulu yaitu Nasrani yang berbunyi : Tidak ada Allah selain Tuhan”.
Hal itu tersirat di dalam surat 112. AL IKHLASH.
.

Q.112 ayat: 1-4
1. Katakanlah:Dia-lah Allah, Yang Maha Esa”.
.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.

3. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan,
.
4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia


Jelas ayat-ayat diatas menekankan bahwa “Dia” adalah sosok seorang manusia, hal itu ditegaskan dengan suku kata setara pada ayat 4, sehingga jelas dalam ilmu perbandingan dari Yang Maha Adil, suku kata “setara” tersebut menegaskan perbandingan yang selaras.

Dengan demikian bahwa yang dimaksud “Dia” adalah mengacu kepada sosok orang / manusia juga, oleh karena "Dia" adalah Allah sendiri maka ditegaskan bahwa posisi / wewenang jabatan dari pada “Dia” adalah “Tuhan”.

Jadi surat 112 AL IKHLASH menegaskan bahwa “Dia” yang tertulis di dalamnya adalah Allah sendiri di zaman itu (600 tahun sebelum ada Al Quran) pernah menjelma menjadi manusia sempurna, oleh karena jelmaan dari "Ruh Allah sendiri" (Allah Esa) maka "Dia" berwujud seorang anak laki-laki yang suci". (tersirat di Q.19:17&19).

Hal tersebut di pertegas pada Q.112 : ayat 3, bahwa "Dia" bukan terjadi dari "proses peranakkan" yang dibuahi benih manusia biasa pada umumnya dan "Dia" tidak mempunyai anak, karena tidak beristeri, tersirat di Q.72:3

Dalam Al Quran seorang anak laki-laki suci dengan nama "Al Masih Isa Putra Maryam", yang dikenal sosok nabi pembawa Injil.


Karena "Hadirat Dia" dalam rupa manusia, maka "Dia" memiliki silsilah menurut budaya manusia pada umumnya, dan sebelum kehadiranNya ditengah-tengah manusia sudah dinubuatkan Allah, bukti terprediksikan dalam kitab Taurat.

Oleh karena itu kedatangan "Dia" sudah dirancang / ditetapkan harus hadir di tengah-tengah manusia yang merupakan dari garis keturunan kaum "pilihan Allah juga!" yaitu umat yang dilebihkan ni'mat oleh Allah dari segala umat di dunia (Q.2:47).
Maka sejak saat itu bahkan sampai dengan hari ini bagi siapapun dan dimanapun yang percaya kepadaNya menyebut "Dia" adalah "Allah Yang Hidup!"

Sebab melalui "Dialah" manusia mengenal "figur Allah yang sejati", karena dari awal mulanya sejarah mencatat bahwa tidak ada manusia yang sanggup melihat Allah, karena "Maha Suci !".

Jadi kesimpulannya surat 112 Al IKHLASH merupakan penegasan tersamar dari salah satu atau "sepertiga sebutan" dalam pemahaman "Trinitas" bagi kaum Nasrani, tentang pengertian "Allah Tritunggal", yaitu tentang arti Keesaan Tuhan, bukan Keesaan Allah.

Mengapa disebut "Allah Putra" ?.
Jawabnya: Karena dalam sejarah hidup manusia di bumi tercatat bahwa Allah sendiri pernah hadir dalam rupa Anak Manusia, sehingga sekarang manusia mengenal tentang hal itu dari sejarah yang merupakan urutan zaman sejak "Adam Hawa sampai kehadiran Yesus", maka  "Hadirat Allah dizaman Yesus" disebut "Allah Putra / Allah Anak", dengan demikian tidak heran 600 tahun kemudian Al Quran nenegaskan lagi tentang hal itu dengan tersamar, yaitu  untuk menegakkan kebenaran sejarah terdahulu melalui surat AL IKHLASH, maka dalam ayat-ayatnya ditekankan dengan suku kata "Dia", supaya pembaca memahami bahwa sosok "Dia" adalah Allah sendiri yang pernah hadir di dunia menjadi seorang (Putra) Anak Manusia Suci yang disebut dengan kata "Tuhan !".


Oleh karena itu dalam surat 3. ALI IMRAN : 18 ditegaskan pada kalimat awal:
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan "Dia !".


Jadi ayat tersebut memancing pikiran pembaca : siapa sosok "Dia" yang layak disebut "Tuhan"?

Itulah bukti bahwa surat AL IKHLASH merupakan penjabaran tersamar tentang salah satu sebutan dalam "Trinitas" yaitu "Allah Putra / Allah Anak", yang tidak lain mendukung secara tersamar tentang Ketuhanan Yesus Kristus, karena setelah 600 tahun kebangkitanNya ke Sorga masih banyak orang yang ragu dan bertanya-tanya: Mengapa di dalam Injil kalau Yesus Kristus disebut Tuhan, "Dia" juga berdo'a seperti kita ???

Jawabnya: Karena diwaktu "Dia" hadir dalam alam zhahir di dunia ini wujudNya manusia, oleh karena itu "Dia" juga berdo'a bergantung kepada Allah !
  
Ingat !
Tulisan ini bukan ditinjau hanya dari satu sisi saja !
Karena dasar dari tulisan ini untuk menjelaskan bahwa Al Quran membenarkan kitab sebelumnya yaitu kitab Injil (tersirat di Q.12:111) .


Dengan demikian jelas tujuan dari surat AL IKHLASH menegaskan dengan ringkas dan tersamar bahwa "Dia adalah Tuhan" yang bergantung kepada Allah !
Jadi surat Al IKHLASH jika dikaji dengan teliti, akan memancing pembaca supaya berpikir: Tuhan siapa yang bergantung kepada Allah ?

Kemudian kalau pembaca Al Quran sudah membaca Injil dengan benar, maka akan tahu bahwa sosok Yesus Kristus pada saat berada di dunia "Dia" adalah Allah yang menjadi Manusia dengan kata lain Manusia Illahi ! dengan sebutan Tuhan.

Kenyataan itulah yang sangat sulit untuk diakui oleh manusia terutama para pembaca Al Quran. Ingat bahwa “Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”, dimana Allah sanggup melakukan apa saja termasuk menjelma menjadi manusia, tetapi manusia tidak akan bisa menjelma menjadi Allah, oleh karena itu  manusia diingatkan janganlah melampaui batas dalam agamamu, agar jangan meremehkan kemampuan Allah !

Penjelasan diatas yang panjang lebar mudah dipahami “kalau kita percaya”  yang sudah  Yesus katakan sebelum Al Quran diturunkan,  tertulis di Injil Yohanes 12:45 ;


yaitu: dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.


Jadi kalau disimak isi dari ayat diatas jelas bahwa Yesus Kristus adalah “gambaran dari Allah Yang Sejati”, oleh karena itu sejak “Dia” (Yesus) bangkit dan sampai 600 tahun kemudian ayat-ayat Al Quran diturunkan bahkan sampai dengan hari ini siapapun juga tidak lazim menyebutNya "nabi Yesus", maka Al Quran pun untuk menceritakan sosok seorang nabi dengan kitab Injilnya tidak layak menggunakan nama “Yesus Kristus” karena “Dia” setelah bangkit bukan lagi disebut “Anak Manusia” melainkan harus menyebutNya “Tuhan kita” yang berhak mengumpulkan semua orang diakhir zaman, seperti apa yang telah disarankan di ayat Al Quran surat.34:26.


Dengan demikian jelas bahwa Yesus Kristus bukan manusia biasa seperti para nabi yang lainnya, oleh karena itu tidak ada satupun para pengikut Yesus Kristus yang bershalawat (berdo'a) untuk Yesus !
Sebab "Dialah Yesus Kristus" yang memberikan jaminan keselamatan akhirat bagi para pengikutNya dan siapa saja yang percaya kepadaNya !


Jadi tidak heran kalau kesimpulan surat terakhir penutup dalam Al Quran yaitu


surat 114. AN NAS ayat : 1
Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia. (Qul a'uudzu birab-bin naas).


Oleh karena itu Rasulullah saw, dalam sabdanya pernah mengatakan hal tersebut yaitu tentang Tuhan manusia, tertulis di Hadits SHAHIH BUKHARI no:1661.



Hadits SHAHIH BUKHARI no:1661 :
Dari ’Aisyah r.a.,  Rasulullah saw. Kalau  pergi  mengunjungi  orang  sakit, atau orang sakit dibawa kepada beliau, maka beliau selalu berdoa:Hai  Tuhan  manusia!  Hilangkanlah  penyakitnya  dan  sembuhkanlah  iaEngkaulah yang mampu menyembuhkan. Kesembuhan itu  hanya  karena  Engkau  menyembuhkan. Kesembuhan yang menghilangkan penyakit.”


Mengapa Rasul bukan memohon dengan berkata:  “ ya’ Allah  ya’  Tuhan kami ?”
Mengapa Rasul  selalu  “berdoa” perkataannya memohon kepada Tuhan manusia?”
(Kalau sudah paham pasti tahu jawabannya ! : Yaitu  mengacu kepada  Tuhan Yesus Kristus  yang pernah melawat bumi)

Dengan demikian apa yang disabdakan rasul Muhammad tentang “Tuhan Manusia” supaya para pengikutnya tahu bahwa Tuhan Manusia itu tidak lain adalah sosok manusia yang pernah menampakkan wujudNya ke-dalam dunia dan telah dinyatakan oleh Allah dalam Al Quran bahwa manusia tersebut sekarang  “hanya dia saja seorang (hanya satu) yang mempunyai kedudukan” terkemuka di dunia dan akhirat, (di, Q.3:45).

Jadi tidak heran kalau rasul Muhammad mengakui bahwa dirinya adalah orang yang paling dekat dengan anak Maryam, tersirat di Hadits SHAHIH BUKHARI no:1500


Hadits SHAHIH BUKHARI no:1500
Dari Abu Hurairah r.a, katanya: Saya mendengar Rasulullah  s.a.w. bersabda: ”Sayalah orang yang paling dekat kepada anak Maryam. Semua Nabi-nabi itu seketurunan. Tiada seorangpun Nabi dalam masa saya dengan dia


Sabda rasul diatas tidak lain supaya para pengikutnya berpikir: siapa sesungguhnya nama dari sosok anak Maryam yang sudah dikenal sebelum Al Quran diturunkan ?
Karena nama anak Maryam sebelum ada Al Quran yaitu: nama “Yesus Kristus”, maka kalimat terakhir menegaskan: sesungguhnya dia”/Yesus bukanlah seorang nabi karena bukan keturunan dari Adam, sebab dia/ Yesus tidak mempunyai bapa duniawi. Jadi jelas bahwa status kedua orang tersebut (saya / dia“bukanlah nabi”.
(Ket: suku kata ganti “dia”  lazimnya digunakan untuk orang yang sedang dibicarakan  belum dianggap Almarhum).

Maka tidak heran kalau pakar tafsir Al Quran berpendapat bahwa surat AL IKHLASH mempunyai bobot / fungsi sepertiga dari isi Al Quran, yaitu sebagai dasar tentang pemahaman dan kesimpulan tauhid "Ketuhanan Yang Maha Esa !".
Itulah bukti bahwa Al Quran hanyalah pelajaran supaya manusia yang awam (berpikiran netral hanya berserah diri kepada Allah) harus mengetahui siapa yang selalu disebut-sebut dalam Al Quran: "Tuhanmu, Tuhanku, Tuhan kamu dan Tuhan kita !", yang telah diberi kuasa oleh Allah Sang Haliq atas Dunia dan isinya yaitu yang berhubungan dengan keselamatan bathin / jiwa setiap manusia "di akhirat".

Ket: Contoh Ilustrasi tentang "tiga sebutan"; Seseorang pada saat masih kecil disebut "anak", setelah dewasa dan menikah disebut "bapak" dan setelah beberapa tahun kemudian punya cucu disebut "kakek", jadi masing-masing sebutan itu ditujukan kepada satu orang saja sesuai dengan masanya.


Oleh karena itu dalam pengertian "Tritunggal" selalu disebut: dengan nama "Bapa dan Anak dan Rohu'lkudus", sebutan tersebut merupakan dari gambaran sifat "Hadirat Allah YangTunggal" sesuai dengan masanya ( jadi:bukan berarti banyak illah ).
Maka jelas bahwa sebutan "Tritunggal" berdasarkan gambaran "Hadirat Allah Yang Tunggal" yang dikenal dalam sejarah kehidupan manusia yang terurai di dalam "Alkitab".
Jadi jelas sebutan tersebut tidak dapat dipisahkan salah satu dari yang tiga, maka tidak lazim kalau menyebut tentang "Tritunggal" hanya satu atau dua saja, seperti menyebut salah seorang dari yang tiga !
Sebab keberadaan Allah adalah Tunggal bukan seperti kita memisahkan keberadaan orang !
Hal itulah yang harus dipahami supaya tidak menimbulkan kekeliruan !


Kesimpulan tentang perbedaan: Islam menegaskan pendiriannya pada konsep keesaan terhadap “Yang Maha Esa” sedangkan Kristen menjabarkan hadirat dari “Yang Maha Esa” seperti yang tertulis dalam Alkitab yaitu uraian kisah sejarah hubungan manusia kepada Yang Maha Esa.

.
Karena "Dia" pernah hidup dalam rupa Anak Manusia, maka "Dia" mempunyai nama ! Yaitu "NamaNya adalah Yesus Kristus"
.
Oleh karena itu orang yang sudah mengenal "Dia", apabila menyapa Allah dalam do'anya selalu berkata: di dalam "nama Yesus Kristus" yang sifatNya penuh "Kasih", sebab "Dia" menyayangi umat manusia sehingga "Dia" sosok pemurah karena menerima Taobat umatNya !

Bagi orang-orang yang belum mengenal / percaya akan "Dia" (Yesus Kristus / di Injil), maka orang tersebut tergolong masih awam dengan demikian tidak diherankan kalau yang bersangkutan hanya tahu bahwa figur Allah adalah "Zat Yang Maha Suci".

Oleh karena itu ada sesuatu alasan yang tidak disadari maknanya oleh semua orang mu'min / Islam, yaitu sebuah kalimat yang selalu terdapat di awal semua surat Al Quran: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Kalimat tersebut secara tersamar menegaskan bahwa ada sosok / figur "nama" yang mempunyai sifat: Pemurah, Penyayang dan lain-lain untuk sebutan sifatNya.


Jadi kalimat: Tidak ada Allah selain Tuhan dan Tidak ada Tuhan selain Allah”, apabila dibulak balik mempunyai makna yang sama bagi orang yang tahu !


Sebab masing-masing kalimat tersebut sebenarnya merupakan sebuah slogan bagi kaum Nasrani / Kristen  dan  Mu'min / Islam yang bermakna saling mendukung !

Jadi kalimat tersebut bukan untuk menyangkal keberadaan Allah Sang Haliq dan bukan untuk menyangkal keberadaan Tuhan yang akan mengumpulkan kita di akhir zaman !
Tetapi kedua kalimat tersebut bertujuan untuk menyadarkan orang-orang dizaman itu yang telah terpengaruh kaum Yahudi yang tetap kafir kepada Dia sosok nabi pembawa Injil serta memperselisihkan tentang siapa "Dia" sesungguhnya!

Hal itu disebabkan mereka sudah mempunyai antipati sehingga termasuk kaum yang "membangkang” terhadap berita gembira yaitu Injil keselamatan.
.

Oleh karena itu surat AL IKHLASH  bertujuan menjelaskan tentang KeEsaan Tuhan  bukan keEsaan Allah (karena ayat Al Quran jelas hanya menyinggung supaya manusia jangan menyembah tuhan yang lain / Q.26:213) yang diuraikan dengan rinci bahwa : dimana  "Dia" waktu hadir ke dunia adalah sosok manusia yang terjadi bukan dari hasil peranakan yang dibuahi benih manusia dibumi, sehingga tidak ada satu manusiapun yang setara dengan "Dia", oleh karena itu "Dia" disubut Tuan atas segala manusia di bumi, karena "Dia" manusia pasti mempunyai NAMA, dan karena  "Dia"  telah diberi  kuasa oleh Allah Sang Haliq atas dunia dan akhirat sehingga "Dia" disebut "Tuhan" yang bergantung kepada Allah.

Oleh karena itu bagi orang yang sudah mengkaji Al Quran dengan dilandasi fitrah diri  kemudian disertakan dengan membaca kitab Injil Kristus dengan tulus hati, maka bisa memahami bahwa: "Tuhan adalah Allah sendiri yang pernah hadir dalam rupa manusia" dengan nama Yesus Kristus, dan yang tersamar dalam Al Quran "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir" serta dikisahkan secara zhahirnya / nyata dalam Al Quran sebagai sososk nabi pembawa Injil.

Karena Al Quran diyakini merupakan perkataan Allah  melalui malaikat jibril, maka apa yang tertulis di surat 112. AL IKHLASH  merupakan penegasan  tentang sosok siapa "Dia" yang selalu Allah katakan dalam ayat-ayat yang lainnya.

Ket: Jadi tidak heran kalau dalam surat 43. AZ ZUKHRUF :61 tertulis bahwa "Isa telah memberikan pengetahuan tentang hari kiamat", isi dari bunyi ayat tersebut supaya pembaca Al Quran berpikir kristis: Mengapa (Allah berkata dalam Al Quran) hanya "Isa" saja yang mengetahui hari kiamat ?

Jadi siapa sebenarnya nabi pembawa Injil anak dari Maryam Itu yang bernama Isa ?
Untuk memahami jawabannya, anda harus meneliti Al Quran dengan benar, dan harus extra hati-hati dari gangguan syaitan yang menggoda pikiran anda, karena ayat tersebut mengarah kepada figur dari sosok asli nabi pembawa Injil dengan NAMA Yesus Kristus yang sangat dibenci syaitan !

Maka untuk mengetahui hal tersebut pembaca agar memperhatikan penjelasan di dalam Al Quran (terjemahan Dept Agama RI / th.1984 pada catatan kaki no:184 untuk penjelasan surat 3 ALI IMRAN :7), yang menerangkan bahwa makna ayat Mutasyabihaat hanya Allah yang tahu ! Contohnya "tentang hari kiamat !"

Dengan demikian kalau anda sudah paham maksud contoh tentang ayat mutasyabihat "seperti hari kiamat" : maka anda dapat memahami bahwa Yesus Kristus (tersamar dengan nama Isa) saja yang tahu tentang hari kiamat /Q.43:61, maka tidaklah salah kalau mengacu pada ayat mutasyabihat (ayat samar) bertujuan menjelaskan secara samar bagi pembaca Al Quran bahwa nabi pembawa Injil yang sesungguhnya "Dia / Yesus" adalah gambaran dari Allah yang sejati !

Hal inilah yang sangat sulit sekali diterima bagi orang yang membaca Injil Kristus tidak dengan hikmat Allah / apalagi bagi orang yang tidak pernah membacanya sama sekali.

Oleh karena itu kalimat Tidak ada Tuhan selain Allah jika langsung ditelan mentah-mentah maka menjadi boomerang bagi yang bersangkutan sehingga menolak untuk datang / percaya kepada "Yesus Tuhan", sehingga hal itu merupakan “harga mati” yang tidak bisa ditawar lagi.
Dengan demikian orang tersebut sampai ajal menjemputnya akan tetap menyangkal Tuhan Yesus Kristus yang empunya kuasa akan hari berbangkit ! Kekeliruan tersebut berakibat menimbulkan "arogansi bathin" pada pribadi yang bersangkutan terhadap Tuhan yang keberadaanNya bathin !

Dengan demikian jelas dalam Al Quran itu sendiri digambarkan bahwa: orang-orang tersebut akan menyesal di hari kiamat karena "celaka" tidak dibangkitkan olehNya. Mereka dalam alam kubur berkata : Aduhai celakalah kami !”
.
Oleh karena itu sampai kapanpun kalau anda tidak meneliti dengan dilandasi ilmu pengetahuan sejarah dari kitab Taurat dan Injil, maka pikiran anda akan sulit bahkan dengan keras hati tetap
menyangkal bahwa Anak Manusia Yesus Kristus yang tercatat di dalam sejarah, yang pernah “hidup” berdampingan dengan manusia adalah "Tuhan kita"! Sekalipun mulai sekarang anda membaca dan meneliti Injil Kristus jika tidak kembali pada fitrah diri dan ketulusan hati, maka hal itu akan tetap sulit untuk bisa percaya begitu saja bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, sebab sejak anda lahir dari awalnya sampai dewasa anda hanya membaca dan mendalami Al Quran saja !

Yang perlu di ingat bahwa semua orang yang percaya Yesus Kristus adalah Tuhan karena memandangnya setelah Dia bangkit, sedangkan orang Mu’min jika memandang Yesus Kristus hanya manusia yaitu sebelum Dia bangkit, hal itu disebabkan Al Quran hanya menggambarkan sosok “seorang nabi dengan Injilnya” yang berarti hanya manusia biasa saja karena menyinggung “Injil” jadi asumsi pembaca:“Isa adalah Yesus


Sehingga sudah sekian lamanya / bertahun-tahun, pikiran anda "terpola / tertanam" pengertian bahwa sosok nabi pembawa Injil dengan "nama Isa hanya manusia biasa !" Pengertian tersebut membawa dampak yang “permanent” bagi semua pembaca Al Quran, jadi bagaikan “terkesima” dengan gambaran manusia biasa saja, sehingga apapun penjelasannya tentang kisah dan sabda Yesus Kristus di Injil akan sia-sia.
Itulah sebabnya anda yang hanya membaca Al Quran saja akan sangat sulit untuk percaya kepada Tuhan Yesus yang  kisahNya tertulis di Injil disaat Dia menyamar sebagai manusia !


Oleh karena itu sekarang timbul pertanyaan yang tidak pernah kita tanya pada siapapun !
Siapakah yang menjadi durhaka dan kafir setelah Al Quran diturunkan ? (Q.5:68)
Jawabnya : Karena "Allah Maha Adil" maka tidaklah mungkin orang yang tidak pernah menyentuh atau tidak tahu menahu tentang Al Quran menjadi kafir apalagi durhaka !

Oleh karena itu mulai saat ini pelajarilah Al Quran dengan teliti disertai membaca “Injil Kristus” dengan tulus hati, agar kita tidak durhaka dan kafir sehingga menambah kesedihan rasul Muhammad seperti yang sudah dikatakan Allah sendiri pada surat 5. AL MAAIDAH ayat 68 !

Itulah penjabaran singkat berdasarkan "fakta" yang ada.
SEMUA TERSERAH PADA PRIBADI ANDA MASING-MASING !



Perlu dipahami lagi !

Sejak  Al Quran diturunkan, kemudian kisah nabi pembawa Injil tidak memakai nama asli (Yesus Kristus yang sudah tertulis 600 tahun sebelum ada Al Quran) maka hampir semua  pembaca Al Quran terpola dalam pikirannya bahwa sosok nabi dengan nama Isa hanya gambaran seorang manusia biasa saja seperti kita. Sehingga semua pembaca Al Quran sulit untuk mengakui bahwa sejak bangkit, sekarang  dan nanti  Yesus Kristus  sudah disebut  “Tuhan dan juru selamat manusia”,  jadi jelas  mulai saat itulah terjadinya penyangkalan / penolakan untuk menyebut "Yesus Kristus adalah Tuhan"!
Jadi tidak diherankan sampai dengan hari ini penyangkalan / penolakan tersebut hanya datang dari  para pemegang kitab Al Quran saja !

Penyangkalan tersebut tidak dapat disalahkan semata bagi pembacanya, sebab dalam Al Quran berisi pernyataan dari “Isa” sendiri  tentang larangan dirinya  untuk disembah, yaitu  “Isa” berkata: bahwa aku hanya hamba sama seperti kamu.

Jadi pernyataan “Isa” tersebut memang benar dan nyata bahwa apa yang tertulis dalam Al Quran  merupakan jejak rekam dari  perkataan  Yesus Kristus sendiri  kepada salah seorang muridNya yaitu Yohanes, yang tertulis dalam kitab Wahyu.22:9, sebuah  kesaksian dari kisah nyata yang memang dialami oleh Yohanes sendiri.

Disinilah bagi semua orang yang membaca Al Quran, jika menelan mentah-mentah pernyataan dari “Isa” sendiri yang  tertulis di Al Quran atau perkataan dari “Yesus Kristus” sendiri yang tertulis di kitab Wahyu.22:9, maka jelas bagi orang Mu’min / Islam yang hanya baca Al Quran menjadi  tidak mau bahkan menolak mentah-mentah untuk menyembah Yesus Kristus, begitu pula orang Kristen-pun banyak yang bingung akan pernyataan yang dikatakan Yesus Kristus sendiri dalam kitab Wahyu di ayat tersebut !

Jadi  ketidak pahaman tentang  hal itu tidak perlu diherankan sebab hampir semua orang apapun agamanya kalau membaca kitab suci hanya mengandalkan pikirannya sendiri yang tidak lain hanya dari sudut pandang dunia nyata saja, sehingga sulit untuk membedakan antara yang zhahir dan yang bathin.


Coba kita perhatian tentang pernyataan “Isa” di Al Quran dan perkataan Yesus Kristus di kitab Wahyu:

1. Pernyataan  dari  Isa  yang tertulis di Al Quran memang sama dengan apa yang dikatakan Yesus  bahwa diriNya  tidak boleh disembah, berarti kesaksian  oleh  Yohanes di kitab Wahyu  dibenarkan dalam kitab  Al Quran (Itulah salah satu bukti kebenaran Al Quran surat 12:111).

2.  Inilah yang perlu dipahami, bahwa memang pernyataan Isa di Al Quran terlebih dahulu sudah dikatakan oleh Yesus Kristus (600 tahun sebelum ada Al Quran).  Tetapi perkataan tersebut waktu itu diucapkan kepada Yohanes pada saat  roh jiwanya dibawa malaikat untuk bertemu Yesus Kristus  yang posisiNya  sudah berada di Sorga, sehingga pada saat Yohanes tersungkur di depan kaki malaikat untuk menyembahNya, maka Yesus Kristus-pun berkata "melarang diriNya untuk disembah", sebab di Sorga  disisi  "Dia (Yesus)"  ada  "Allah Yang Maha Tinggi”!

( Ket: Mengapa Yohanes tersungkur / terjatuh ? )
( Sebab tidak layak baginya untuk mendekati Yesus Kristus yang sudah berada di Sorga Yang Maha Suci ! )


Contoh ilustrasi: Jika anda seorang warga suatu daerah kemudian diundang oleh seorang gubernur yang bersangkutan untuk datang ke “Istana Negara”, disaat anda sampai di Istana kemudian berjumpa dengan gubernur  tersebut (yang telah "berjanji") untuk melakukan hormat kepadanya, maka jelas gubernur tersebut  berkata untuk melarang anda hormat kepadanya karena saat itu  di  “Istana Negara”  ada sosok “Presiden” yang lebih tinggi jabatannya.

Itulah ilustrasi yang menggambarkan mengapa Yesus melarang diriNya untuk disembah, jadi kalau kita asal baca saja semua kitab tanpa didasari hati yang tulus dan teliti maka kita tidak memahami  kebenaran dari duduk persoalan yang  sebenarnya nyata.

Jadi pada waktu itu kalimat tersebut yang diucapkan  “Yesus Kristus”, membuktikan kebenaran bahwa Yesus Kristus  telah diberikan kuasa di dunia dan akhirat yaitu: berkuasa terhadap roh jiwa stiap manusia (disaat ajal) untuk dibawa ke-tempat yang telah dijanjikanNya / di akhirat (tertulis di Matius.28:18 & Yohanes.14:3 serta tersirat di Q.3:45 & Q.23:29). Tentang perkataan tersebut jika memang ucapan dari  Yesus Kristus sendiri yaitu "melarang diriNya disembah” hal itupun merupakan “pemberitahuan tersamar” bahwa:   Adanya dua oknum yaitu “keberadaan Dia / Tuhan dan adanya keberadaan Allah Sang Haliq” tersirat di Q.7:206 & Q.26:213.

Dengan demikian apa yang telah tertulis di Al Quran bahwa “Isa” berada disisi Allah karena dia saja yang tahu hari kiamat (tersirat di Q.31:43 - Q.43:61), hal itu untuk membenarkan bahwa Yesus Kristus berada di sebelah kanan Allah Bapa di sorga.
Oleh karena itu kesaksian Yohanes di kitab Wahyu bermakna nubuat / yang akan terjadi dan untuk membuktikan pesan dan janji dari Yesus Kristus yang pernah dikatakanNya pada saat "Dia" masih hidup berdampingan dengan manusia di dunia nyata.
(di Yohanes 14:1-3) :
Janganlah gelisah hatimu;  percayalah kepada Allah percayalah juga kepadaKu.


Jadi jelas  bagi orang yang sudah paham akan kedua kitab tersebut, berpendapat bahwa: sebagian ayat ayat penting dalam Al Quran yang menyinggung tentang “isa” (gambaran Yesus) tidak bertentangan dengan Injil.

Akan tetapi karena semua ayat Al Quran yang bertujuan membenarkan isi dari Injil (kitab sebelumnya) bersifat samar-samar yaitu tertulis hanya sepenggal saja kalimat dari ayat Injil, maka bagi umat yang tidak mau membaca Injil, ayat-ayat tersebut bisa menimbulkan kekeliruan dan bisa menimbulkan keraguan bahkan menyangkal atau kafir kepada Tuhan Yesus Kristus.

Hal itu tidak diherankan sebab sudah tersirat di dalam Al Quran  di Q.5:68; Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) akan menambah kedurhakaan dan kekafiran…. .




Sekali lagi diIngatkan !
Kita tahu bahwa Allah Maha Bijak maka tidak akan mungkin mengadakan / meng izinkan kitab-kitabNya yang ada sampai sekarang akan membuat manusia di muka bumi ini menjadi berselisih dikarenakan Kitab-kitabnya saling bertentangan !

Akan tetapi hal itu terjadi dikarenakan sifat ego manusia yang dipengaruhi ghaib yang jahat sehingga timbul keangkuhan diri: "akulah yang paling benar", oleh karena itu maka timbulah kekeliruan dalam hal memandang kitab Al Quran dan kitab Injil jadi bertentangan !
.Maka jika hati anda tidak tulus dan tidak teliti serta hati-hati dalam membaca kitab Al Quran serta membaca kitab Injil begitu pula sebaliknya, akibatnya sangat mudah sekali timbul kekeliruan dalam pikiran anda masing-masing !
Jadi karena kekeliruan pikiran anda sendiri sebagai orang Mu'min / Islam sehingga timbul prasangka buruk maka bisa "memfitnah Injil yang sekarang adalah palsu!"
Begitu pula sebaliknya karena kekeliruan pikiran anda sendiri sebagai orang Kristen sehingga timbul prasangka bahwa "Al Quran bagaikan boomerang terhadap Injil !"

Kekeliruan dari semua pihak akibat tanpa melihat latar belakang kenyataan dari sejarah dizaman yang bersangkutan, maka perdebatan selalu terjadi tanpa kesudahan !

Ditambah lagi sifat manusia apabila memandang kitab yang diyakini oleh orang lain selalu dari sudut pandang kitabnya sendiri, sehingga timbul "pembenaran diri !", yang berakibat fanatisme sempit pada diri yang bersangkutan apapun agamanya, dengan demikian sulit untuk menciptakan komunikasi dua arah yang bertujuan saling bicara dan mendengar dengan dilandasi hati yang tulus / jiwa yang besar.
Hal itulah yang tidak disadari sehingga melampaui batas kodrat diri sebagai manusia, sebab kita semua tahu bahwa "Allah Maha Tahu !" akan sejarah masa lampau.

Dimana semua kitab sudah ada ribuan tahun yang lalu, jadi mengapa kita tidak mengakui bahkan harus mendustai adanya fakta tentang ayat-ayat Al Quran yang secara tersamar mendukung kebenaran tentang "Ketuhanan Yesus Kristus" pada kitab sebelumnya / Injil !
Jadi di zaman sekarang perdebatan bertambah-tambah rupanya akibat dari
"manusia'lah yang terlampau tahu !" dari pada "Allah Yang Maha Tahu !"
Kalau keliruan tersebut selalu terjadi bagi hampir semua orang di dunia ini dikarenakan manusia merasa "akulah yang paling benar !", maka kekuatan ghaib jahat / syaitan akan bergembira, sebab tidak akan mungkin terciptanya suasana kehidupan "damai di bumi ini bagaikan gambaran di sorga" yang selalu didambakan umat manusia !

Oleh karena itu setelah Al Quran diturunkan: Kalau ada orang  Kristen  yang telah membaca Al Quran kemudian membantah tentang kisah sosok nabi pembawa Injil dengan "nama Isa" di dalamnya karena tidak sesuai dengan Injil Kristus, hal itu adalah suatu “kebodohan” orang yang bersangkutan karena orang tersebut tidak tahu duduk persoalan dasar sehingga ikut terkecoh dengan "nama" tersebut.


Sebab “nama” Isa secara hakiki tidak bisa disamakan dengan "nama" Yesus !
Karena hanya di dalam "nama asli" Yesus Kristus ada kuasa di alam ruh !





Jadi karena Allah Maha Tahu kepada "nama" siapa yang "HAK !".
Maka kisah sosok dengan "nama Isa"di Al Quran tidak akan sama dengan
kisah tentang sosok "nama Yesus" saperti di Injil, dengan demikian Al Quran pun tidak melampaui batas dari Injil, karena hal itu menyangkut  Hak” akan wewenang Ke'Illahian dari "nama Asli" yang bersangkutan.
Dengan demikian jelas bahwa Al Quran untuk mengisahkan kembali tentang sosok / tokoh utama yang tertulis di Injil tidaklah mukin memakai nama Yesus Kristus”.
Sebab memang tidak layak lagi Yesus Kristus setelah bangkit disebut nabi”.
Karena Dia sesungguhnya adalah Tuhanmu!


Begitu pula setelah Al Quran diturunkan kalau ada  orang Mu’min / Islam memper-masalahkan  tentang keTuhanan Yesus Kristus di Injil, hal itu adalah  “kecerobohan” yang bersangkutan karena lalai terhadap Q.5:68 himbauan untuk membaca Injil, atau yang bersangkutan tidak mempunyai pendirian sehingga termakan isue "katanya Injil yang sekarang palsu !", sehingga yang bersangkutan sampai kapanpun tidak memahami bahwa "Allah Yang Maha Tahu" pasti ada maksud dan tujuan tertentu yang dilandasi dari sejarah terdahulu sehingga Al Quran memakai "nama Isa Al Masih !”.


Oleh karena itu dari kedua belah pihak baik Kristen maupun Mu’min / Islam harus tahu duduk persoalan dasar tersebut yang tidak lain:
Siapa tokoh dengan “nama” Yesus Kristus di dalam Injil !
Siapa tokoh dengan “nama” Isa Al Masih di dalam Al Quran !



Walaupun kedua nama tersebut (“Isa atau Yesus”) untuk satu sosok pribadi,
tetapi “kharisma” dari masing-masing nama tersebut berbeda !
Karena Kitab Suci berhubungan dengan kuasa Allah / Tuhan yang keberadaannya adalah "Ruh Yang Maha Suci" / “Maha Kudus”.
Maka masalah  bunyi dari  “sebuah nama” sangat berperan dalam “Alam ruh / ghoib !”.

Hal itu sudah tertulis di Yohanes 4:24; Allah itu Roh dan barangsiapa yang menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran.



Jadi semua orang tanpa terkecuali harus sadar akan hal tersebut !
Sebab memperdebatkan antara Isa dan Yesus adalah kesia-sian  bagi semua pihak.


Jadi dapat disimpulkan bahwa kitab Al Quran sejak awal diturunkan di jazirah arab merupakan sarana "pelajaran" tentang misteri Allah yang sarat dengan "peringatan", dan bertujuan memberikan kebebasan bagi orang "Mu'min" yaitu orang-orang berpikiran "netral" yang berserah diri kepada Allah, untuk menilai yang mana yang benar antara "Yahudi" dan "Nasrani" setelah Yesus Kristus kembali ke asalNya Sorga!

Oleh karena bermakna pelajaran tentang misteri Allah maka Al Quran memberikan "rambu-rambu peringatan" yang merupakan juga sebuah prediksi (tersirat di Q.3:7).
Rambu-rambu "peringatan" tersebut sangat penting.

Sebab kalau orang yang mempelajari Al Quran mempunyai penyakit di dalam hatinya yaitu condong kepada kesesatan maka orang tersebut akan mengikuti ayat "Mutasyaabihaat" tanpa menggunakan "akal" !, sehingga mereka menilai bahwa keduanya antara "Yahudi dan Nasrani" tidak ada yang benar yaitu salah semua !

Jadi jelas karena sampai pada hari ini hampir semua orang mu'min hanya membaca Al Quran saja, maka semua orang mu'min hanya tahu bahwa nabi pembawa Injil bernama Isa adalah manusia biasa, hal itulah yang menimbulkan kekeliruan terhadap penilaian segala ayat-ayat yang bermakna "peringatan" di dalamnya, sehingga beranggapan bahwa ayat-ayat "peringatan" tersebut hanya untuk orang nasrani / Kristen karena salah mempertuhankan manusia, sehingga menuduh orang nasrani telah menduakan Tuhan !


Walaupun demikian tuduhan tesebut bisa dimaklumkan karena semua orang mu'min belum mengenal siapa Tuhanmu itu, akan tetapi hanya tahu sebatas Allah adalah Tuhan.

Dengan demikian ketidak tahuan tersebut maka semua ayat-ayat “mutasyabihat” di dalam Al Quran masih merupakan “misteri”, sehingga bisa  menjadi bumerang bagi semua orang mu'min yang masih hidup di dunia, akibatnya "ikut menyangkal" Tuhan Yesus Kristus yang berkuasa di hari kiamat untuk membangkitkan semua orang yang "tidak menyangkalNya !".


Jadi yang perlu dipahami supaya tidak menimbulkan kekeliruan tersebut, yaitu kita harus tahu bahwa Injil adalah kisah nyata tentang kehidupan Yesus Kristus, sedangkan Al Quran baru diturunkan 600 tahun kemudian setelah Injil, maka jelas bahwa Al Quran hanyalah merupakan kisah sekilas dari figur/sosok nabi pembawa Injil dengan nama Isa, oleh karena itu di dalam Al Quran tidak terdapat pesan-pesan dan janji-janji dari Isa itu sendiri, apalagi janji-janji yang menyangkut wewenang keIllahian seperti yang telah dikatakan Yesus Kristus di dalam Injil !

Oleh karena itu salah satu tujuan Al Quran secara tersamar adalah memberikan penerangan kembali bahwa "Putera Maryam bernama Isa" adalah sosok nabi pembawa Injil, dengan demikkian Al Quran menegaskan kembali bahwa apa yang tertulis di dalam Injil adalah "benar-benar perkataan manusia Yesus disaat ada di dunia", yang dicatat dan disusun kembali oleh murid-muridNya sehingga menjadi sebuah "kisah kehidupan Yesus Kristus" berikut sabda dan janji-janjiNya yang menyangkut unsur keselamatan manusia di akhirat sehingga merupakan "kabar gembira!".
Karena merupakan sebuah "kisah nyata maka bisa disebut karangan" walaupun demikian bukan berarti dikarang-karang atau rekayasa ! Hal itulah yang harus dipahami.

Dengan demikian jelas seperti apa yang sudah tersirat di Q.36:69 bahwa Al Quran itu suatu pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, sehingga begitu pentingnya Al Quran diturunkan setelah 600 tahun Injil beredar di jazira arab, karena dizaman itu sudah banyak kaum yang membangkang terhadap "berita gembira / Injil !".


Kalau pembaca blog ini sudah menyimak dengan teliti hubungan ayat-ayat Al Quran terhadap Injil, maka kita akan tahuAyat-ayat tertentu dalam Al Quran bertujuan untuk membuktikan secara tertulis bahwa “Yesus Kristus adalah Tuhan kita”, sebab di dalam Injil  tidak ada tertulis pengakuan dari Yesus dengan gamblang “Akulah Tuhan!”


Jadi karena Allah Maha Tahu supaya semua orang mu'min berpikir tentang ayat-ayat bermakna "peringatan" yang memberikan gambaran akan hukuman di akhirat kelak akibat menyangkal "Tuhanmu" yang berkuasa atas hari berbangkit, oleh karena itu jenis ayat-ayat tersebut jelas sebagai peringatan bagi orang yang tidak mau membaca Injil !


Kalau anda sudah menyimak penjabaran diatas sampai akhir, maka anda akan tahu bahwa hanya ada dua kemungkinan keputusan yang diambil oleh setiap pribadi” yang mengkaji / membaca Al Quran sambil membaca Injil, yaitu :

1. Yang bersangkutan bisa mengetahui siapa yang selalu disebut 'Tuhannya yang tidak lain adalah "Yesus Kristus", sehingga percaya bahwa "Dialah" yang menguasai hari berbangkit untuk mengumpulkan semua orang yang percaya kepadaNya.

2. Yang bersangkutan bisa menyangkal bahkan menghujat "Yesus Kristus" Tuhannnya yang berkuasa untuk membangkitkan semua orang yang tidak menyangkalNya.

Walaupun demikian sesungguhnya kemungkinan yang kedua tersebut sangat kecil terjadi kalau tidak di interfensi dari awal dengan isu bahwa Injil yang sekarang "katanya palsu".


Maka dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang mengkaji Al Quran dapat meng hasilkan “pilihan yang sempurna” dari dalam hatinya apapun pilihannya: baik percaya atau menyangkal terhadap Tuhannya yang berkuasa atas hari berbangkit.

Jadi yang perlu dipahami makna masing-masing antara kedua kitab yang kerapkali dipertentangkan yaitu:
Sesungguhnya Al Kitab itu menggambarkan kisah perjalanan kehidupan umat manusia  sejak dunia dijadikan sampai dengan saat ini.
Kitab Al Quran menggambarkan tujuan akhir perjalanan kehidupan seorang manusia sampai kelak di akhirat, akibat hasil dari pilihannya sewaktu hidup di dunia, maka tidak diherankan ayat-ayatnya banyak bermakna anjuran dan peringatan bagi si pembaca




Ket:
Kalau kitab Al Quran menyatakan bahwa nabi Isa disalib berarti:
 “ Allah Bukan Maha Tahu
Sebab kalau nama Isa di Al Quran disalib berarti memfitnah kisah nyata dari sosok nama Yesus Kristus yang tertulis di Injil.

Oleh karena itu berulang-ulang tertulis bahwa  Allah Maha Tahu !”
Maka tidak mungkin kisah dalam Al Quran menyatakan “nabi pembawa Injil” bernama Isa telah disalib, sebab 600 tahun sebelum Al Quran ada, yang disalib adalah nama asli yang sudah terlebih dahulu tertulis di Injil yaitu Yesus Kristus.

Alasan yang lebih penting harus dipahami yaitu:
Karena Al Quran diturunkan untuk mengulangi kembali kisah sekilas dari gambaran para nabi dengan kitabnya, dengan demikian secara tidak langsung Al Quran membuktikan bahwa mulai disaat itu sampai dengan saat ini memang sudah tidak layak lagi nama Yesus Kristus disebut: “nabi Yesus dengan Injilnya !”
Dengan demikian tidak diherankan kalau nama nabi pembawa Injil dalam Al Quran berubah dengan nama samaran yang disebut “Isa putra Maryam”. 

Jadi kalau kita meyakini Al Quran wahyu Allah maka tidaklah mungkin ada kesalahan dalam hal yang “Hak”, yaitu  kepada / atas nama siapa (kisah asli) yang menyangkut dengan wewenang ke IllahianNya akan dinyatakan / diberikan !
Itulah sebabnya karena “Alah Maha Tahu” maka tidak satupun ayat Al Quran yang menyatakan bahwa “nama nabi Isa” akan datang / turun ke dunia pada akhir zaman !
Sebab yang “ber-Hak” datang adalah sosok “nama yang berstatus Tuhan”
Oleh karena itu hanya tertulis di kitab Hadits saja bahwa Isa akan turun ke-dunia pada akhir zaman, sebab keterangan tersebut hanya merupakan perkataan rasul Muhammad.

Jadi kita harus paham siapa Yesus dalam Injil dan siapa Isa dalam Al Quran.
Walaupun kedua nama tersebut untuk satu tokoh yang berhubungan dengan Injil tapi kita harus perhatikan bahwa orang yang sudah membaca Injil dan percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya, sehingga yang bersangkutan percaya janji dari anak Maria yang bernama Yesus  (tersirat di Wahyu.22:12) yaitu; Sesungguhnya  Aku  datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya.

Karena mayoritas pengikut rasul Muhammad dari awalnya sudah meremehkan Al Quran (tersirat di Q.25:30) sehingga tidak akan mau membaca Injil walaupun sudah dihimbau dalam ayat Q.5:68. Maka pengikut rasul Muhammad mayoritas menyangkal Yesus Kristus sebagai juru selamat yang berkuasa atas Surga dan Bumi. Oleh karena itu beliau mengatakan bahwa Isa anak Maryam akan datang diakhir zaman bukan untuk membagikan upah (seperti kepada para pengikutNya) melainkan Isa (figur Yesus) akan datang sebagai “Hakim” diantaramu !
Karena di Al Quran tidak tertulis bahwa Isa akan datang di akhir zaman , maka perkatan rasul  membuktikan bahwa beliau sudah membaca Injil.
Ingat sosok “Hakim” menjatuhkan hukuman!  Itulah “kalimat peringatan” yang tidak dipahami.




Catatan: Di-awal ayat-ayat Al Quran diterima oleh rasul Muhammad disaat itu hanya ada pemahaman Islam” (yang tertulis di Al Quran) yang artinyaTunduk / patuh berserah kepada Allah”,  dimana kelompok orang-orang "Islam" disaat itu berpikiran "netral" belum terpengaruh ajaran apapun sehingga tidak berpihak kepda Yahudi maupun Nasrani, dengan demikian "Islam" disaat itu belum menyangkal "Yesus Kristus" karena tidak tahu menahu tentang hal itu.
Maka disaat itu orang-orang "netral" tersebut disebut:  kaum Mu’min, dengan demikian disaat itu belum ada  “ Umat Islam yang memegang syariat” berdasarkan kitab Al Qur’an dan Hadits seperti saat inisebab jelas disaat itu (di awal itu) belum tersusunnya kitab Hadits.

Oleh karena itu sekarang ini kalau kita mau membahas / mengkaji ayat-ayat Al Quran secara hakiki maka kita harus menanggalkan segala atribut diri dengan kata lain kembali kepada “fitrah diri” masing-masing dengan dilandasi hati yang tulus dan pikiran jernih / netral.

Hal itu yang harus dipahami !


Kalau saja kita sebagai pembaca / pengkaji Al Quran tidak memahami makna tujuan diturunkannya  Al Quran dizaman itu, bahkan kalau kita tidak memahami pengertian “Islam” yang tertulis pada ayat-ayat Al Quran (sebelum ada kitab Hadits), maka hal itu akan menimbulkan kerisauan pada diri kita sendiri  (karena fanatisme / “aku yang benar”) sehingga bisa  keliru dalam memandang keyakinan terhadap orang lain.
Hal inilah yang terjadi disaat sekarang ! 



Jadi hal ini yang harus dipahami bagi siapa saja tanpa terkecuali yaitu :

Bahwa setiap orang yang mengkaji Al Quran adalah pertarungan diri terhadap pengaruh dari kekuatan dunia lain (ghoib) untuk mengambil keputusan secara pribadi.

1. Bahwa setiap orang yang mengkaji Al Quran disertai dengan Injil mempunyai hak apakah mau percaya dengan pendapatnya : bahwa “Isa Al Masih” yang tertulis di Al Quran sesungguhnya hanyalah figur dari  Yesus Kristus di Injil yang telah diberi kuasa atas Dunia dan Akhirat / Sorga dan Bumi, dan yang telah kembali ke AsalNya (Sorga)
kemudian akan datang kembali ke Dunia sebagai Hakim Yang Adil
sehingga yang bersangkutan mengakui bahwa “Dia”  Yesus Kristus adalah Tuhan !

2. Dan setiap orang sekalipun mengkaji Al Quran disertai dengan Injil, mempunyai hak untuk menyangkal mentah-mentah dengan pendapatnya : bahwa Isa Almasih dengan Injilnya yang dikisahkan di Al Quran adalah manusia biasa sehingga orang yang bersangkutan berkeras juga bahwa Yesus Kristus-pun yang ada di Injil bukan Tuhan !
Hal ini tidak diherankan apalagi bagi orang mu’min yang tidak mau membaca Injil,
sehingga tidak akan ada peluang untuk memahami siapa Isa dan siapa Yesus Kristus ?

Karena Allah Maha Adil maka segala keputusan untuk memilih :
mau percaya atau menyangkal adalah “hak” bagi setiap orang yang mengkaji Al Quran.
Hal itu sudah ditegaskan bahwa Al Quran adalah kitab yang “hak” dari Allah
agar manusia bebas memilih segala petunjuk yang terdapat di dalamnya.


Ingat !
Tulisan ini bukan ditinjau hanya dari satu sisi saja !
Karena dasar dari tulisan ini untuk menjelaskan bahwa Al Quran membenarkan kitab sebelumnya yaitu kitab Injil (tersirat di Q.12:111) .



Jadi untuk mengikuti  ayat-ayat “muhkamaat atau mutasyaabihaat” (Q.3:7)
terserah pribadi setiap orang  yang telah mengkajinya, dengan demikian untuk
percaya atau menyangkal kepada Tuhan yang telah diberi kuasa di dunia dan akhirat
adalah hasil pilihan yang “sempurna” karena murni dari dalam hatinya.

Oleh karena itulah mengapa di dalam Al Quran ditegaskan :
bahwa Islam adalah agama yang disempurnakan dan masuk Islam tidak ada paksaan
bagi semua orang mu’min ?
Hal itu membuktikan karena tanpa paksaan maka apapun pilihannya sempurna !
Dengan demikian kita harus sadari hal tersebut, karena dapat dibuktikan hampir semua orang mu’min yang mengaku “Islam pemegang syariat” kenyataannya sempurna dalam hal penyangkalan terhadap sosok Yesus Kristus yang telah diberi kuasa oleh Allah diakhir zaman supaya membangkitkan semua orang (yang percaya) untuk dikumpulkan.

Jadi semua terserah pembaca apapun pilihannya, karena :
Iman mu menyelamatkan mu


Oleh karena itu Al Quran memang harus dikaji dengan disertai membacaInjil Kristus” dan bukan asal dibaca saja, maka sepantasnya Al Quran hanya layak bagi orang pandai yang barhati tulus dan berpikiran "netral", sebab orang tersebut menggunakan "akal sehat" dalam mengkajinya ! Sehingga suatu saat orang tersebut akan mengetahui makna dari "kebenaran" yang hakiki di dalamnya.
Jadi hal itu jelas bahwa membaca Injil bagi semua orang mu'min mutlak harus dilakukan, sebab tanpa membaca Injil maka bagaimana mungkin para pembaca Al Quran bisa membuktikan bahwa Al Quran membenarkan kitab sebelumnya / Injil !
tersirat di Q.12.YUSUF : 111.


Q.12 YUSUF : 111 yaitu; Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi
membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.


Karena “Allah Maha Tahu” maka tidak heran hal tersebut sudah terprediksi di dalam Al Quran itu sendiri, seperti sudah tertulis di Q.38:88.


Al Quran surat 38. SHAAD :88,
Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran beberapa waktu lagi.

.
Ayat Q.38:88 merupakan jawaban bagi setiap pembaca yang sudah memahami tulisan dalam blog ini, sehingga sekarang sudah mengetahui bahwa Al Quran membenarkan kitab sebelumnya / Injil !

Makna dari ayat diatas (Q.12:111) jelas sudah terjawab dari kenyataan yang ada sekarang ini, bahwa hampir semua pembaca Al Quran bukannya membenarkan kitab sebelumnya / Injil, melainkan memfitnahnya tanpa bukti yang sah dengan tuduhan "palsu". Sehingga berakibat para pembaca Al Quran tidak mau memahami siapa Yesus Kristus yang sesungguhNya yang tertulis di Injil, berarti dengan sengaja menolak untuk percaya kepada "Dia / Yesus" yang ber-hak memilih siapa saja yang tidak menolakNya untuk dibangkitkan dari kubur pada hari penghakiman !

Oleh karena itulah sekali lagi perlu di’ingat dan diperhatikan:  kalau seseorang menyangkal “Dia/ Yesus Kristus” yang berada di sisi Allah serta telah diberi kuasa atas Sorga dan Bumi, maka dihari penghakiman nanti di dalam Al Quran surat 25:23 sudah memberikan gambaran bahwa segala amal perbuatan yang bersangkutan akan sia-sia.


Hal itu sudah tersirat di surat.25 AL FURQAAN :23, yaitu;
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.


Coba perhatikan sekali lagi ayat Q.25:23 diatas !
Mengapa dalam ayat tersebut tersirat hanya menyinggung soal prilaku perbuatan terhadap hubungan sesama manusia dan lingkungannya, yaitu dengan tertulis “amal yang mereka kerjakan”? dan tidak menyinggug soal ibadah yang dikerjakan ?

Walaupun amal adalah bagian dari ibadah, tetapi ibadah itu sendiri lebih condong kepada penyambahan kepada Allah dalam bentuk ritual.
Oleh karena setiap agama mempunyai tata cara ibadah yang saling berbeda untuk menyembah Allah Sang Haliq, tetapi jelas pada dasarnya semua agama mengajarkan kebajikan yaitu  lebih dominan yang berhubungan dengan perbuatan.

Oleh karena itu isi dari ayat di Q.25:23 menjelaskan: walaupan  manusia telah mengerjakan amal perbuatan baik dengan ikhlas, tetapi segala perbuatannya  tergambar sia-sia bagaikan debu berterbangan! Hal itu dikarenakan sewaktu orang yang bersangkutan hidup di Dunia tidak mau percaya Wewenang yang sudah diberikan Allah kepada Yesus Kristus (yang berada disisiNya untuk membangkitakan semua orang). Sehingga apapun amal perbuatan yang dikerjakan orang tersebut tidak akan sampai dihadapan Allah karena tidak ikut dibangkitkan oleh Yesus Kristus (yang telah berjanji  dengan tujuan supaya ikut mendapatkan hak-pahala  dari Allah “Yang Maha Adil”).

Jadi Q.25:23 makna isinya merupakan kebalikan dari apa yang sudah tertulis di dalam Al Kitab / di YAKOBUS.2, yaitu:  isinya ditujukan bagi mereka yang tidak melakukan perbuatan walaupun sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamatnya!

YAKOBUS.2:17&26
17- Demikian juga halnya dengan iman: jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
26- Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati


Itulah ayat-ayat dalam Al Quran dan Alkitab yang mempunyai tujuan memperingatkan manusia sesuai dengan apa yang belum diketahuinya.

Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa:
- Rasul Muhammad dengan Al Quran memberikan peringatan bagi mereka yang belum mengenal Tuhannya, supaya jangan sia-sia amal perbuatannya.
- Rasul di Al Kitab dengan pesannya memberi peringatan bagi mereka yang sudah ber iman kepada Tuhannya (Yesus Kristus)  supaya jangan sia-sia imannya.


Oleh karena itu Al Quran diturunkan di jazira arab setelah Injil dengan tujuan sebagai bahan pelajaran untuk kaum “NETRAL” yaitu kaum Mu’min dan sebagai peringatan untuk orang-orang yang kafir kepada Tuhannya!
 Sebab Allah itu Esa jadi tidaklah mungkin Allah mempunyai cara yang berbeda untuk menyelamatkan jiwa manusia di akhirat.



Jadi kalau diteliti dengan mendalam dari beberapa ayat-ayat Al Quran terhadap Injil, maka ayat-ayat  yang tersamar di dalam Al Quran merupakan pelajaran yang bermakna:
-Pemberitahuan /penjelasan tentang siapa Tuhanmu yang terkemuka di dunia dan akhirat.
-Peringatan akibat dari penyangkalan terhadap Tuhan yang telah diberi kuasa.
-Penegasan dan jawaban yang  membenarkan karena keraguan terhadap kitab yang  sebelumnya.
-Petunjuk kepada jalan yang lurus, yang bertujuan supaya kaum "NETRAL" / Mu'min mencari  tahu kepada siapa arah yang dituju tentang jalan itu, oleh karena itu dihimbau membaca Injil.


Itulah kebenaran Al Quran yang merupakan “hubungan tersembunyi” terhadap Al Kitab.
Jadi hanya waktu yang bisa menjawab bagi para pengkaji Al Quran untuk mengetahui dan mengakui sebuah kebenaran yaitu sesuatu yang tidak dapat disangkal lagi !





Jadi kalau tidak tahu duduk persoalannya maka perdebatan antara Al Quran dan Injil merupakan "kebiasaan" karena selalu tidak akan mendapatkan titik temu !
Akan tetapi mengkaji Al Quran disertai baca Injil Kristus, hal itu sangat "luar biasa" karena akan membuka tabir yang menyelubungi pikiran pembaca, sehingga menemui titik temu menuju kepada pengertian yang hakiki tentang  "Tuhan" Yang Esa !






Ringkasan akhir penjabaran panjang  diatas:
AL Quran diturunkan 600 tahun  setelah Injil beredar di jazirah arab, dimana semua umat manusia yang berpedoman pada kitab Al Quran meyakini bahwa Allah sendiri yang berkata-kata yang disampaikan melalui malaikat jibril.
Oleh karena itu Al Quran  bertujuan memberikan pelajaran serta peringatan kepada  semua orang awam dan kepada orang-orang Mu’min kususnya yaitu  orang-orang yang berserah diri kepada Allah tetapi belum mengenal siapa sesungguhnya “ sosok Dia” yang selalu disebut-sebut  oleh Allah dalam ayat Al Quran dengan sebutan: Tuhanmu, Tuhan kita, Tuhannya, Tuhanku !
Selain itu Al Quran merupakan pelajaran dizaman itu yang memberikan petunjuk kepada pembacanya dalam mengambil kesimpulan disaat  mengkajinya  untuk memahami antara kebenaran atau  kebohongan akibat pengaruh "ucapan orang kafir" terhadap kisah yang sudah tertulis di dalam kitab sebelumnya / Injil. Pada dasarnya kitab  Al Quran   mendukung kebenaran dari kitab sebelumnya / Injil hanya saja di sampaikan secara tersamar, dengan demikian kalau pembaca Al Quran tidak pernah membaca Injil maka tidak akan mungkin bisa membuktikan bahwa Al Quran kitab yang mendukung kebenaran dari kitab sebelumnya / Injil.
Oleh karena itu segala ayat-ayat yang tergolong samar-samar  disebut " ayat mutasyabihat", dan apabila orang yang mengkajinya mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (Q.3:7) tanpa dikaji mendalam  maka mereka akan memfitnah kisah yang ada pada kitab sebelumnya, contohnya mereka menelan mentah-mentah kalimat utama yang mempunyai "pengertian tersembunyi" seperti kalimat:  “tidak ada Tuhan selain Allah maka akibatnya secara bathin menjadi fatal karena  menyangkal Tuhannya yang akan membangkitkan yang bersangkutan, yaitu Tuhan yang bernama Yesus Kristus  yang terlebih dahulu dikenal sebelum ada Al Quran ! Oleh karena itu Allah sendiri memerintahkan kepada rasul Muhammad agar menyebut nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang (Q.76:25), dimana ayat tersebut tergolong mutasyabihat jadi untuk memahami tentang siapa nama Tuhan itu maka harus diselidiki dengan mendalam pada saat mengkajinya. Sebab Al Quran untuk membenarkan kembali kitab sebelumnya yaitu tentang sosok kisah nabi pembawa Injil tetapi bukan memakai nama asli Yesus Kristus melainkan dengan menggunakan nama samar yaitu "Isa". Karena Allah Maha Tahu maka Allah lebih tahu kepada nama siapa  yang "HAK" atas sebutan Tuhan yang berkuasa atas dunia akhirat (Q.2:91). Jadi karena Al Quran menceritakan kembali sosok nabi pembawa Injil hanya dari sudut pandang sifat raga kemanusiaan saja, maka tidak akan mungkin Allah keliru sehingga tidak mungkin melampaui batas dalam penjelasan kembali yang menyangkut / menyinggung wewenang terhadap nama asli  Yesus Kristus yang sudah terlebih dahulu tertulis di Injil. Oleh karena Allah Maha Tahu bahwa manusia enggan mengkaji dengan mendalam maka di dalam Al Quran banyak tertulis ayat-ayat bernada peringatan yaitu gambaran akan hukuman-hukuman akhirat atas konsekuensi dari penyangkalan terhadap Tuhanmu itu, bahkan ayat-ayat tersebut yang bernada peringatan bisa dibilang menteror manusia yang pembacanya, hal itu bertujuan agar para pembaca sadar mencari tahu siapa Tuhan yang sekejam itu ( contoh Q.19:71) ! Hal itu pasti tidak akan diketahui yang bersangkutan kalau tidak membaca kitab sebelumnya / Injil. Jadi kalau sekarang Injil dianggap palsu, sehingga tidak mau membacanya maka tidak akan tahu alasan tersebut diatas selama-lamanya , akhirnya hanya kebenaran siksa kuburlah yang diyakini oleh yang bersangkutan !
Dengan demikian “Imanmu menyelamatkanmu artinya kebenaran yang kamu yakini menjadi kenyataanmu. Jadi  perlu diingat: Dalam Injil Yesus Kristus diwaktu  hadir ke dunia sebagai Anak manusia berkata: Dirumah Bapaku banyak tempat tinggal, aku menyediakan tempat bagimu !

Setelah 600 tahun kemudian sampai sekarang Allah menghimbau siapa saja pembaca Al Quran agar:
Berdo’alah:  “Ya  Tuhanku,  tempatkanlah aku  pada  tempat  yang diberkatidan  Engkau  adalah  sebaik-baik  Yang  memberi tempat.”(Q.23:29)
Jadi jelas  Yesus dahulu disaat hadir kedunia sesungguhnya hanya wujudnya saja'lah  sebagai Anak Manusia jadi setelah Yesus bangkit dari antara orang mati (dimasa itu) tidak ada salahnya sampai sekarang Dia disebutan Tuhan kita , bagi yang paham !
Oleh karena itu  setelah nama sosok nabi pembawa Injil tidak ditulis dengan nama aslinya (Yesus), maka setelah  Al Quran beredar keseluruh penjuru dunia tidak diherankan  timbul perbedaan pendapat  tentang siapa Tuhan Yang Esa  (dan perlu diingat "bukan siapa Allah Yang Esa" yang diperdebatkan), perbedaan pendapat tersebut dikarenakan semua ayat-ayat Al Quran yang ada tertulis suku kata "Tuhan" tidak disertakan dengan nama jelasNya (yaitu Yesus Kristus), oleh karena di dalam Al Quran tidak tertulis inisial dari “nama Tuhan” maka kitab Al Quran disebut universal karena tidak berpihak kepada Yahudi maupun Nasrani sehingga Al Quran merupakan pelajaran terutama memberikan penjelasan kembali tentang gambaran sekilas sosok nabi pembawa Injil dengan netral, supaya dikaji oleh masing-masing pembaca untuk memilih secara bebas dari hasil penilaian ayat yang menegaskan antara makna  kebenaran maupun kebohongan, itulah cermin demokrasi (contoh; ayat tentang kebenaran Q.19:33-34 dan ayat tentang kebohongan  Q.4:156-157. Itulah yang dimaksud ayat di Q.38:88 yaitu kebenaran yang suatu saat akan diketahui pembaca Al Quran). Perbedaan pandang tersebut bukan karena kesalahan Al Quran akan tetapi diakibatkan karena manusia dalam mengkajinya tidak teliti  dan tidak disertai ilmu pengetahuan kitab-kitab sebelumnya dan tidak hati-hati terhadap gangguan yang pasti dari kekuatan syaitan yang jahat (Q.72:2), sebab sesungguhnya pembaca Al Quran kalau dilandasi dengan hati yang tulus maka pembaca akan tahu siapa sosok Tuhanmu yang harus disembah / yang telah dikatakan Allah (Q.3:18 & Q.19:65). Oleh karena itu sampai hari ini kitab Al Quran adalah kitab suci satu-satunya di dunia yang mutlak harus dikaji untuk ambil kesimpulan bagi semua orang yang berpegang pada kitab tersebut !
Jadi intinya Al Quran diturunkan pada zaman itu di daerah konflik antara kaum Nasrani yang percaya Yesus Kristus dan kaum Yahudi yang kafir kepada Yesus Kristus nabi pembawa Injil (Q.4:156), dimana ayat Al Quran pertama diturunkan hanya kepada rasul Muhammad saja jadi disaat itu hanya ada kaum “Mu’min” dan belum ada umat Islam pengikut rasul Muhammad yang menerapkan peraturan hidup berdasarkan syariat Islam  karena disaat itu belum tersusunnya kitab Al Quran dan kitab Hadits ( Hal ini yang perlu dipahami).
Oleh karena situasi konflik disaat itu maka  Allah Yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana bahwa nama nabi pembawa Injil yang bernama Yesus Kristus sudah terlebih dahulu dibenci oleh kaum Yahudi, maka unuk menghindari antipati terhadap nama tersebut semua ayat Al Quran yang mengisahkan nabi-nabi terdahulu ditulis dengan nama aslinya kecuali untuk sosok nabi pembawa Injil  memakai nama samar yaitu :Isa Almasih, dengan demikian ayat-ayat tersebut tergolong samar atau disebut "mutasyabihat”.
Sejak saat itu rasul Muhahammad diperintahkan Allah  supaya dengan susunan ayat-ayat yang diterimanya bertujuan memberikan  pelajaran dan penerangan  (Q.36:69) kususnya kepada  kaum "Mu'min" yaitu kaum yang berserah diri kepada Allah tetapi belum ber-iman kepada Tuhannya (Q.16:98-99) dan memberikan peringatan kepada kaum yang membangkan terhadap berita gembira / Injil (Q.19:97), jadi jelas pada awalnya ayat-ayat Al Quran yang bernada ancaman ditujukan kepada kaum Yahudi yang membangkang terhadap Injil / berita gembira.
Setelah berjalannya waktu sekian lama dimana ayat-ayat yang telah diterima rasul Muhammad  kemudian tersusun menjadi satu kitab yang disebut "Kitab  Al Quran". Maka mulai dizaman itu kaum Mu'min wajib  membaca "Kitab Al Quran."
  
Kenyataan yang terjadi mulai dizaman itu sampai hari ini hampir semuanya orang Mu'min yang masih berpikiran netral kemudian mereka  setelah mengkaji Al Quran mereka lebih condong untuk mengikuti / ber-iman kepada ayat mutasyabihat (Q.3:7) akibatnya “mereka” menjadi keliru sehingga menganggap hanya kaum mereka saja yang sempurna sedangkan semua kaum yang lain dinyatakan sesat  bagi mereka, memang mereka taat memuji-muji kebesaran Allah Yang Maha Agung. Karena mereka beriman kepada ayat mutasyabihat tanpa dikaji lebih mendalam maka mereka memegang pengertian harfiah saja terhadap kalimat "tidak ada Tuhan selain Allah", akibatnya “mereka” dengan sadar dan  nyata menjadi kaum yang menyangkal sosok Tuhan yang telah diberi kuasa membangkitkan semua orang dari alam kubur yang percaya kepadaNya (guna dikumpulkan untuk dibawa menuju "pengadilan Allah" pada hari penghakiman). Karena selagi masih hidup di dunia mereka menyangkal sosok Tuhan yang berkuasa  maka keadaan “mereka” pada hari kiamat "celaka" karena tidak punya pengharapan lagi untuk ikut dikumpulkan (Q.25:23) agar mendapatkan pahala atas amal ibadahnya  masing-masing dari Allah Yang Maha Adil. Dengan demikian mereka termasuk orang-orang yang merugi karena amal ibadahnya sia-sia belaka (Q.34:26) sebab tidak ada yang membawanya kepada pengadilan Allah sehingga tetap tertinggal dalam "alam siksa kubur yang kekal." Sekalipun diantara kita setelah mengkaji Al Quran ada yang sependapat dengan “mereka” maka hal itu tidak bisa dipersalahkan, karena hasil pilihan tersebut adalah “yang Hak” bagi setiap pikiran orang yang memang sesuai dengan isi hatinya. Oleh karena itu Al Quran harus dikaji berulan-ulang selama “orang yang bersangkutan” masih hidup di alam nyata/zhahir, supaya “mereka” yang telah keliru menyangkal Tuhannya menjadi sadar setelah memahami ayat-ayat yang merupakan "peringatan" (Q.68:52). Ayat peringatan tersebut nyata tersirat di dalam Al Quran itu sendiri. Dimana ayat-ayat tersebut jelas sebagai gambaran tentang keadaan “orang Mu'min yang keliru”  karena semasa hidupnya telah  menyangkal sosok Tuhan yang berkuasa atas hari berbangkit, yaitu menggambarkan pengakuan  “mereka”  setelah terlambat ada di alam kubur yang kekal (Q.36:52). Oleh karena itu kita harus sadar begitu pentingnya Al Quran diturunkan di masa itu dengan tujuan memberikan sarana pelajaran (Q.36:69) dan “peringatan” kepada orang-orang yang membangkang terhadap kitab sebelumnya yaitu “kabar gembira/Injil” (Q.19:97), akan tetapi kenyataannya hampir semua orang yang mengkajinya tidak teliti serta tidak waspada akan gangguan dari kekuatan syaitan yang terkutuk (Q.16:99-98)(Q.25:29), akibatnya makna yang hakiki dari tujuan Al Quran yang sesungguhnya menjadi terabaikan sehingga semua ayat mutasyabihat merupakan "Misteri Al Quran" selamanya bagi pembaca !
Oleh karena itu tulisan dalam blog ini mengajak para pembaca berpikir kembali, apakah kita sudah meneliti Al Quran dengan benar? Agar kita tidak keliru seperti mereka”!



Jadi hanya satu persoalan yang dihadapi oleh semua orang Mu’min.
Yaitu: Belum percaya akan anugrah dari Allah (Q.43:15), kehadiran sosok
Sang Juru Selamat
yang merupakan rahmat dari Allah yang nyata yang sudah
ditegaskan pada Q.19:21 suatu perkara yang sudah diputuskan.
Dengan tujuan agar semua umat manusia tidak ada yang tertinggal
pada saat hari berbangkit.







Jadi yang perlu dipahami bahwa dari awalnya di dalam Al Quran
"nama nabi pembawa Injil" tidak ditulis dengan "nama aslinya" / seperti di Injil.
 
Maka setelah Al Qura beredar ke seluruh dunia, mulai saat itulah timbul sebuah dilema bagi hampir semua orang yang hanya membaca Al Quran saja.
Sehingga memperdebatkan lagi
 "siapa Tuhanmu !"
 Bukan siapa Allahmu yang dipermasalahkan !

Dengan demikian kalau semua orang memahami begitu pentingnya
arti yang "HAK" dari sebuah nama disaat menyebut statusnya,
maka perdebatan antara Al Quran dan Injil tidak akan pernah terjadi lagi !
Sebab jelas sejak Al Quran diturunkan sampai hari ini bahwa: nama "Isa Al Masih"
hanya untuk nama seseorang dalam "kisah manusia suci" / nama nabi pembawa Injil.
Sedangkan sekarang dan nanti nama
 "Yesus Kristus" sebutan nama Tuhanmu !

Contoh, kalau saja nama “Isa” di Q.3:45 ditulis dengan nama asli yaitu
Yesus Kristus” seperti di Injil (memang hal itu tidak mungkin, tersirat di kitab Wahyu 22:19) ,
maka tidak akan pernah terjadi perdebatan karena jelas, tidak lagi tersamar.

Oleh karena Al Quran kitab yang Hak maka cerita tentang
Isa Al Masih tidak mungkin sama dengan kisah Yesus Kristus
Sebab Allah Maha Tahu kepada nama siapa yang berhak di sebut “Tuhan”.

Jika hal tersebut tidak dipahami
maka akan menjadi sebuah
dilema dari generasi ke generasi !

TAMAT.




Copyright ©2010 hubungantersembunyi.blogspot.com  

Terima kasih atas waktunya untuk membaca blog ini. Kalau ada waktu bacalah sekali lagi dari awal sampai akhir.

"Salam Damai".
Penulis: Pengamat prilaku manusia terhadap pengaruh kitab yang diyakininya masing-masing..


Ref: Al Quran dan terjemahannya - Dept. Agama RI. 1983 / 1984. 
         TERJEMAH HADITS  SHAHIH BUKHARI  I-IV.
         Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia. cetakan 1982.




Link Update: http://updatehubungantersembunyi.blogspot.com